Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Tentang Isi Hati


__ADS_3

Di sisa hari pada bulan Juli itu, Reza menggunakan waktunya untuk memulihkan diri sepenuhnya. Selain ketika melihat anak-anaknya, dia nampak murung berkepanjangan. Aku melihat ia tersenyum hanya ketika ia memandangi Angga dan Anggi, meski dengan jarak dan tak bisa menyentuh mereka.


Dalam empat hari itu ia banyak mengobrol dengan ibuku dan Ihsan. Ihsan yang sejak kemarin ikut tinggal bersama kami, berjanji akan membantu Reza menyelesaikan permasalahan dalam keluarga kecil kami yang masih terus berlanjut meski si biang masalah sudah terkubur di tempat peristirahatan terakhirnya.


Dan mungkin karena menahan sakit yang teramat, Reza mengurangi kontak denganku. Dia tidak mengirimiku whatsapp atau sekadar membicarakan hal yang sepele sekalipun, tidak sama sekali. Dan itu rasanya sangat menyakitkan. Ternyata aku lebih suka dia menggangguku atau sekalian saja kami tidak usah bertemu.


Bisa melihatnya, namun tak bisa bicara apalagi menyentuhnya -- membuat hatiku perih. Kurasa, benar-benar omong kosong ketika seseorang mengatakan: hanya dengan melihatmu, itu sudah cukup bagiku.


Hah! Lebih baik tidak usah bertemu sama sekali. Serius. Hatiku perih, bisa melihat tapi tak bisa menyentuh, bagaikan cinta tapi tak bisa memiliki.


Aku rindu. Semakin melihatnya yang tak tergapai, hatiku semakin merindu. Kami berada di satu tempat yang sama, tapi seakan dengan alam yang berbeda. Sangat menyakitkan.


Nara kangen, Mas... Nara rindu. Batinku terus merontah. Hati menggedor-gedor pertahanan. Tapi ego terus bertahan. Jangan sampai aku depresi, pikirku.


Tetapi puji syukur, ibuku mengerti. Dengan pura-pura memaksa, di depan Reza dia memintaku untuk melayani suami di meja makan, yang praktis -- seolah terpaksa, aku bersedia melakukannya. Bahkan, setiap kali Reza memetik buah jambu biji dari halaman belakang, ibuku selalu memaksaku untuk membuatkannya jus. Sehingga, pada hari sabtu, dengan menurunkan sedikit ego, aku menuliskan surat pada secarik kertas dan menaruhnya di bawah tatakan gelas jus itu.

__ADS_1


Maafkan aku atas segala sikap dan keegoisanku. Tapi kuharap kamu mengerti atas luka yang sudah kamu torehkan begitu dalam. Aku sakit, Mas. Terlalu sakit. Semoga kamu bisa segera membuktikan kebenaran itu dan mengobati semua lukaku. Aku merindukan kebersamaan kita.


"Aku juga rindu," ujarnya. Dia tengah duduk di ujung tangga sementara aku dan anak-anak bersantai di depan tv.


Mau tidak mau aku tersenyum. Bagaimana bisa menahannya? Senyum itu mengembang sendiri.


"Keadaanku sudah sangat membaik. Besok aku berangkat ke Bogor. Mungkin saja... yaaa... aku berharap bisa menemukan keajaiban di sana."


Aamiin...


"Emm?"


"Aku minta maaf, ya, tanggal satu besok -- aku tidak bisa menepati perjanjian kita."


"Tidak apa-apa," kataku. "Aku tahu kamu mau menepatinya. Kan... aku yang tidak bersedia."

__ADS_1


"Bukan begitu, kalau kamu tidak menerapkan aturan isolasi, aku mau saja memaksamu walau kamu marah sekalipun. Karena kenyataannya kita masih halal."


Aku merengut. "Jangan ada paksa-memaksa. Tempo kamu tiga bulan. Kalau kamu memaksakan diri, itu sama saja pelecehan seksual terhadap istri."


"Terus, kamu akan menuntut? Tidak, kan?"


Lagi, aku tak bisa menahan senyum. "Jangan memaksa, itu tidak baik. Apalagi aku ragu. Takutnya aku tidak ikhlas nanti."


"Takutnya," ia bergumam dengan sedikit senyuman dan tawa kecil. "Kurasa itu hanya kemungkinan kecil."


Aku mengedikkan bahu. "Aku tidak mungkin menuntut karena aku tidak mau anak-anakku punya ayah seorang napi."


"Tapi aku tahu, dari hati terdalam kamu pasti ikhlas."


Ya ampun... dia menggoyahkan pertahananku.

__ADS_1


__ADS_2