
Aku tahu kalau Reza ingin tahu "bagaimananya" dan dia menginginkan penjelasan dariku.
Aku berdeham. "Kayla mengirimiku email akun pribadi Salsya. Dan di situ, Salsya menulis bahwa dia tahu kalau dia belum memilikimu seutuhnya, tapi... dia ingin melewati lebaran waktu itu bersamamu, calon suaminya. Emm, aku... aku merasa sedikit bersalah, sih. Tapi kan memang bukan haknya Salsya untuk merayakan hari lebaran bersama suamiku. Iya, kan? Tapi... toh itu terwujud juga. Walaupun tidak terlalu lama, kalian sempat mengobrol di makam waktu itu. Dia... dia kan juga sudah mencium tanganmu."
Dengan rasa bersalahnya, Reza menarikku dan mendekapku erat-erat. "Jangan dibahas lagi, ya. Aku mohon, lupakan masa lalu. Yang penting hubungan kita sudah baik-baik saja, kan? Akad kita masih suci dan sama sekali tidak pernah terputus. I love you, Sayang." Sebuah kecupan mendarat di puncak kepalaku.
Lalu, aku melepaskan diri dari pelukannya. Kuraih tangan Reza dan menaruh ponselku di telapak tangannya. "Buka aplikasi fb Salsya. Ada banyak foto dan video kenangan kalian di sini. Kamu tahu, kan?"
__ADS_1
Reza nampak tertegun, lalu dengan susah payah ia menelan ludah. "Aku tahu video-video itu, tapi aku tidak tahu kalau dia... kukira hanya ada di ponselnya. Semuanya sudah kuhapus."
"Dan akhirnya aku tetap tahu, kan?"
Ada penyesalan terpancar dari matanya. Dia menatapku penuh harap seraya menggenggam tanganku kuat-kuat. "Aku minta maaf, Sayang. Maaf. Aku hanya tidak ingin itu semua menimbulkan permasalahan baru--"
Dia mengangguk kuat-kuat -- dengan keyakinan. "Bisa. Akan kulakukan, pasti. Sini, biar kututup akunnya sekalian."
__ADS_1
"No... bukan begitu caranya. Hapus saja yang ada kamu di videonya, juga semua foto-fotomu. Aulian berhak atas kenangan mamanya. Dia berhak atas kenangan-kenangan masa kecilnya. Akun ini harus dijaga untuk Aulian besar nanti. Supaya dia bisa memiliki kenangan-kenangan saat dia bersama mamanya. Tapi tidak denganmu. Aku tidak ingin dia bertanya siapa lelaki yang mengelus perut mamanya, siapa lelaki yang mengazaninya di video itu, yang menggendongnya pertama kali, yang memeluk dan mencium mamanya. Aku tidak mau, Mas. Apalagi kalau dia mendengar kalimat ijab itu. Aku tidak mau dia mengira -- dia akan menganggapmu sebagai ayahnya. Aku... aku keberatan dengan semua kenangan-kenangan ini. Aku tidak nyaman kalau ini tetap ada. Aku tidak ikhlas. Aku...."
Tidak ada lagi kata-kata -- sudah tertelan bersamaan deraian air mata yang mengalir deras. Tak bisa kupungkiri, semua lukaku tetap akan terasa perih tatkala ia dikulik meski demi sebuah penyelesaian.
"Sudah?" tanya Reza, dia mendengar semua keluhanku. "Aku mengerti semua ketidaknyamananmu. Kamu tidak perlu khawatir, ya. Akan kuhapus semuanya. Dan, perlu kutekankan -- itu bukan kenanganku. Itu hanya bagi Salsya sepihak. Aku tahu aku sangat bersalah. Tapi, Sayang, aku mohon kamu mengerti, aku tidak bisa membenci Salsya. Tapi itu bukan berarti perasaanku masih sama. Baik dulu sewaktu dia masih hidup, atau pun sekarang, perasaanku yang dulu sudah tidak ada. Sudah tidak sama. Please, aku mohon, jangan berpikir... aku tidak tahu apa namanya. Tapi yang jelas, jangan biarkan hal-hal semacam ini merusak hubungan kita lagi. Ya? Aku hanya mencintaimu."
Aku mengangguk, benar-benar tak mampu mengatakan apa pun lagi. Tapi yang pasti, aku akan selalu menjaga keluarga kecilku. Menjaga cinta dari ayah anak-anakku. Karena dia hanya milik kami, tidak untuk dibagi. Tidak akan pernah. Hanya suami bagiku, dan ayah bagi anak-anakku: Angga, Anggi, dan adik-adiknya kelak.
__ADS_1