
Di pemakaman kini peti jenazah milik Linda telah di turunkan ke dalam liang lahan, tangisan Laura dan Vano mengiringi pemakaman Linda. Steven terus memeluk Vano dan sedangkan Rita terus memberikan kekuatan untuk Laura. Di sana pun juga hadir keluarga Maheswari dan juga Aurel.
”Mama.... ” teriak Vano
” jangan Pergi ma... Vano belum dewasa sehingga belum membanggakan mama ” ucap Vano menangis
Laura segera menghampiri adik nya tersebut dan memeluknya, suara tangisan Laura dan Vano sungguh menyayat hati semua orang yang berada di sana.
” Sudak dek, ikhlaskan mama ” ucap Laura
” engga mau kak, kenapa mama pergi? Dimana papa sekarang? Kenapa papa tidak pulang? ” tanya Vano yang terus menangis
Sungguh sakit sekali saat adiknya menanyakan keberadaan Hardi saat ini yang tak hadir di pemakaman Linda, tetapi memang itulah niat Laura, papanya tidak ada hak untuk melihat Linda untuk terkahir kalinya.
Setelah pemakaman selesai, semua orang kembali ke kediaman Laura. Keluarga Maheswari pulang terlebih dahulu dan sedangkan kedua orang tua Evan masih berada di sana menemani Laura.
” El, tolong antarkan Vano naik ke atas kamarnya ya ” ucap Senja
” iya nona ” jawab Ela
Ela mengandeng anak lelaki itu dan menuntunnya untu naik ke atas lantai 2, sedang Laura sekarang sedang duduk bersama dengan yang lain. Rita terus berada di samping Laura untuk memberikan kekuatan padanya.
” terimakasih Tante telah menyempatkan waktunya ” ucap Laura
” hhmm iya sayang kau tidak perlu berterima kasih ” ucap Rita
” ma, pa aku harus datang ke kantor sekarang ” ucap Evan di sana
Evan menoleh ke arah istrinya itu dan berpamitan.
” kau masih ingin di sini sayang? ” tanya Evan
” iya, aku masih ingin disini menemani Laura ” jawab Senja
” senja, kau pulanglah dan istirahat, bagaimana pun kau sedang hamil ” ucap Laura menatap Senja
” aku tidak apa-apa Lau ” ucap Senja
” yasudah. Steve jaga Senja ” ucap Evan kepada Steven
__ADS_1
” iya kak ” jawab Steven mengangguk
Evan dan Arnold pergi dari sana untuk berangkat ke kantor. Tidak berselang lama Rita dan Hendra pun juga pamit untuk pulang, di sana hanya tinggal ada Steven, Senja dan Ela yang menjaga Laura bersama adiknya.
” Aku akan mengambilkan minuman lagi untuk kalian ” ucap Laura berdiri
” Lau tidak perlu, kau duduk saja ” ucap Senja
” tidak apa-apa Senja ” ucap Laura
Laura berjalan ke arah dapur dan mengambil nampan dan beberapa gelas di sana. Dia membuka kulkasnya dan terdiam saat melihat isi kulkas nya, dia melihat begitu banyak rendang yang sudah Linda siapkan di dalam kotak-kotak yang di susun di dalam kulkas, Laura masih terus memandanginya dan meneteskan airmata nya.
” apa seperti ini yang mama maksud, memasak rendang begitu banyak karena mama akan meninggalkan ku dengan Vano sendirian ” ucap Laura dalam hati
Laura segera menghapus air matanya dan mengambil air putih dingin di sana, Laura segera menutup pintu kulkas nya dan membuatkan minuman untuk Senja,Ela dan Steven.
Setelah itu Laura keluar dari dapur dan berjalan ke arah tiga orang yang duduk menunggu nya. Laura meletakkan nampan yang di bawa ke atas meja, lalu Laura duduk dan ikut bergabung dengan mereka bertiga.
” apa yang akan kau lakukan setelah ini Lau? ” tanya Ela
” melanjutkan hidup El yang pastinya ” jawab Laura
” Lalu bagaimana dengan papamu Lau? ” tanya Senja
” kenapa dengan dia? ” tanya Laura balik
” apa kau tidak akan memberitahu nya tentang mamamu? ” tanya Senja lagi
” dia akan datang sendiri, Dan pada saat itu juga dia benar-benar sudah kehilangan keluarganya ” jawab Laura
” mungkin juga secepatnya aku akan pindah dari sini ” sambung Laura
” pindah? ” tanya Senja,Ela dan Steven bersamaan
” kau pindah kemana Lau? ” tanya Steven
” kau tidak perlu khawatir Steve, aku akan masih tetep di sini. Hanya mungkin aku akan mencari apartemen untuk tempat tinggal ku dengan Vano ” ucap Laura menjelaskan
” kenapa apartemen Lau, kenapa kau tidak tinggal disini saja ” ucap Steven
__ADS_1
Senja segera menggenggam tangan Steven dan Steven pun menoleh ke arah Kakak iparnya. Senja memberikan kode dengan menggeleng kan kepalanya agar Steven tidak menanyakan tentang itu.
” Karena rumah ini penuh dengan kenangan ku bersama mama, kenangan indah dan kenangan pahit. Aku hanya ingin hidup dengan normal seperti biasanya, biarkan kejadian ini hanya menjadi mimpi buruk ku dan vano ” ucap Laura
” oohh iya kalian lanjut saja ngobrolnya, aku akan naik sebentar untuk melihat vano ” ucap Laura berdiri
Laura segera berjalan dan menaiki anak tangga untuk naik ke atas, saat sudah sampai di atas yang di lihat pertama kali adalah kamar milik mamanya. Tanpa aba-aba kaki Laura berjalan mendekati kamar mamanya dan membuka pintu tersebut, Di sana dia masih melihat tali yang mamanya gunakan untuk mengakhiri hidupnya, Laura terus berjalan dan memandangi setiap sudut kamar itu. Tatapan mata Laura terhenti saat melihat 2 kertas putih yang berada di meja rias milik Linda.
Laura segera mendekat dan mengambil surat-surat itu, dia melihat ada namanya dan ada untuk papa nya di tulisan kertas itu. Tanpa banyak basa-basi Laura segera membuka surat itu dan segera membacanya.
Untuk putri Laura tersayang
Saat kau membaca surat ini mungkin mama sudah tidak ada di sampingmu lagi sayang, Maafkan mama jika mama harus memilih jalan seperti ini. Tapi percayalah nak tidak ada maksud mama benar-benar meninggalkan mu dan adikmu. Mama hanya lelah, mama marah dan mama kecewa dengan keadaan. Maafkan mama jika mama tidak bisa lagi menopang mu nak, setiap kali mama melihat mu dan Vano, mama merasa bersalah kepada kalian, mama merasa gagal menjadi seorang ibu untuk kalian. Seharusnya mama tidak membiarkan papa kalian meninggalkan kita dengan seperti ini. Laura mama mohon kepadamu sayang jangan terus menyalahkan papa mu atas pilihan nya, janganlah terus menaruh dendam kepadanya. Laura Darah tidak akan pernah bisa terputus nak, bagaimana pun keadaannya kelak dia tetaplah papa mu dan vano. Laura mama yakin bahwa bahu mu sangatlah kuat, tidak seperti bahuku yang mudah rapuh, mama hanya meminta tolong padamu sayang lindungilah,jaga dan kasihi adikmu. Nak apa kau tau apa yang membuat ku bahagia di dunia ini? jawabannya adalah kamu sayang, Mama merasakan kebahagiaan yang benar-benar berlimpah saat melahirkan mu, Mama melahirkan seorang anak perempuan yang cantik, baik dan cerdas sepertimu. Kau adalah wanita yang kuat dan berani sayang. Terimakasih nak kau sudah benar-benar membela kehormatan ibumu di depan wanita itu, Tapi setelah papamu menikah dengan dia mama harap kau bisa menghormati dia selayaknya kau menghormati mama.
Laura terimakasih sudah menjadi anak cantiknya mama, terimakasih telah hadir dalam kehidupan mama. Jangan menangisi kepergian mama ya sayang, disini mama sudah sangat bahagia. Mama tidak akan pernah meninggalkan mu dengan Vano sendirian, mama akan terus melihat anak-anak mama dari tempat tinggal baru mama ,You are the best gift from God dear
Mama
Laura yang selesai membaca surat mama nya menangis tersedu-sedu, dia memeluk surah yang tinggalkan oleh Linda untuknya.
” bukan seperti ini yang Laura mau ma... Bukan seperti ini... yang Laura mau adalah kehadiran mama ” ucap Laura menangis
Steven yang berniat untuk menyusul Laura ke kamar adiknya itu mendengar suara tangisan kekasihnya, dia melihat pintu kamar orang tua Laura itu terbuka segera berlari dan menghampiri Laura.
Steven melihat Laura yang menangis meraung-raung itu segera mendekati nya dan memeluknya.
” heyy shutt ada apa? hmm ” tanya Steven memeluk Laura
Tapi Laura tidak menjawab pertanyaan dari Steven, dia terus menangis dan pelukan Steven
” tenang lah Lau, aku mohon jangan menangis ” ucap Steven
Tapi saat ini Laur benar-benar sudah tidak bisa di kendalikan, Laura yang merasakan sesak di dadanya itu pingsan di pelukan Steven.
” lau...Laura ” panggil Steven
Steven segera mengangkat tubuh kekasihnya itu untuk keluar dari kamar Linda, dia berjalan dan masuk ke dalam kamar milik Laura, Steven dengan hati-hati membaringkan tubuh Laura di atas ranjangnya. Steven keluar dan turun untuk mengambilkan segelas air putih untuk Laura.
Bersambung.....
__ADS_1