
Senja dan Ela saat ini duduk di kasur sebelah Laura yang tak sadarkan diri, mereka berdua menunggu Laura untuk sadar. Sedangkan Steven berada di bawah untuk menemani vano makan siang. Sudah tiga jam lamanya Laura tak sadarkan diri, Senja yang melihat Wajah pucat milik Laura itu hanya menghembuskan nafasnya.
” El ” panggil Senja
” iya nona ” jawab Ela
” apa perlu kita panggil dokter? ” tanya Senja
” iya nona, mungkin sebaiknya seperti itu ” jawab Ela
Saat Senja dan Ela sibuk akan memanggilkan memanggil dokter untuk Laura, Laura sudah sadarkan diri tetapi dia memang masih memejamkan matanya.
” tidak perlu memanggil dokter ” ucap Laura lirih
” Laura ” panggil kedua sahabatnya itu
Laura segera membuka matanya dan melihat Senja dan Ela secara bergantian, Laura melihat raut kepanikan di wajah kedua sahabat nya itu.
” aku tidak apa-apa, aku tidak perlu dokter ” ucap Laura
” tapi kau pucat sekali lau ” ucap Senja
” Senja.. Aku tidak apa, kau tidak perlu khawatir. jangan terlalu khawatir padaku, kasihan kandungan mu ” ucap Laura
” aku harus turun dan menyiapkan makanan untuk vano dan kalian ” ucap Laura yang bangkit dari tidurnya
” kau istirahat saja Lau ” cegah Senja
” Vano sudah makan di bawah,dia di temani Steven ” sambung Senja
” kalau begitu aku akan turun dan membawakan mu makanan ” ucap Ela
Ela keluar dari kamar Luara dan mengambilkan makanan untuk Laura.
...----------------...
Di tempat lain kini Aurel dan Mayang sedang berada di salon untuk melakukan perawatan, di dalam kolam susu itu kini Mayang dan Aurel sedang berendam diri untuk merawat tubuh mereka.
” Bagaimana hubunganmu dengan Deon sayang? ” tanya Mayang kepada Aurel
” hubungan ku dengan Deon baik-baik saja Bu ” jawab Aurel
” Aurel ” panggil Mayang
Aurel segera menoleh ke arah Mayang dan melihat ibu dari kekasihnya itu.
” iya Bu ” jawab Aurel
” ibu berharap hubungan dengan Deon akan terus baik-baik saja, dan mungkin secepatnya kita akan menemui kedua orang tuamu untuk menanyakan mu ” ucap Mayang
” benarkah Bu? ” tanya Aurel tersenyum
” iya sayang. Kau tidak perlu khawatir, aku akan memastikan bahwa Deon yang akan menjadi pewaris dari keluarga Maheswari dan menjadikan mu istrinya ” ucap Mayang
” iya Bu ” jawab Aurel
Aurel yang mendengar ucapan dari Mayang itu tertawa dalam hatinya.
__ADS_1
” kita lihat saja nanti, bagaimana Senja saat mengetahui siapa Deon sebenarnya. Apakah Bagas suami mu itu akan benar-benar menjadikan anakmu sebagai pewaris atau kalian justru akan di asingkan. Waktu itu akan terus aku tunggu, Aku ingin melihat bagaimana hancurnya hati Senja beserta hancurnya keluarga nya ” Ucap Aurel dalam hati
Saat keduanya sedang menikmati perawatan yang mereka lakukan, ponsel Aurel berdering tanpa ada seseorang yang menghubungi nya. Aurel segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi nya. Saat melihat orang suruhannya lah menghubungi nya, Aurel segera keluar dari bak tersebut dan berusaha untuk menjauh.
” Bu sebentar ya, sepupuku sedang menghubungi ” ucap Aurel
” hhmm ” jawab Mayang
Aurel segera menjauh dan mengangkat panggilan itu.
” ada apa? ” tanya Aurel
” Nona saya sudah mengirimkan nya ke alamat yang anda kirim, dan saja juga sudah mengirimkan nya ke kantor milik Evan ” lapor orang tersebut
” benarkah? ” tanya Aurel
” Iya nona ” jawab Orang tersebut
” hhmm baiklah aku akan memberikan mu bonus + bayaran untukmu ” ucap Aurel
Aurel segera memutuskan panggilan nya dan tersenyum jahat di sana, dia melihat Mayang yang sedang membelakangi nya dari kejauhan.
” kita lihat saja bagaimana kalian semua akan hancur ” ucap Aurel Sendiri
...----------------...
Sore telah tiba, Evan dan Arnold sekarang berada di perjalanan untuk menjemput Senja dan Ela. Saat mobilnya masuk ke dalam halaman rumah milik Laura, bersamaan itu juga Hardi suda datang.
Evan melihat Hardi yang sudah turun dari mobilnya dan berjalan untuk masuk kedalam rumahnya. Hardi melihat beberapa karangan bunga belasungkawa yang terpajang di depan rumahnya itu segera berlari untuk masuk.
” Laura ada apa ini? ” Tanya Hardi
Laura yang melihat kedatangan papanya itu seketika memerah matanya, Dia menoleh ke arah Ela dan menyuruh nya untuk membawa Vano naik ke atas dan masuk kedalam kamarnya.
” El tolong bawa Vano ke dalam kamarnya ” ucap Laura
” hhmm baiklah ” ucap Ela
Ela menggandeng tangan Vano dan mengajaknya untuk naik ke atas dan masuk kedalam kamarnya. Laura segera maju dan berjalan ke arah papanya.
” Kenapa kau kemari ” tanya Laura yang ketus
Steve dan Senja di sana hanya berdiri dan diam tanpa membuka suaranya, bahkan tidak ada yang menghentikan Laura yang berbicara kasar kepada papa nya. Evan dan Arnold pun juga sudah sampai di dalam rumah milik Laura dan melihat anak dan papanya itu sedang berhadapan satu sama lain.
” jaga bicara mu Laura, Kau sedang berbicara dengan papamu ” ucap Hardi
” papa? apakah masih pantas sebutan itu untukmu ” ucap Laura berani
Laura melihat amplop coklat yang berbeda di tangan papanya itu, Laura sendiri sudah bisa menebak apa isi dari amplop itu.
” surat perceraian? ” tanya Laura yang melihat amplop yang di bawa Hardi
” dimana mama mu? ” tanya Hardi balik
” jika memang itu surat perceraian yang kau bawa, sebaiknya kau bawa saja kembali ” ucap Laura tanpa menjawab pertanyaan dari Hardi
” papa sedang bertanya dimana mamamu? ” tanya Hardi lagi
__ADS_1
” untuk apa kau menanyakan nya? Apa perduli mu? ” tanya Laura yang sudah ingin menangis
” Oh iya aku lupa belum memberikan ucapan selamat untukmu. Selamat tuan Wirahadi Wijaya sekarang status anda benar-benar sudah menjadi duda ” ucap Laura
” apa maksudmu Laura? ” tanya Hardi
Laura hanya diam, dan semua orang di sana juga diam. Evan maju untuk menenangkan kedua orang itu.
” maaf tuan jika saya ikut campur ” ucap Evan
Hardi menoleh ke arah Evan dan melihatnya.
” siapa kau? Dan siapa kalian semua? ” tanya Hardi
” ada apa sebenarnya ini? ” tanya Hardi lagi
” mama sudah tidak ada ” ucap Laura membuka suaranya
Hardi menoleh ke arah putrinya dan melihat Laura yang sudah meneteskan air matanya.
” apa maksudmu? Katakan dengan jelas!! ” ucap Hardi
Laura mengulurkan tangannya dan memberikan surat peninggalan mamanya yang di berikan untuk Hardi, Hardi melihat kertas yang di berikan putrinya itu dan segera mengambilnya.
Saat Hardi membuka nya, Hardi memang mengenali tulisan itu, itu adalah tulisan Linda yang bagus . Tanpa Basa basi lagi Hardi segera membacanya.
Untuk Suamiku
Aku mengucapkan beribu-ribu maaf kepadamu, Maaf sudah tidak bisa menjadi istri yang kau mau, maaf telah menjadi wanita yang penuh dengan kekurangan, maaf telah menjadi beban untukmu selama ini. Suamiku setelah kau membaca surat ini, mungkin saja kah akan sedikit lebih mengerti kenapa aku memilih jalan yang saat ini aku pilih. Apa kau ingat bagaimana sewaktu kita menikah dulu? Kita satu sama lain telah mengucapkan janji suci di hadapan tuhan,untuk tidak saling meninggalkan satu sama lain, walau dengan keadaan apa pun, aku tidak akan membiarkan mu mengingkari janji itu, jadi biarkanlah aku yang melakukannya. Aku membebaskan mu dari ikatan pernikahan kita dan janji-janji yang sudah kita ucapkan. Maaf jika selama ini mungkin aku membuatmu muak sehingga kau berpaling dengan wanita lain. Maaf jika aku harus meninggalkan mu tanggung jawab yang besar, jaga anak-anak kita walaupun nanti kau sudah menikah dengan Bella. Jangan berdebat dengan putrimu atau putramu, percayalah yang mereka lakukan sebenarnya adalah untuk menjaga hatinya agar tidak terluka. Suamiku aku pamit ya, jaga dirimu baik-baik, Aku mengikhlaskan posisi ku jika benar-benar di gantikan oleh Bella.
Jangan salahkan dirimu atau pun jangan menyalakan takdir. Berbahagialah dengan Bella dan aku mohon jangan kau sakiti dia.
Salam rindu dari istrimu.
Begitulah isi surat Linda yang di tulis untuk Hardi. Hardi meremas surat itu dan menangis, dia melihat putrinya dan terus menatapnya.
” Mama telah pergi untuk selama-lamanya, Status mu kini benar-benar sudah bukan suaminya lagi. Jadi aku mohon pergilah dan jangan menyakiti ku dan Vano lagi. Dan jangan biarkan aku meninggalkan surat yang sama seperti mama ” Ucap Laura
” Laura ” panggil Hardi lirih
” Pergilah, Hiduplah berbahagia dengan wanita pilihanmu. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku ” ucap Laura menangis
Steven segera mendekat ke arah Laura dan menggenggam tangan Kekasihnya itu untuk memberikan kekuatan padanya.
” Laura...papa meminta maaf ” ucap Hardi
” lalu, apa dengan kata ucapan maafmu itu akan mengembalikan semuanya seperti semula? ” tanya Laura
” Seharusnya kau meminta maaf sejak awal, dan seharusnya juga kau jangan pernah menjelaskan apa pun kepadaku saat itu ” sambung Laura
” sekarang pergilah, keinginan mu sudah terpenuhi bukan sekarang? Jadi pergilah ” ucap Laura
Hardi yang tidak ingin membuat putrinya itu semakin membencinya segera berbalik badan dan melangkah pergi dari sana.
” Maafkan aku Linda ” ucap Hardi dalam hati
Bersambung...........
__ADS_1