
Steven kini tiba di supermarket untuk membeli buah-buahan. Kini dia sedang memilih buah-buahan yang akan dia beli, tetapi saat dia hendak membelokkan troli nya dia menabrak seseorang wanita hinga jatuh.
Bug....
” eeh maaf ” ucap Steven yang membantu orang itu
” aww, kau tidak punya mata!!! ” hardik wanita itu
Steven menubruk seorang wanita yang mungkin sebaya dengan dia, Steven mengulurkan tangan nya untuk membantu dia berdiri, tapi dengan cepat wanita itu menangkis tangan Steven.
” aku bisa berdiri sendiri " ucap wanita itu
Saat wanita itu menyingkapkan rambut nya, Steven terpana dengan kecantikan wanita itu.
” Beautiful ” Ucap Steven dalam hati
Steven terpanah dengan wanita yang saat ini sedang di hadapannya, dia tidak mengedipkan matanya dan tetap fokus dengan wajah wanita itu.
” Apa!! ” tanya wanita itu
” tidak ada ” ucap Steven tersenyum
” apa ada yang luka? ” tanya Steven memastikan
Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Steven sama sekali, dia berjongkok dan memunguti belanjaan nya yang berserakan, saat Steven hendak membantu nya, dia menoleh saat ada laki-laki yang memanggil wanita itu dari belakang nya.
” beb ” panggil laki-laki itu
Lelaki itu mendekati wanita tersebut dan membantunya, Steven yang awal nya ingin membantu itu akhirnya tidak jadi.
” maaf ” ucap Steven
” lain kali hati-hati ” ucap laki-laki itu
” ayo beb ” ajak laki laki itu pergi
Wanita itu pergi tanpa menoleh atau melihat Steven, Steven yang di tinggalkan begitu saja hanya melihat dari kejauhan, melihat kedua orang itu pergi. Dan Steven kembali melanjutkan berbelanja nya.
...----------------...
Di mansion keluarga Maheswari, Mayang sedang melihat-lihat tabloid majalahnya, dia sedang menikmati tehnya di halaman belakang, Aurel yang baru saja mandi menyusul Mayang di taman.
” Siang bu ” sapa Aurel tersenyum
” siang cantik ” jawab Mayang
” ibu sedang melihat apa? ” tanya Aurel
__ADS_1
” tidak ada rel, cuma melihat-lihat majalah saja ” jawab Aurel
Aurel beberapa hari ini memang sedang menginap di mansion Deon, itupun ajakan dari Mayang, Mayang yang saat ini sedang mood nya tidak baik dia membutuhkan teman untuk mengobrol dengannya dan Aurel lah orang yang asyik menurut nya untuk di ajak mengobrol.
” ibu ” panggil Aurel
” iya cantik ada apa ” tanya Mayang
” apa saya boleh bertanya ” tanya Aurel
” boleh, apa yang mau tanyakan ” ucap Mayang
” sebenarnya saya tidak ingin tau Bu, hanya saja saya sangat perduli dengan Deon ” ucap Aurel
” apa hubungan ibu dan Senja baik-baik saja? ” Sambung Aurel bertanya
Mayang yang mendapatkan pertanyaan itu dari Aurel diam, senyum yang dia berikan kepada Aurel luntur seketika.
” ada apa memang ” tanya balik Mayang
” tidak ada bu, hanya saja saya merasa bahwa Senja sama sekali seperti tidak menghormati ibu ” Ucap Aurel
” Mungkin karena aku ibu tirinya ” Ucap Mayang
” Saya menjadi cemas Bu ” Sambung Aurel
” cemas kenapa ” Tanya Mayang
” saya cemas bahwa nanti ibu dan Deon tersingkir ” jawab Aurel
” bagaimana pun pasti ayah Bagas akan mencantumkan nama Senja sebagai calon pewaris, lalu ketika Senja menjadi pewaris bukankah itu akan membuat nya berkuasa, dan juga bukankah itu akan membuat Ibu dan Deon tersingkir secara perlahan-lahan ” ucap Aurel
” walau pun Deon bukan anak kandung dari ayah Bagas, tetapi seharusnya Deon juga berhak kan Bu mendapatkan sedikit harta dari keluarga Maheswari ” Sambung Aurel
Mayang diam dan berpikir, apa yang dikatakan Aurel ada benarnya, bagaimana jika dia dan Deon tersingkir, dan bagaimana kelak nasib putra nya. Mayang meremas majalah yang di bawa.
” itu tidak akan pernah terjadi Aurel, karena ibu sendiri yang akan memastikan bahwa hanya nama Deon yang akan tercantum menjadi pewaris ” ucap Mayang pasti
” Ibu, Aurel akan selalu mendukung ibu dan jika perlu Aurel juga bisa membantu ibu ” Ucap Aurel tersenyum
” membantu ibu? ” tanya Mayang
” iya Bu, Aurel akan pastikan Deon dan ibu tidak akan tersingkir dari sini ” jawab Aurel
Aurel sebenarnya sudah mengetahui bagaimana hubungan Mayang dan Senja, Aurel mengetahui ketika pertama kali pertemuan dia dan Mayang, dia melihat dari mata Mayang bahwa dia sangat membenci Senja, apa lagi saat di rumah sakit, raut wajah dan tatapan Mayang mudah di baca oleh Aurel bahwasanya Mayang sebenarnya tidak menyukai kebenaran bahwa Senja selamat dari maut. Dan Aurel pun juga berpikir bahwa kejadian yang menimpa Senja itu adalah perbuatan dari Mayang. Aurel bertanya hanya ingin memastikan bahwasanya apa yang dia pikirkan itu benar, dan benar bukan Mayang memberikan respon yang tak terduga.
__ADS_1
” ibu untuk saat ini yang ibu butuhkan adalah teman, teman untuk melawan Senja dan menyingkirkan nya di dunia ini ” Ucap Aurel
” kenapa kau bisa berkata seperti itu, apa Senja pernah membuat kesalahan padamu " Tanya Mayang
” Iya Bu, Senja pernah menyerang ku dan membuat ku malu di depan semua orang, jadi aku berfikir bahwa sekarang Aurel memiliki seseorang teman untuk melawan nya, aku sendiri berfikir juga bahwa ibu adalah teman yang pas untuk melawan Senja ” Jawab Aurel
” Bu saya sangat mencintai Deon, dan saya akan melakukan apa pun untuk menjadi kan Deon pewaris di keluarga Maheswari " Sambung Aurel
” kau tidak perlu melakukan apa pun Aurel, ibu yang akan memastikan Deon akan menjadi pewaris dan aku akan menjadi pendamping nya ” Ucap Mayang tersenyum memegang tangan Aurel.
Aurel dan Mayang tersenyum bersama. Saat ini Mayang merasa bahwa saat ini sudah saat nya dia benar-benar harus menyingkirkan Senja dan dia tidak mau ada kegagalan lagi dalam rencananya.
...----------------...
Matahari telah muncul dan pagi telah datang, Senja saat ini sedang merapikan pakaian Evan yang akan berangkat ke kantor, dia dengan telaten memasangkan dasi Evan, Evan yang melihat Senja di hadapannya kini tersenyum.
” kenapa dari tadi kau terus tersenyum Van ” tanya Senja
” apa aku tidak boleh tersenyum kepada istriku ” tanya balik Evan
” iya boleh tapi kenapa kau terus tersenyum, jika ada yang melihat bukankah nanti kau dianggap gila ” ucap Senja yang telah selesai memasangkan dasi
” aku memang gila sayang, tergila-gila kepadamu ” Ucap Evan menggombal
” sudah kau jangan terlalu banyak bicara ayo kita turun dan sarapan ” ajak Senja
Mereka berdua kini turun ke lantai bawah, di sana sudah ada Ela, Arnold dan Steven yang sudah duduk manis di meja makan.
” turunlah tepat waktu kak, cacing di perutku sudah demo dari tadi ” keluh Steven
” kalau begitu kenapa kau tidak makan dulu ” Ucap Evan yang sudah duduk
” aku masih punya sopan santun kak, bagaimana mana pun ini adalah rumah mu jadi aku harus menunggu tuan rumah dulu ” ucap Steven
” kalau sudah tahu kenapa kau protes ” ucap Evan
” bukan aku yang protes tapi cacing di perut ku ” Jawab Steven menunjuk perut nya
Evan dan yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Steven, mereka semua sarapan pagi bersama tidak ada yang membuka suara sama sekali, mereka hanya fokus dengan makanan di dalam piring nya.
Evan dan Arnold telah selesai sarapan, mereka berdua langsung berdiri dan akan pergi ke kantor.
” Sayang aku pergi dulu, kau di rumah saja ya " Pamit Evan mengecup kening Senja
Senja hanya menjawab dengan senyuman.
” kau disini saja, kalau istri ku menginginkan sesuatu, kau yang harus pergi. Mengerti!! " ucap Evan Kepada Steven
Steven yang sedang makan hanya menjawab dengan mengacungkan jempolnya. Evan dan Arnold berjalan ke luar dan masuk kedalam mobil, dan menuju ke kantor.
__ADS_1
Bersambung......