
Hari ini Joan telah pulang dari tugasnya tanpa sepengetahuan Loly. Joan berniat memberikan surprise untuk sang istri. Apalagi besok adalah anniversary pernikahan mereka yang kedua.
Terlihat Joan menyiapkan lilin-lilin kecil yang mengeluarkan wangi aroma terapi di atas meja kecil samping tempat tidur, di meja rias Loly, juga di sekeliling kamar. Tidak lupa kelopak bunga mawar putih yang bertaburan indah membentuk love di atas ranjang yang beralaskan sprei putih. Joan sudah mempersiapkan semuanya.
Kini di tangan Joan ada cake berukuran kecil yang berbahan dasar brownis kesukaan Loly. Di atasnya dihiasi dengan cream putih dan coklat juga beberapa buah cherry merah. Ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arah kamar, Joan segera bersembunyi di balik pintu.
Klek
Pintu terbuka dari luar oleh Loly.
Loly terheran dengan suasana dalam kamarnya. Mengapa jadi banyak lilin? Oh tunggu, ada apa ini?
Sesaat Loly menghentikan langkahnya dan menyebarkan pandang ke setiap sudut kamar. Suasana yang romantis.
"Ah sayang, tidak ada kak Joan." desah Loly.
Kemudian Loly melanjutkan langkahnya lebih memasuki kamar. Dia masih belum menyadari keberadaan Joan yang sudah berpindah dari balik pintu menjadi di belakang tubuh Loly.
"Aneh." seperti ada orang lain yang mengikutinya dari belakang.
Ketika membalikkan badan Loly sangat terkejut dengan adanya Joan di sana. Tak lama air mata Loly jatuh menghiasi pipi.
Joan tersenyum manis memandangi istrinya. Memang perasaan wanita itu sensitif ya. Sedih menangis, bahagia juga menangis. Kadang juga membingungkan.
"Happy anniversary kedua sayang." JOan membuka tangannya dengan satu sisi tetap membawa kue. Tanpa menunggu lagi Loly merangsek ke pelukan suaminya.
"Happy anniversary juga untuk kakak. Maaf."
"Untuk apa meminta maaf sayang?"
"Karena aku tidak mengingat kalau kita akan anniversary." jawab Loly. Dalam hatinya merasa sangat bersalah, bagaimana bisa dia begitu ceroboh melupakan hari jadi pernikahannya sendiri. Astaga.
Joan mengecup puncak istrinya dengan kelembutan. "Tidak masalah sayang. Aku tahu kamu masih sibuk dengan LF Corp."
"Ayo kita tiup lilin ini. Sebentar lagi dia meleleh ke atas kue." lanjut Joan.
Dengan semangat, Loly segera menarik diri dari pelukan Joan.
Memposisikan diri berhadapan dengan kue berada di tengahnya. Dalam hitungan ketiga .
Fuuuh. Lilin sudah padam setelah Joan dan Loly sempat make a wish sebelumnya.
"Semoga Allah segera menghadirkan malaikat kecil di antara kami. Agar pernikahan kami semakin menguat dengan adanya dia."
***
__ADS_1
Pagi hari, di rumah Loly sudah dihebohkan dengan dua ibu mereka. Siapa lagi kalau bukan mama Fika dan mama Joan.
Mereka sangat antusias menata snack dan nasi kotak hasil pesanan catering. Pukul sembilan nanti semuanya akan pergi ke panti asuhan untuk membagikan makanan dalam rangka anniversary pernikahan anak-anak mereka. Dengan harapan semoga dengan perantara doa dari anak-anak yatim piatu kehidupan Loly dan Joan diliputi keberkahan, juga yang paling diharapkan semua orang, semoga segera diberikan momongan.
"Bagaimana ma, sudah siap semua?" tanya Loly yang memasuki ruang tengah setelah menyiapkan baju ganti untuk Joan.
"Oh sayang, kamu sudah siap? Sebentar lagi bawaannya sudah siap kok." sahut mama Joan.
"Maaf ya Loly merepotkan kalian?"
"Tidak masalah sayang. Nah sudah selesai." ujar mama Fika.
"Alhamdulillah ya jeng." mama Joan melihat ke arah mama Fika dengan senyumannya.
"Yuk kita angkut semua ke dalam mobil."
"Biar Jo saja ma. Kian istirahat saja sebentar." teriak Joan dari dalam kamarnya.
Karena Joan sudah meminta kedua ibu ini beristirahat. Maka mereka pun mengistirahatkan diri dengan duduk manis di ruang tamu sembari menikmati teh hangat buatan mbak Eni.
Brak
Mobil sudah terisi penuh dengan makanan.
Lalu semuanya pun berangkat menuju salah satu panti asuhan yang tidak jauh dari rumah mereka.
Sesampainya di panti, mereka di sambut dengan riang gembira para anak-anak penghuni panti.
"Wah mobilnya bagus ya."
"Mereka membawa apa ya?"
"Iya, mereka membawa banyak sekali."
Dari kejauhan ibu panti dengan tergopoh berjalan menyambut kedatangan tamu yang tidak lain rombongan Loly yang berisi empat orang.
"Assalamu'alaikum ibu-ibu, mbak dan mas."
"Wa'alaikumsalam bu. Maaf kami datang tanpa memberi tahu lebih dulu." jawab mama Fika. Yang disetujui oleh mama Joan, Joan dan Loly.
"Tidak usah sungkan-sungkan bu. Mari kita masuk ke dalam dulu."
Ketiga wanita berjalan memasuki area panti bersama ibu panti. Sementara Joan memindahkan makanan yang sudah dipersiapkan dari rumah dengan dibantu bapak panti dan tukang kebun.
"Terima kasih bapak." sungkan Joan.
__ADS_1
"Saya Aryo mas, dia pak Parjo tukang kebun di sini."
"Ah iya. Saya Joan. Terima kasih pak Aryo. Pak Parjo."
"Jangan sungkan mas Joan. Kami lah yang berterima kasih karena mas Joan dan keluarga telah repot-repot datang kemari."
Keduanya mengobrol seiring berjalannya menuju ke ruang tamu panti. Pak Parjo sudah lebih dulu pergi setelah menerima ucapan terima kasih dari Joan yang ia balas dengan anggukan.
"Nah kalau itu Joan, suami dari Loly." mama Fika menunjuk Joan setelah melihat sang menantu memasuki ruang tamu.
Karena merasa ditunjuk Joan pun menundukkan kepala sejenak sebagai tanda hormat.
Kini Joan sudah menduduki kursi kosong di samping Loly. Begitu pun pak Aryo yang sudah mendudukkan diri di samping bu Asih, ibu panti.
"Jadi begini bu Asih dan pak Aryo. Kedatangan kami kesini sebenarnya karena ingin berbagi saja dengan anak-anak panti. Yang kebetulan hari ini bertepatan dengan hari jadi kedua pernikahan anak kami ini." terang mama Fika yang diangguki setuju oleh mama Joan.
"Kami juga berharap anak-anak ikut mendoakan mereka. "
Bu Asih tersenyum lembut ke arah tamunya. Memang sangat sering panti asuhan didatangi para tamu yang selain hanya berbagi juga ada yang mengharapkan doa dari anak-anak panti. Karena doa anak-anak yatim itu lebih mustajab, langsung sampai pada Allah tanpa hijab atau pembatas.
"Bagaimana kalau kita menuju aula saja untuk berdoa bersama dengan anak-anak?"
Hal tersebut ditanggapi dengan antusias oleh keluarga Loly. Mereka tidak mengira kalau akan diizinkan untuk berdoa bersama di dalam panti. Sebelumnya mereka hanya sering mengundang anak-anak yatim saja ke rumah. Tapi kali ini mereka ingin berbagi langsung ke panti.
Dipandu oleh ibu Asih dan pak Aryo, semua berjalan menuju aula. Ternyata anak-anak yang tadi berhamburan di halaman sudah duduk dengan rapi menunggu kedatangan Loly.
Acara doa bersama pun dimulai. Sesekali Loly memandangi anak-anak panti yang berdoa dengan tenang. Tanpa ada yang merusuh dengan berbicara sendiri atau menjahili temannya seperti anak-anak pada umumnya.
"Masya Allah, mereka anak-anak yang spesial. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian ya anak-anak." Loly terharu melihat anak-anak panti yang dengan khusyuk mendoakan untuk Loly dan Joan. Mereka orang asing. Tidak pernah saling mengenal tetapi ketulusan anak-anak ini mampu menggetarkan hati Loly dan kedua ibu yang mendampinginya dari rumah, mama Fika dan mama Joan.
Acara doa pun selesai.
Makanan sudah dibagikan merata tanpa terlewat seorang pun. Semuanya kebagian.
Loly dan Joan berdampingan memandangi anak-anak yang sedang makna bersama sambil bercanda ria dengan sesama temannya.
"Mereka lucu, aku juga ingin mempunyai anak."
Hingga sepanjang perjalanan pulang. Loly menjadi sangat pendiam. Membuat mama Fika, mama Joan dan Joan menjadi bingung harus bagaimana.
"Apa Loly jadi menginginkan anak ya?"
Batin mama Fika.
Memang ya, ikatan batin ibu dan anak itu tidak bisa terpisahkan. Bahkan ibu bisa mengetahui isi hati anak tanpa diberi tahu.
__ADS_1