Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Quality Time


__ADS_3

Sejak hari itu, setiap sore Reza selalu meluangkan waktu untuk kami berdua. Quality time antara suami dan istri. Pernah dengan bermain piano di roof top, berenang berdua atau sekadar tiduran di atas pelampung sambil menatap langit senja, tapi yang paling sering ialah menghabiskan waktu duduk-duduk di halaman belakang beralas tikar. Aku menurut saja apa pun yang ia rencanakan, pernah hanya dengan sebuah gitar -- latihan bagi jari-jariku yang mulai kaku. Pernah juga dengan bermain catur atau bermain ular tangga dengan aturan mainnya yang konyol.


"Kalau aku keluar angka enam, atau berhasil menaiki tangga, atau kamu bertemu kepala atau ekor ular, kamu harus mendapatkan hukuman, begitu juga sebaliknya. Paham?"


Aku mengangguk. "Lalu, hukumannya apa?"


Dia mengeluarkan setoples penuh cokelat leleh dan membuka tutupnya. "Ini hukumannya." Dia menarik tanganku, mencelupkan jariku ke dalam cokelat, lalu menjilat dan mengisa*-isa* dengan kuat.


Aku pun cekikikan, merasa geli sekaligus meremang. "Kamu mah modus terus... enak di kamu, dong. Menang kalah kamu tetap untung."


"Jangan bawel, nikmati saja," ujarnya.


Wew! Kau tahulah kebiasaan Reza, lama-kelamaan bukan hanya jariku yang menjadi sasaran. Tanpa malu ia menindih dan *enggerayangiku di halaman belakang. "Mumpung Ihsan belum pulang," katanya. "Bunda kan tidak mungkin mengintip, apalagi si Mbok."


"Iya aku tahu, tapi... akh, Mas. Aduh... jangan begini, malu...."


Dia mengangkat tubuhnya sedikit. "Memangnya tidak enak?"


"Enak, sih...."


"Ya sudah, nikmati saja."


"Malu, Mas... kamu curang mengganti-ganti hukuman seenak kamu."

__ADS_1


"Ssst... nikmati ini." Kakinya bergerak dan mulai menggosok-gosok kakiku, pun tangannya juga tak kalah nakal.


"Ya ampun, Mas... ini... ini enak. Tapi... ukh...! Ya ampun... jangan di sini. Mas... auw! Ukh! Ya ampun, ya ampun, Mas... Mas... ouch!"


Satu isapa* keras di leher membuatku tegang.


"Aku suka di sini," bisiknya. "Adrenalinku tertantang."


Hah! Edan!


Dia membuatku geleng-geleng kepala setiap kali ia berhasil merebahkanku dan aku mesti bangun dengan baju dan rambutku yang kusut. Sementara ia terkikik-kikik. "Aku senang punya mertua yang tidak usil dan pengertian seperti Bunda," tuturnya di sore itu.


"O ya? Kalau begitu... kasih apresiasi, dong. Apa kek, sebagai ucapan terima kasih karena sudah melahirkan teman hidup yang semanis dan sehangat aku untukmu. Iya, kan?"


Dia nyengir. "Panjang, ya, celotehanmu. Pakai mengandung pujian terhadap diri sendiri pula."


Eit dah... dia merebahkanku lagi. "Kamu memang manis dan super hangat. Dan aku memang harus berterima kasih pada Bunda. Bagaimana kalau kita beri Bunda cucu lagi? Hmm?"


Aku mendelik. "Ish! Ogah! Itu anak-anak baru empat bulan, masa sudah dikasih adik? Gila kamu!"


"Tidak apa-apalah, kita kan mau punya anak banyak."


Aku menggeleng. "Aku minum pil KB," kataku. "Nitip beli sama Raline waktu dia ke sini. Tidak apa-apa, kan? Maaf aku baru bilang."

__ADS_1


Dia mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku mengerti."


"Jangan marah, ya? Aku--"


"Tidak, Sayang. Aku tidak marah, kok."


"Terima kasih pengertiannya, Mas."


"Yap. Tapi... lain kali apa-apa itu izin dulu ke suami, ya?"


Aku mengangguk. "Baru kali ini juga, kan, aku tidak izin dulu? Aku tahu statusku istri -- bukan suami yang punya kebebasan."


"Hmm... jangan dimulai...."


"Kenapa? Kesindir, ya?"


"Sayang...."


"Iya, iya. Aku cuma bercanda, Mas...."


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"


"Nggak ah," tolakku. "Takut virus. Aku tidak mau dikarantina dari anak-anak. Kasihan nanti mereka."

__ADS_1


"Jangan khawatir." Dia tersenyum nakal. "Cuma di dalam mobil, kok. Sekalian menghangatkan mesin. Oke, kan?"


Hmm... modus lagi... yang dia maksud pasti mesinnya sendiri. Hah! Dasar otak mesum!


__ADS_2