Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Kecurigaan Terhadap Erika Terbukti


__ADS_3

Kecurigaan mama Fika terhadap Erika terjawab sudah. Sebelum terlelap, Loly sempat meminta kepada mama Fika untuk membuka dan membaca isi dari map yang berada di meja kerja Loly.


Brak..


Tangan mama Fika gemetar dibuatnya hingga menjatuhkan map yang berada di tangannya.


Belum sepenuhnya terbaca, sepertinya mama Fika tidak akan sanggup menyelesaikan bacaannya sampai akhir.


'Kau sangat keterlaluan Erika. Kau benar-benar sudah tidak menganggap aku, ibu dari Loly. Aku masih hidup Erika. Kau lupa itu?' Mama Fika merasa sangat hancur oleh kemarahan dan kekecewaan pada sahabatnya itu.


Dulu saat perceraian terjadi, mama Fika memang pernah berkata tidak akan lagi menganggap Erika sebagai sahabat. Namun di hatinya yang paling dalam. Nama Erika masih cukup tersimpan dengan baik. Berharap suatu saat nanti, ia akan bertaubat dan berubah menjadi seperti Erika yang dulu.


Dengan kasar mama Fika mengusap air matanya yang berjatuhan. Mengambil kembali map yang sempat ia jatuhkan karena terkejut bukan main.


'Jadi, kejadian ini bukan yang pertama kali? Kenapa Loly menyembunyikan semuanya dariku?' Mama Fika merasa sedih. Kenapa Loly merahasiakan kejahatan Erika darinya?


Mama Fika merasa hal ini tidak bisa ditoleransi lagi. Erika harus diberikan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.


Bisa-bisanya membuat nyawa Loly sebagai target andaikan tidak bisa mengambil alih LF Corp.


Satu hal yang tiba-tiba terlintas di pikiran mama Fika. Apakah manatan suaminya itu tahu semua kejahatan Erika?


Biarpun telat, sudah pasti Surya, papa Loly tidak mungkin tidak mengetahui salah satu perbuatan Erika. Surya terkenal dengan kehebatannya. Bersembunyi dari Surya bukanlah hal yang mudah.


..."*Halo.."...


"Halo, ini aku Fika*."


Surya diam, belum menanggapi. Ada apa Mantan istinya menghubungi dirinya setelah sekian lama.


"Kau tahu, Loly hampir saja kehilangan nyawanya oleh istri kesayanganmu itu, mas."


Deg.


Tidak mungkin Erika akan bertindak sejauh ini demi harta. Apalagi tujuan Erika merampas harta itu demi kepuasan nafsu bejatnya, yang seakan haus akan ...


"Jangan bercanda, Fika. Erika tidak mungkin mencelakai anakku."


Suara Surya merendah. Dari nadanya bisa diketahui jika ia tidak tahu, tapi mengapa seakan ia menyembunyikan sesuatu? Apakah benar jika Surya mengetahui sesuatu tentang rentetan tingkah jahat seorang Erika?


Huh. Kau rupanya cukup buta menilai seseorang Surya. Entah karena ambisi di waktu muda mu tidak tercapai untuk mendapatkan Erika, atau kamu memang cukup naif jika menyangkut tentang cinta.


Tapi.. Di usia yang sudah sepantasnya menimang cucu. Bukankah..


"*Jadi kau tidak percaya? Saat ini Loly sedang terbaring di rumah sakit. Dia mendapatkan luka tembak di bahunya. Jika memang kau sudah tidak peduli dengan Loly, darah dagingmu. Maka jangan salahkan aku yang tidak akan sungkan lagi menganggap mu bukan sebagai ayah kandung Loly. "


"Jaga bicara mu Fika* ! "

__ADS_1


Surya sangat meradang mendengar ancaman mama Fika yang baru sekali ini berkata dengan kata yang kasar.


Fika yang diketahui oleh Surya adalah seorang wanita yang lembut dan keibuan. Sangat sabar terhadap sirinya, sekalipun dulu belum sepenuhnya melupakan Erika.


Mendengar tidak akan dianggap sebagai ayah kandung Loly. Harga diri Surya seakan dihempaskan dari ketinggian.


"*Selesaikan istrimu ! Jika tidak, aku yang akan mengurusnya. Dan kamu, jangan harap bisa terbebas setelah itu. Aku tahu. Kau sudah menutup mata dengan kejahatan istrimu itu pada anakku."


"Loly juga anakku. Kau.."


"Buktikan jika Loly memang anakmu juga."


Tut*.


Huuuh.. Mama Fika berulang kali menarik nafas lalu membuangnya. Berbicara dengan mantan suaminya ternyata cukup menguras ketenangannya.


Loly... Kenapa kau harus melalui hari yang berat demi mama sayang.


Air mata mama Fika kembali menetes. Lalu ia usapnya lagi.


Pagi ini mama Fika akan ke rumah sakit menjemput Loly.


Syukurlah Loly tidak membutuhkan perawatan yang rumit.


Mama Fika bergegas memasukkan map itu ke dalam tasnya. Lalu keluar dari kamar Loly.


Di rumah sakit.


Setelah mengurus adminstrasi dan menebus resep obat yang sebelumnya diberikan oleh dokter, Joan kembali ke ruang rawat inap istrinya.


Memasukkan barang-barang nya ke dalam tas untuk dibawa pulang.


Klek.


Melihat Loly keluar dari toilet dengan badan segar, Joan menyipitkan matanya.


"Kenapa melihatku begitu, kak?"


"Kok sudah mandi? Bukannya lukanya masih belum boleh terkena air?"


"Oh, tadi waktu kakak pergi aku baru ingat jika luka ini bisa diberikan perban elastis. Jadi aku meminta salah satu suster untuk mengganti perban yang sebelumnya dengan ini."


"Tapi kenapa tidak menunggu ku dulu sayang."


"Aku sudah sangat gerah kak. Badanku lengket sekali. Lagian aku baik-baik saja kan?"


"Ya sudah, lain kali tunggu aku ya. Sini makan dulu sarapan mu. Setelah mama datang kita pulang."

__ADS_1


"Siap kapten."


Joan terkekeh mendengar istrinya menyebutnya kapten. Jadi teringat dengan rekan-rekannya. Sedang apa ya?


"Kapan kita ke kantor polisi kak?"


"Kamu maunya kapan?"


Ish. Joan ini. Ditanya kok baik nanya. Bikin kesal Loly saja. Selalu begitu.


"Kalau aku mau sebelum kita kembali ke rumah gimana? Aku ingin masalah ini segera selesai. "


"Boleh. Kita tunggu mama sampai dulu."


Pas sekali.


Baru saja Loly memberikan nampan pada Joan untuk dikembalikan ke nakas. Mama Fika memasuki ruangan.


Loh.. Kok mata mama Fika sembab?


Ah, ini pasti karena mama Fika sudah membaca isi map itu. Loly jadi tidak tahu harus bagaimana menghibur mamanya. Karena dia sendiri pun juga sangat kesal, bukan. Loly sangat marah dan rasanya ingin sekali mencabik-cabik orang itu.


"Bagaimana kondisimu sayang?"


"Loly sangat baik ma. "


"Benar sudah boleh pulang ini? Apa tidak dirawat semalam lagi?"


Mama Fika tidak tega melihat Loly yang masih mengernyit menahan nyeri di bahunya.


"Kata dokter, Loly sudah bisa pulang dan rawat jalan saja ma. "


"Alhamdulillah."


"Ya sudah, aku bawa barang-barang ini ke mobil dulu. Nanti kalau sudah siap, aku jemput kemari. " Pamit Joan pada Loly. Sebenarnya ia juga ingin memberikan mama Fika dan Loly waktu untuk membicarakan mengenai Erika. Ia tahu, mama Fika masih syok setelah mengetahui jika Erika sudah berulang kali membahayakan nyawa putrinya.


Lalu Joan menatap mama mertuanya. "Joan titip Loly sulu ya ma."


"Ya Jo. Mama akan menjaga Loly sampai kamu kembali."


Ah.. Bahkan suara mama Fika terdengar lirih. Tidak seperti biasanya yang sangat lembut dan enak di dengar. Kali ini seperti sedih dan marah.


Pasti mama Fika sangat kecewa.


Setelah memastikan Joan keluar dari kamar rawat. Mama Fika mulai menatap tajam putri semata wayangnya.


Loly yang ditatap begitu pun merasa sedikit gugup. Mama Fika pasti marah karena Loly menyembunyikan itu semua.

__ADS_1


"Mama tidak mau tahu alasanmu Loly. Tapi mama tidak tahu harus bagaimana. Kamu itu separuh nyawa mama saat ini. Kenapa menyembunyikannya dari mama sayang."


__ADS_2