
Setelah mendapatkan izin masuk, Bagas masuk untuk menemui putrinya. Bagas berjalan ke arah putrinya, Dia melihat putri cantiknya itu tertidur sangat pulas.
” Sayang bangun ya, apa kau tidak lelah jika tidur terus ” Ucap Bagas
Bagas mengelus rambut Senja yang terurai dengan penuh kasih sayang, Ini adalah pertama kali dia bisa berdekatan dengan putri nya setelah 16 tahun lamanya. Dia terus memandangi wajah putri nya tampak sangat tenang.
” Rantih jika kau memang ingin menghukum ku maka hukumlah aku rantih, Kau bisa membawa ku kau bisa menjemput ku, tapi aku memohon padamu, Jangan kau mengajak anak kita terlebih dahulu, Aku tidak ingin dia pergi dan aku masih belum memperbaiki hubunganku dan dia ” Ucap Bagas dalam hati
Bagas menghapus air matanya ketika melihat seorang perawat masuk.
” Permisi pak jam kunjungan telah selesai, Mohon untuk keluar agar pasien bisa beristirahat ” Ucap Perawat tersebut
” Iya, saya mohon pantau terus keadaan putri saya. Lakukan apa pun tindakan medis untuk menyembuhkan nya ” Ucap Bagas
” baik pak ” Jawab Perawat
” Ayah keluar dulu ya sayang, Ayah akan menunggumu di luar ” Pamit Bagas
Bagas keluar dari ruangan ICU . Mayang yang melihat Bagas itu langsung berdiri dan menghampiri suaminya.
” Bagaimana sayang ” Tanya Mayang
” dia masih saja tidur ” Jawab Bagas menahan tangisannya
” Senja akan sembuh ” Ucap Mayang
Di dalam hati Mayang dia sangat puas saat ini, rencana nya untuk menyingkirkan Senja sebentar lagi akan tercapai, Dia tidak perlu membuat drama untuk menjadikan putra nya calon pewaris keluarga Maheswari.
” Di mana Deon ” Tanya Bagas
” Deon sedang di luar, tapi aku sudah mengabari nya ” Jawab Mayang
” Ayah ” Panggil Evan yang mendekat
” Sebaiknya ayah pulang saja, Biarkan saya disini menemani Senja ” Pinta Evan
” Tidak, aku akan terus berada disini untuk menemani putriku ” Tolak Bagas
” Tapi ayah kondisi ayah saat ini sedang tidak sehat ” ucap Evan
” Sayang.. Benar kata Evan, kita pulang ya ” Bujuk Mayang
” Kalau ku ingin pulang, Maka pulanglah ” Kekeh Bagas
Rita yang melihat perdebatan antara anaknya dan besannya itu segera berdiri dan mendekat.
” Tuan Bagas pulanglah, Ingat kondisi anda, saya tau pasti anda adalah orang pertama kali yang ingin menemani Senja disini, tapi anda juga harus ingat kesehatan anda, Bagaimana kalau terjadi apa apa dengan anda, anda justru tidak akan bisa menemani Senja ” Rita berusaha membujuk
” Benar tuan Bagas pulanglah, biarkan kami yang menjaganya. Aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu ” Mahendra ikut menimpali
Bagas yang mendapatkan banyak bujukan itu pun akhirnya menurut saja, Dia pulang bersama Mayang. Di sana Ela, Evan, Arnold, Steven dan kedua orang Evan berjaga-jaga di sana. Steven yang melihat mama nya kedinginan dia membuka jaket nya untuk menutupi tubuh mama nya.
” Aku akan pergi membeli kopi dulu ” Ucap Steven
” Kau tidak ikut kak ” Tanya Steven ke Evan
” Tidak ” Jawab Evan singkat
Rita yang melihat jarak antara kedua putranya itu hanya diam, ini bukan saat nya untuk memberikan kedua anak nya itu ceramah panjang lebar. Rita sendiri sudah tau cerita awal kerenggangan kedua putra nya itu, Rita sendiri pun tidak habis pikir dengan akal Evan yang mencemburui adiknya.
__ADS_1
” stev ajak Ela saja, Belikan dia makanan di luar sana ” Ucap Rita
” Tidak perl__”
” Tidak ada penolakan El ” Rita memotong ucapan Ela
” Ayoo ” Ajak Steven
Steven dan Ela berjalan keluar, Arnold yang melihat Ela berjalan dengan adik angkatnya itu merasakan sesuatu di hatinya.
” Kau jangan terlalu keras dengan adik mu Van ” Ucap Rita
” Aku tidak keras ma ” Jawab Evan
” Tapi kau sedang memberikan jarak kepada adikmu ” Ucap Rita
” Itu karena dia sendiri ” Ucap Evan
” Van, mama yang meminta Steven menemui Senja, mama berharap dia bisa menjadikan Steven teman curhat nya dan siapa tahu itu akan membantumu berdekatan lagi dengan Senja ” Jelas Rita
” Tapi nyata nya Steven sendiri yang semakin dekat Senja ma ” Ucap Evan
” Iya itu wajar Van, Mereka berdua itu saudara ipar ” Ucap Rita
” Tapi Evan tidak suka ma ” Ucap Evan
Mahendra yang melihat perdebatan antara istrinya dan putranya itu hanya membuang nafas, dia tidak berani membuka suaranya karena itu akan semakin memperkeruh perdebatan mereka.
Sedangkan Arnold masih dengan pikirannya sendiri. Dia merasa ada sesuatu yang aneh di hatinya ketika melihat Steven dan Ela, dia pun berencana untuk menyusul mereka berdua.
” Mama, papa aku akan menyusul Steven ” Ucap Arnold yang melangkah
” Jika ada yang ingin kau beli kau hubungi saja adikmu ” Sambung Rita
” Tidak apa apa ma sekalian aku ingin ke toilet ” Ucap Arnold
Arnold kembali melangkah kan kakinya untuk menyusul Steven dan Ela. Dia keluar ke arah kantin berjalan menyusuri setiap rumah sakit. Setelah sampai di kantin, dia melihat Steven dan Ela berdiri di depan warung, Arnold pun segera mendekat.
” Kau pesan apa ” Tanya Steven ke Ela
” Aku kopi hitam saja ” Jawab Ela
” Kau tidak memesan makanan ” Tanya Steven
” Tidak, aku hanya butuh caffein saat ini ” Jawab Ela
” Oke ” Ucap Steven
” pak saya pesan dua kopi hitam di minum sini dan tiga lagi di bungkus sama teh hangat satu di bungkus ” Ucap Steven memesan
” Tiga kopi disini saja pak ” Ucap Arnold yang melangkah di belakang mereka berdua
” Yang satu cukup satu sendok gulanya ” Sambung Arnold
Steven dan Ela menoleh ke belakang melihat Arnold telah menyusul mereka berdua.
” Kau disini kak ” Tanya Steven
” Iya, Aku butuh udara segar ” Jawab Arnold berbohong
__ADS_1
” Tapi untuk siapa yang gula nya hanya satu sendok, Aku rasa kau tidak suka minum atau makanan yang pahit ” ucap Steven bingung
” Itu untuk Ela, dia tidak suka kopi manis ” Ucap Arnold
Steven yang melihat ekspresi datar Arnold itu bingung lalu dia melihat ke arah Ela.
” Ada apa ini sebenarnya ” Tanya Steven dalam hati
Mereka bertiga pun segera duduk di bangku kantin untuk menunggu pesanan mereka. Steven yang ingin duduk di sebelah Ela segara di tarik tangan nya menjauh oleh Arnold, Arnold segera duduk di sebelah Ela, Steven yang mendapat kan perilaku dari kakaknya itu hanya melongo, akhirnya Steven duduk tepat di hadapan Arnold.
” Kau tidak menemani kak Evan? ” Tanya Steven
” tidak, sudah ada mama dan papa di sana ” Jawab Arnold
” Tumben sekali, Biasanya manusia ini paling setia mendampingi seorang yang bernama Evan ” Ucap Steven
” Stev, saat ini kak Evan hanya membutuhkan ruang untuk sendiri " Ucap Arnold
Steven yang mendengar ucapan Arnold hanya mengangkat kedua bahunya.
” El, kau pesan makan saja agar perut mu tidak kosong ” Ucap Steven kepada Ela
” Aku tidak lapar " Ucap Ela
” Lapar atau tidak lapar sebaik nya kau makan ” Ucap Steven sedikit memaksa
” Kenapa kau cerewet sekali Stev ” Ucap Arnold
” Aku? Cerewet? " Tanya Steven
” Aku tidak cerewet kak, itu semua demi kebaikan Ela sendiri ” Jawab Steven
” Kalau begitu biarkan saja, dia sudah mengatakan tidak ingin makan ” Ucap Arnold
” iya, tapi aku tidak mau melihat dia sakit ” Ucap Steven
” Siapa kau sampai tidak ingin melihatnya sakit ” Ucap Arnold
Ela yang melihat Steven dan Arnold berdebat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, Ela yang sudah pusing memikirkan keada Senja malah semakin pusing mendengar perdebatan mereka berdua.
” Kau urus saja kehidupan mu ” Ucap Arnold
” aku sudah mengurangi kehidupan ku sendiri ” Ucap Steven yang masih tetap mendebat Arnold
” Lalu kenapa kau masih mengurusi kehidupan orang lain ” Ucap Arnold tak mau kalah
” Aku tid___ ”
” Ya!!! ” Teriak Ela yang menghentikan perdebatan mereka berdua
” Kalau kalian masih ingin terus berdebat, pergilah dari sini dan cari tempat lain ” Ucap Ela yang sudah kehabisan kesabarannya
” Kalian hanya membuat ku bertambah pusing ” omel Ela
” Aku__”
” Kalau kau masih terus membuka mulutmu, akan ku lepas kau kedalam kamar mayat ” Ucap Ela memotong perkataan Steven
Arnold dan Steven hanya diam yang melihat wajah murka dari Ela, mereka berdua langsung tidak membuka suaranya lagi, Mereka bertiga hanya diam sampai pesanan mereka tiba.
__ADS_1
Bersambung.......