He Mine

He Mine
Episode 14


__ADS_3

Di dalam kamar Senja, Evan memandangi satu persatu foto foto yang di tempelkan Senja ke dinding. Itu adalah foto semasa waktu Senja masih kecil, Banyak sekali kenangan dia bersama Bunda nya, ada pun juga foto dia bersama Ela.


” Duduklah ” Suruh Senja yang melihat Evan sedari tadi berdiri


” Kenapa tidak kau simpan di album saja Sayang ” Tanya Evan yang mendaratkan dirinya di sofa


” bukankah akan rusak jika di pajang seperti itu ” Sambung Evan


” Sepertinya itu akan jauh lebih indah, menghidupkan suasana yang mati ” Jawab Senja


Saat di dalam kamar Evan dan Senja dengan berbincang-bincang pintu kamar Senja terketuk.


Tok....tok...tok..


Senja pun bangkit dan membuka pintu kamar nya, Di Sana Arnold sudah berdiri dan membungkuk badan nya.


” maaf nona jika saya mengganggu, Apa tuan ada di dalam ” tanya Arnold


” Ada, kenapa? ” Tanya Senja


” Ada satu hal yang harus saya laporkan nona ” Jawab Arnold


” Sebentar ” Ucap senja dan langsung masuk untuk memanggil Evan


” Van, kau di panggil Arnold ” Ucap Senja


Evan menoleh dan segera berdiri.


” Kau mandilah, setelah ini jam makan siang ” suruh Evan


Senja pun mengangguk dan Evan segera keluar menemui Arnold.


” Ada apa ” Tanya Evan


” Tuan ada yang harus saya sampaikan ” Jawab Arnold ”


” Kita turun, kita bicarakan di taman belakang ” Ucap Evan


Arnold mengangguk dan mengikuti langkah Evan yang menuju taman belakang.


Setelah sampai di taman belakang Arnold pun memberikan informasi nya.


” Mobil yang berada di tempat kejadian kemarin adalah mobil tuan Deon ” Lapor Arnold


” Deon? Kakak tiri Senja ” Tanya Evan


” Iya tuan, saya sudah mencari tahu dari plat yang berada di vidio tersebut, dan sudah di pastikan bahwa mobil itu milik tuan Deon ” Jawab Arnold dengan yakin


” jadi dia yang akan mencelakai istriku ” Tanya Evan


” Saya tidak tau pasti apa tujuannya tuan, tapi informasi yang saya cari itu adalah memang milik tuan Deon ” Jawab Arnold

__ADS_1


” Arnold selidiki terus ” Perintah Evan


” Apa yang harus di selidiki Evan ” Tanya Mayang yang


Evan dan Arnold pun menoleh ke belakang, mereka berdua melihat nyonya Mayang sedang berdiri di tengah pintu. Mayang pun mendekat ke arah mereka.


” Apa yang harus di selidiki Van ” Tanya Mayang sekali lagi


” Tidak ada Bu, hanya saja kita sedang membicarakan tentang kerjasama perusahaan dengan perusahaan lain ” Jawab Evan berasalan


” Tapi kenapa harus diselidiki, apa perusahaan mereka memiliki niat yang tidak bagus ” Tanya Mayang


” Tidak Bu, hanya saja saya harus memastikan kembali, karena ini tentang perusahaan, bekerjasama dengan perusahaan yang baru di bangun dan pastinya memiliki banyak resiko. Saya tidak mau ada masalah saja ” Jawab Evan


” Ibu mengerti, aahh iya sekarang cepat lah bersiap siap makan siang sudah hampir selesai. Arnold kau pun harus ikut makan siang bersama ” Ucap Mayang mengingatkan


” Baik Bu - nyonya ” Jawab Evan dan Arnold bersama


Mayang pun masuk kembali dan meninggalkan mereka berdua. Evan pun bernafas lega, mereka pun juga segera masuk. Evan masuk dan segera menyusul istrinya


...----------------...


Kini mereka semua sudah berkumpul di ruang makan, Semua nya sudah duduk manis di tempat nya masing-masing sedangkan pelayan sedang menyiapkan semua menu makan siang.


” Bu, besok aku akan mengenalkan seseorang kepada ibu ” Ucap Deon


” hhmm siapa yang kau kenalkan ” Tanya Mayang


” Wanita? ” Tanya Mayang dengan sumringah


” Perjelas dulu bagaimana dengan usaha mu, bagaimana kejelasan nya ” Saut Bagas


” apa yang harus di perjelas sayang, Dia sudah di tipu. Dan jangan menyalahkan putra mu ” ucap Mayang membela Deon


” Putra? ” Tanya Senja sambil tersenyum


Mayang mendengar ucapan Senja hanya melihat anak tirinya.


” Apa yang salah dari ucapan Deon, dia hanya mengenal kan seseorang yang sedang dekat dengannya, dan lagi Deon sudah berusia 35 tahun, biarkan dia mempunyai pikiran untuk pasangan hidup nya ” Ucap Mayang


” Aku tau, tapi bagaimana dia bisa memimpin keluarga nya, kalau dia saja tidak bisa memimpin hidup nya ” Jawab Bagas


Senja yang mendengar ucapan ayahnya hanya tersenyum.


Semua kini melakukan makan siang bersama, Ela dan Prayoga pun turut ikut hadir di meja makan.


...----------------...


Malam pun telah tiba kini saatnya semua orang istirahat di kamarnya masing-masing. Namun tidak dengan Senja, Senja justru kini sedang berada di taman belakang, Dia sedang menari menari, menikmati setiap alunan musik yang dia dengar di earphone nya. Musik yang begitu indah dan tarian yang begitu anggunnya.


Senja meneteskan airmata nya, dia begitu terbawa suasana, dia sedang merindukan ibundanya.

__ADS_1


” Bunda, apa bunda melihatku dari atas sana, apa bunda juga selalu mendengarkan ku saat aku menangis. Lihatlah bunda, bukankah dulu kau ingin sekali melihat putri kecilmu ini menari, Aku sedang menari saat ini bunda, aku menari dengan indah bukan?. Apa bunda benar benar tidak merindukanku, kenapa dulu bunda pergi sendiri, kenapa tidak membawaku bunda, kenapa tidak mengajakku. Kenapa harus bunda, kenapa bukan aku ” ucap Senja dalam hati yang masih terus menari


” Apakah kehidupan ku seperti ini yang bunda inginkan ,lihatlah diriku, hidup dengan penuh penyesalan, hidup penuh dengan kesedihan. Bahkan sekarang hubungan ku dengan ayah pun semakin menjauh. Kenapa bunda membiarkan wanita itu menggantikan posisimu. ” Sambung Senja yang mengakhiri tariannya.


Senja pun membuka matanya dan melihat Ela yang sudah berdiri membawakan sebotol air untuknya.


” Sudah ringan ” tanya Ela yang menyodorkan botol minuman


” Lumayan ” Jawab Senja dan mengambil botolnya


Senja pun meneguk airnya, dia mengusap keringat nya dan air matanya.


” Kau merindukan nyonya Rantih ” Tanya Ela


Senja hanya tersenyum.


” Besok ulang tahun tuan Bagas. Bagaimana lusanya aku menemani mu untuk ke makam nyonya Rantih ” Tawar Ela


” Tidak perlu ” Jawab Senja


” Senja, sudah 2 tahun kau tidak mengunjungi nya. Apa kau tidak merindukannya ” Tanya Ela


Mereka berdua pun duduk di kursi taman.


” Bahkan selama 2 tahun ini dia tidak datang ke dalam mimpiku, apa dia juga tidak merindukan ku” tanya Senja balik


Ela faham apa yang di rasakan Senja, Merindukan seseorang yang sudah tidak ada adalah sebuah rindu yang menyakitkan.


” you're okay? ” Tanya Ela


Senja pun menoleh ke arah Ela, dia tersenyum.


” Kau tau kebohongan apa yang paling sering di katakan El , Aku tidak apa apa ” Jawab Senja tersenyum


” Kenapa kau tersenyum ” Tanya Ela


” Karena itu jauh lebih baik dari pada menangis ” Jawab Senja


Ela pun menggenggam tangan Senja.


” Jika kau ingin menangis, menangis lah, jangan malah tersenyum. Apa begitu saja kau tidak mengerti ” Ucap Ela


Senja pun yang dari tadi mencoba menahan air matanya pun segera menangis, Dia menunduk kan kepala nya, dan menangis tersedu-sedu. Dia membiarkan air mata nya mengalir begitu saja. Ela hanya diam dan membiarkan teman nya itu menangis.


” Menangislah, aku tau betapa beratnya itu semua. Senja kau harus tau, Kau sudah berhasil hidup selama ini, kau tumbuh dengan baik, dan pasti nyonya Rantih di atas sana Bangga denganmu ” Ucap Ela yang ikut menangis


Senja pun semakin menangis, Ela yang berada di samping nya hanya bisa mengusap usap punggung Senja yang menunduk.


Di atas balkon sana Evan melihat betapa sakitnya di posisi Senja saat ini, Evan memang tidak pernah tau rasanya, karena dia tumbuh dan hidup penuh dengan kasih sayang orang tuanya.


” Aku tidak tau jika menjadi mu sesakit itu Senja ” Ucap lirih Evan

__ADS_1


Bersambung...........


__ADS_2