He Mine

He Mine
Episode 71


__ADS_3

Evan, Laura dan Ela diam saat mendengar pecahan kaca lagi, Sunyi dan hening mereka dengar dalam kamar. Evan segera kembali mendobrak pintu dengan sisa-sisa tenaganya.


” Sayang ” panggil Evan


” aku mohon buka pintunya yaa... ” ucap Evan memohon


Ela segera mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi nomor Arnold, dia dengan cepat meminta Arnold datang dan membawa kunci cadangan kamar hotel milik nona Senja.


” Sayang aku mohon bukalah, Kita bicarakan dengan baik-baik ya sayang ” ucap Evan


” tolong sayang ingatlah dengan kandungan mu, ingatlah anak kita sayang ” Sambung Evan


Tidak lama Arnold, Steven, Deon, Aurel, kedua orang tua Evan dan Bagas ,Mayang hadir di sana. Dengan cepat Arnold membuka pintu itu dengan kunci cadangan yang dia bawa. Pintu telah terbuka dan Evan segera masuk. Dia melihat Senja yang duduk meringkuk di bawah dengan keadaan yang sangat memperihatinkan. Dengan pelan-pelan Evan mendekati Senja yang menutup wajahnya dengan tangannya.


” Sayang ” Panggil Evan pelan


Senja segera mengangkat kepalanya dan melihat Evan, Senja menatap Evan dengan tangisan kecil.


” Van, aku harus bagaimana? ” tanya Senja pelan


” Aku mohon tenanglah sayang ” ucap Evan


” suara bunda. Suara bunda terus terdengar dari telingaku, Van tolonglah aku ” ucap Senja menangis


Saat Evan sudah mulai mendapatkan kepercayaan dari Senja, dan dia yang sudah mulai bisa lebih mendekati Senja, tiba-tiba Bagas masuk dan menangis.


” Senja ” panggil Bagas


Senja segera melihat Bagas yang ada di belakang Evan Segera mengambil pecah vas itu dan menggenggamnya dengan erat dan melukai telapak tangannya. Darah segar terus bercucuran dari telapak tangan Senja.


” Senja!! ” panggil Semua orang


” Mundur..” ucap Senja


Senja mengangkat pecahan benda tajan itu dan meletakkannya nya dia pergelangan tangannya. Semua orang yang melihat itu takut dan khawatir dengan keadaan Senja saat ini.


Ela yang tau dengan keadaan Senja itu berusaha maju dan mencoba menenangkan nya.


” nona tolong letakkan benda itu, itu tajam dan bisa membuat mu terluka ” ucap Ela


” terluka?hahahaha Apa kau lupa El, bahwa aku sudah terluka sejak saat masih kecil. Dan luka itu tidak pernah kunjung sembuh El ” ucap Senja menangis


” nona, anda sudah hampir berhasil menyembuhkan luka itu bukan? ” tanya Ela


” iya. tapi kenapa dengan cepat dia membuat luka baru El, KENAPA?? ” Tanya Senja histeris


Evan yang melihat keadaan istrinya itu sedang keadaan kalut, mencoba untuk mencari celah agar bisa meraih tangan senja dan mengambil pecahan kaca yang berada di tangannya.


” padahal aku baru saja menerima dia dengan baik dan berusaha mencoba membuang semua luka itu, tapi kenapa dia justru menyakiti ku dengan kenyataan yang pahit ” Ucap Senja menangis


Aurel yang melihat itu tertawaan di hatinya, wajahnya yang memperlihatkan kekhawatiran terhadap Senja, siapa yang tau isi hati Aurel yang jahat. Dia tertawa senang saat melihat kekalahan dari Senja. Dan Deon yang melihat keadaan Senja saat ini benar-benar sakit, Apakah se benci itu Senja terhadap nya. Kenapa dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia adalah kakak kandungnya.


” sayang ” panggil Evan

__ADS_1


” aku mohon letakkan benda itu ya. Mari kita pulang ” ucap Evan


” Van.. ” panggil Senja lirih


” iya sayang ” jawab Evan


” aku merindukan bunda ” ucap Senja


Dengan perlahan Senja menekan kaca itu pada pergelangan tangannya, dan mulai keluar darah dari sana. Evan yang kaget dengan cepat berlari dan meraih tangan Senja untuk mengambil benda tajam itu. Senja yang mendapatkan pergerakan tiba-tiba dari Evan itu berusaha untuk mempertahankan pecahan Van itu, Senja dengan kencang nya menarik kaca itu dan...


Srettt....


Tes..tes..tes..


kaca itu mengenai kening Evan, Semua orang yang berada di sana kaget dan sekaligus ngilu. Senja yang sadar dengan apa yang baru saja dia perbuat, segera melihat benda tajam itu dari tangan dan menjatuhkannya.


” Evan!! ” panggil Rita


Senja dengan tubuh yang bergetar berjalan pelan ke arah Evan yang menoleh ke sisi lain. Evan mengusap keningnya dan melihat darah keluar dari sana.


” Van.. ” panggil Senja lirih


Evan segera menoleh ke arah istrinya, dia tersenyum saat melihat Senja telah kembali. Evan meraih tangan Senja dan menarik pelan Senja agar dekat dengan nya. Evan merasakan tubuh Senja yang bergetar hebat, dia berusaha untuk menenangkan Senja.


” Sshuuttt tenanglah sayang ” ucap Evan pelan


” aku tidak apa-apa sayang, tenanglah ” sambung Evan


” Kau berdarah, aku telah menyakiti mu ” ucap Senja lirih


” Kau berdarah Van..” ucap Senja menangis


” tidak sayang, ini tidak sakit. Kau tidak perlu khawatir ya ” ucap Evan menenangkan Senja


Evan segera mendekap tubuh Senja ke dalam pelukannya, dia mencoba menenangkan Senja. Getaran tubuh Senja masih ada, Dengan perlahan Senja menutup matanya dan jatuh pingsan. Evan segera menopang tubuh Senja agar tidak jatuh.


” Sayang... Sayang ” panggil Evan


” Arnold!! ” panggil Evan berteriak


” iya tuan ” jawab Arnold menghampiri Evan


” Segera panggil dokter untuk datang ke mansion, kita pulang sekarang!! ” ucap Evan


” Baik tuan ” ucap Arnold


Evan segera menggendong senja dan berjalan ke arah keluar, saat dia keluar dari kamar hotel, dia melihat Aurel berdiri di sana bersama Mayang, Dia menatap Aurel dengan sangat tajam.


” Aku akan mencari tau siapa dalang di balik ini semua. Jika aku menemukannya, maka aku sendiri yang akan menghancurkan nya ” ucap Evan


” Evan, Apa maksudmu? ” tanya Aurel berpura-pura bingung


” Steven!! ” panggil Evan

__ADS_1


” iya kak ” jawab Steven


” segera siapkan mobilnya, dan segera cari tau siapa dalang di balik ini semua ” ucap Evan


” iya kak ” jawab Steven


Steven segera berlari ke arah keluar dan segera menyiapkan mobil untuk Evan. Laura dan Ela mengikuti Evan dari belakang. Laura pun juga segera menyusul adiknya dan mengajak nya untuk pergi ke mansion milik Evan. Rita dan Hendra pun juga ikut menyusul ke mansion milik putranya.


Saat sampai di mansion Evan segera membawa Senja masuk kedalam kamarnya, Dengan sangat hati-hati Evan meletakkan tubuh Senja ke atas ranjang. Evan melihat kedua luka dia tangan Senja itu pun menahan perih di hatinya. Dia memegang tangan Senja yang terluka dan mencium nya.


” Sabar sayang, Sebentar lagi luka mu akan segera di obati ” ucap Evan


Tak berselang lama dokter pun masuk dan melihat keadaan Senja, dia segera memeriksa keadaan Senja, dan setelah itu dokter segera membalut luka yang ada di tangan Senja. Di dalam kamar Evan, Evan terus memperhatikan dokter yang sedang mengobati luka Senja. Rita pun turut sedih dengan keadaan Senja saat ini.


” Bagaimana dengan keadaan istri saya dokter? ” tanya Evan kepada dokter yang telah memeriksa Senja


” Tuan, mohon maaf jika saya harus menyampaikan keadaan nona Senja saat ini. Saya rasa nona Senja saat ini tidak butuh saya, tetapi yang nona Senja butuhkan adalah dokter Psikiater ” ucap Dokter tersebut


Rita dan yang lain mendengar ucapan dari dokter itu kaget, betapa mirisnya kehidupan Senja saat ini.


” apa maksud anda? ” tanya Evan


” keadaan mental nona Senja saat ini mungkin terganggu, Dan dia membutuhkan penanganan dari dokter khusus ” jawab Dokter


” maksudmu istri ku gila? Apa kau sekarang sedang mengatai istri ku? ” tanya Evan tak terima


” Evan ” panggil Rita


” bukan begitu maksud dokter, Senja mungkin mengalami syok dan itu mungkin sedikit mengganggu mental istrimu. Apalagi sekarang Senja sedang hamil. Dokter psikiater bukan hanya untuk orang gila sayang ” ucap Rita menenangkan putranya


Evan memejamkan matanya dan benar-benar menyalahkan dirinya, Dia benar-benar gagal menjaga istrinya. Ela yang mendengar itu menatap Senja yang terpejam. Sakit yang pernah dia alami dulu, kini muncul kembali, Ela tak kuasa mendengar itu pun meneteskan airmata nya.


” saya mohon maaf tuan. tapi apa yang di katakan nyonya Rita benar, Saya mohon agar tuan tidak salah faham dengan apa yang baru saja saya sampaikan ” ucap Dokter


” iya dok, terimakasih ” Ucap Rita


” Arnold ” panggil Rita


” iya ma ” jawab Arnold


” Tolong bawa kakakmu ke depan, dia juga terluka biarkan dokter mengobati lukanya di depan. Mama akan menggantikan pakaian Senja ” ucap Rita


” Baik ma ” jawab Arnold


Arnold segera membawa Evan ke ruangan tengah dan di ikuti oleh para lelaki. Sedangkan Rita, Laura dan Ela masih berada di dalam kamar. Rita berjalan ke arah almari dan mengambil baju tidur milik Senja. Rita kembal berjalan dan menghampiri Senja yang masih memejamkan matanya. Perih sekali hati Rita saat melihat kondisi Senja saat ini, menantunya yang penuh dengan senyuman itu kini berubah menjadi wanita yang penuh dengan luka. Rita sesekali menghapus airmata nya yang keluar. Ela darah.


Dengan perlahan Ela membasuh tubuh Senja yang ada sisa-sisa darah, dia mengelapnya dengan handuk kecil yang sudah dia basahi.


” dimana Vano lau? ” tanya Rita


” vano sudah tidur tante di kamar tamu ” jawab Laura


” hhmm Baguslah, jangan bangunkan dia, kalian menginap lah disini saja. Besok biarkan sopir mengantar nya untuk berangkat sekolah. Kau hubungi Steven saja untuk sekalian membawakan seragam milik vano jika di pulang ” ucap Rita

__ADS_1


” Baik Tante ” jawab Laura


Bersambung.......


__ADS_2