Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Kangen Kamu


__ADS_3

》 Aku mencintaimu, sejak dulu, saat ini, dan selamanya. Jangan berpikiran macam-macam, ya. Aku di sini demi kamu dan anak-anak.


Aku berusaha percaya, dan untungnya setiap hari Reza selalu memberikan kabar kepadaku, sehingga hari-hari berikutnya berjalan lebih baik. Meski berjauhan, hubunganku dan Reza juga menjadi jauh lebih baik. Dan, kendati tidak ada perkembangan sama sekali tentang bukti yang dicari itu, itu tak lantas memperburuk keadaan di antara kami -- setidaknya untuk sementara ini.


Yap, sebenarnya hampir setiap hari Reza bertanya "bagaimana?" dan dengan segala kegusarannya, aku hanya mengatakan, "Masih ada waktu. Yang penting kamu sudah berusaha maksimal. Lagipula kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak akan menyerah meski nantinya aku melayangkan gugatan cerai. Iya, kan?"


Menanggapi respons dariku itu, Reza pernah mengatakan, "Aku berharap kamu tidak akan melayangkan gugatan cerai," katanya.


"Kalau begitu kita menikah ulang saja. Aku juga tidak ingin--"


"No," sahutnya. "Itu sama saja aku mendukung keraguanmu."

__ADS_1


"Pilih salah satu. Digantung itu tidak enak, Mas. Aku tidak mau. Kamu harus pilih, digugat atau nikahi aku lagi?"


Dia tidak menjawab.


"Sudahlah, masih dua setengah bulan juga. Yang penting kamu pulang dulu, ya. Aku mau kamu merayakan ulang tahunmu denganku."


Terdengar suara tawa kecil di seberang sana. "Serius?" tanyanya.


"Ya," kataku. Dan...


Hari itu, sewaktu Reza sampai di rumah, aku sedang membuat kue untuk ulang tahunnya. Dia lebih suka dibuatkan daripada beli kue yang sudah jadi. Katanya itu lebih spesial, meskipun... aku tak bisa menghiasnya. Tetapi hanya dengan lelehan cokelat -- itu sudah cukup bagi Reza. Dan kali ini aku bisa menambahkan strawberry sebagai hiasannya. Sepulang dari Bogor waktu itu, Reza membawakan banyak buah strawberry untukku. Dan...

__ADS_1


Meski aku sudah berusaha menahan tawa, aku tetap saja terkikik gara-gara melihat Reza menaruh buah strawberry di antara bibirnya. Dia mendekatkan bibirnya padaku dengan maksud berbagi strawberry itu denganku.


"No, jangan dekat-dekat," sergahku. "Jaga jarak selama empat belas hari. Oke?"


Dia tersenyum manis. "Setelah empat belas hari? Boleh?" tanyanya.


Aku tertegun. Kutelan ludah dengan susah payah. "Emm... boleh dekat. Tapi... tidak boleh mesra. No nafkah batin. Sori...."


Dia mengangguk sambil menelan bongkah kecewa. "Tidak apa-apa," katanya. "Tapi aku boleh, kan, diam di rumah dulu, selama dua minggu ini? Aku kangen anak-anak. Aku mau peluk dan mencium mereka. Aku kangen menggendong mereka. Kalau nanti sudah bisa melepas kangen, baru aku keluar rumah lagi untuk... lanjut mencari buktinya. Boleh, kan? Aku mohon?"


Aku balas mengangguk. Aku mengerti rasa kangennya pada kedua anaknya, Angga dan Anggi. "Ya, boleh," kataku. "Tidak apa-apa. Aku ngerti kalau kamu kangen pada anak-anak. Emm... kalau Papa mau peluk mamanya anak-anak, juga boleh, kok. Sekali saja. Mama mengizinkan."

__ADS_1


Lagi, dia tersenyum. "Kata-katamu lebih terdengar seperti permintaan," katanya.


Ya, aku kangen kamu, Mas.


__ADS_2