
” Apa!! ” ucap Senja kaget
” lalu bagaimana dengan keadaan Laura sekarang? ” tanya Senja panik
” Laura masih syok kak, disini aku sedang menenangkan dia bersama adiknya ” ucap Steven dari seberang
” hhmm baiklah aku mengerti, aku akan segera kesana ” ucap Senja yang mematikan panggilan nya
” ada apa sayang? ” tanya Evan yang melihat Senja panik
” Laura..mamanya Laura meninggal ” jawab Senja menangis
Ela yang mendengar kabar itu kaget, dia menutup mulutnya, Evan juga kaget saat mendengar kabar yang baru saja istrinya sampaikan. Senja segera berdiri dan menarik tangan Evan untuk bersiap-siap mengajak nya ke rumah Laura.
” ayo kita kesana sekarang Van ” ajak Senja panik
Evan yang melihat kepanikan istrinya itu segera menenangkan nya.
” sayang kau jangan panik ya, kau tenang dulu ya ” ucap Evan
” bagaimana aku bisa tenang Van, Laura saat ini pasti sedang hancur” ucap Senja
” iya tapi kau tenang dulu sayang ” ucap Evan
” aawww ” rintih Senja
Senja merasakan nyeri pada perutnya, Dia merintih kesakitan dan memegangi perutnya. Evan yang melihat istrinya merintih itu segera menuntun istri nya untuk duduk. Ela berlari ke arah dapur dan mengambilkan air putih segelas untuk Senja.
” sayang dimana yang sakit? ” tanya Evan
” perutku Van ” jawab Senja
Rita yang sedang tidur di atas terbangun saat mendengar kegaduhan di bawah, Dia segera turun dari kasurnya untuk melihat ke bawah, Saat Rita melihat Senja yang merintih kesakitan itu segera turun dan menghampirinya. Ela segera memberikan air putih yang dia bawa ke pada Evan.
” ini tuan ” ucap Ela menyodorkan segelas air putih
” ini sayang minum dulu ” ucap Evan
Senja meminumnya sedikit dan masih merintih.
” ada apa ini Van? ” tanya Rita yang sudah di bawah
” Senja merintih kesakitan ma di bagian perutnya ” jawab Evan
Rita segera menghampiri menantunya itu, dia melihat Senja dan mencoba menenangkan nya.
__ADS_1
” tarik nafas sayang lalu buang ” ucap Rita memberikan instruksi
Senja perlahan-lahan mengikuti instruksi dari mertuanya, mulai perlahan perut Senja sudah berkurang rasa sakitnya.
” Cepat gendong istrimu ke dalam kamar, dan baringkan tubuhnya di atas ranjang ” ucap Rita kepada Evan
Evan segera menggendong Senja dan berjalan ke arah kamar sedangkan Rita dan Ela mengikuti mereka berdua dari belakang. Sesampainya di dalam kamar Evan segera membaringkan tubuh Senja.
” Ada apa ini Van? ” tanya Rita
” Steven baru saja menghubungi Senja ma, dan dia mengabarkan bahwa, mamanya Laura meninggal ” jawab Evan
” apa? Meninggal? ” tanya Rita
” iya ma, Senja kaget dan memaksakan dirinya untuk kesana sekarang ” ucap Evan
” astaga ” ucap Rita yang memandang Senja menangis
” mungkin karena itu perut senja pun menjadi keram ” ucap Rita
Rita segera duduk di sebelah Senja yang berbaring, dia menggenggam tangan Senja dengan lembut.
” sayang sudah ya jangan menangis, besok saja kita kesana ya, sekarang istirahat lah agar kau dan kandungan mu tidak apa-apa ya ” ucap Rita
” kau tidak perlu khawatir nak, mama akan menghubungi Steven dan menyuruh nya untuk tetap berada di sana ya, kau jangan terlalu banyak berpikir dan stress sayang, itu tidak baik untuk kandungan mu ” ucap Rita
Senja hanya menangis, Semua yang berada di sana juga khawatir dengan keadaan Laura saat ini.
...----------------...
Keesokan harinya keluarga Mahendra segera menuju ke kediaman Laura. saat mereka sampai semua nya melihat banyak sekali orang yang hadir di sana, Senja segera turun dari mobilnya yang di bantu Evan.
Mereka semua masuk ke dalam untuk menemui Laura, Senja melihat Laura yang duduk di depan peti jenazah mamanya itu tanpa ekspresi, Laura hanya menatap Peti itu bersamaan dengan Vano.
” Lau ” panggil Senja dan Ela bersama
Laura segera menoleh ke arah Senja dan Ela dengan tersenyum, dia berdiri dan menghampiri kedua sahabat itu.
” Kalian datang ” ucap Laura tersenyum menyambut Senja dan Ela
Senja dan Ela yang melihat keadaan Laura saat ini sungguh berantakan, Laura seperti mayat hidup saat ini, menggenakan pakaian yang serba hitam dan wajahnya yang pucat.
” Terimakasih sudah datang ” ucap Laura tersenyum
” Lau kau jangan sok kuat ” ucap Ela
__ADS_1
” hhmm benar, jangan sok kuat. Menangislah jika memang kau ingin menangis ” ucap Senja
” apa yang kalian katakan ” ucap Laura membalikkan badannya
Seketika itu juga Laura segera menangis dan membelakangi kedua sahabatnya itu, Ela dan Senja segera menghampiri Laura. Ela memeluk Laura dari belakang dan sedangkan Senja mendekap Laura dari depan.
” menangislah, kita akan menutupi mu ” ucap Senja mendekap tubuh Laura
Laura segera menangis meraung-raung di dekapan kedua sahabatnya itu, suara tangisan yang keluar dari mulut Laura itu sungguh menyayat hati semua orang yang berada di sana. Steven yang duduk di dekat Vano itu pun juga melihat adik dari kekasihnya itu menangis, dia menoleh ke arah Vano yang diam dan terus menatapi peti mamanya, Steven mendekatkan diri ya dan memeluk anak laki-laki itu.
Laura mengatur nafasnya untuk berhenti dari tangisannya, Dia menghapus semua air matanya dan menatap Senja yang ada di depan nya, Laura juga menggenggam tangan milik Ela yang merangkul dirinya.
” aku baik-baik saja ” ucap Laura mengatur suara nya
” tidak ada yang merasa baik-baik saja saat di tinggal oleh orang terkasih nya Lau ” ucap Ela
” laku aku harus apa El? Menangis dan membiarkan adik ku melihat ku hancur? ” tanya Laura
” itu tidak bisa El, aku harus menjadi penguat adik ku untuk saat ini ” sambung Laura
Laura segera melepaskan pelukannya dan memaksakan senyuman nya, Laura melihat ke arah belakang Ela, dan melihat kedua orang tua Steven, Evan dan Arnold yang juga hadir. Laura segera menghampiri dan menyambut mereka.
” Tante, om terimakasih sudah hadir ” ucap Laura
Tanpa banyak berkata Rita segera memeluk tubuh Laura dengan hangat, Rita pun juga menangis dan merasakan betapa hancurnya Laura saat ini.
” jangan kau tahan tangisan mu nak, menangis lah agar rasa sakit mu sedikit berkurang, jangan kau tahan-tahan ” ucap Rita
Laura yang mendapatkan pelukan hangat dari ibu kekasihnya itu kembali menangis, Laura saat ini memang benar-benar hancur dan dia benar-benar sudah tidak sanggup untuk berpura-pura kuat.
” mama kenapa meninggalkan ku dengan kakak sendirian? ” tanya Vano pada peti mati mamanya
Steven, Senja dan Ela yang berada di dekatnya itu segera menoleh ke arah Vano, dengan Cepat Steven meraih tubuh anak lelaki itu dan juga memeluknya.
” kau sabar ya, mama mu sekarang sudah berada di tempat yang indah ” ucap Steven
” kenapa harus tempat lain? Apa di dunia ini tidak ada tempat yang indah untuk mama? ” tanya Vano yang sudah mulai menangis
Semua orang yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut anak lelaki itu pun juga menangis, Senja merangkul tubuh Ela dan menangis di pelukannya. Sedangkan Laura terus menangis meraung-raung di pelukan Rita.
Suasana di rumah milik Laura kini penuh dengan tangisan, Linda yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dan meninggalkan anak-anaknya itu meninggal bekas luka cukup menganga di hati anak-anaknya. Hardi sendiri tidak hadir di sana, bukan tidak hadir tetapi Laura memang tidak mengabari papanya tentang kematian Linda.
Laura membiarkan papanya itu hidup dengan penyesalan nya kelak. luka batin yang selama ini mamanya rasakan itu akan beralih kepada Hardi itulah yang Laura saat ini pikiran. Dan pastinya juga luka atas kepergian Linda akan membekas selamanya di ingatan Laura dan Vano adiknya.
Bersambung......
__ADS_1