Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Tak Nyaman


__ADS_3

"Eummmmm...."


Reza menempelkan bibirnya di leherku dengan sedikit isapa* lembut. Aku sedang duduk di meja makan sendirian, menunggunya. Aku yang memang merindukan kehangatannya jelas sontak langsung bereaksi.


"Ehm, ehm...."


Spontan aku dan Reza terlonjak.


"Eh, Raline...," kataku. Kamu ganggu, Dek....


"Duuuh... jadi pingin cepat-cepat nikah."


"Hei, jangan cepat-cepat. Masih muda juga."


Dia nyengir. "Apa itu? Sate, ya? Aku mau, ya."


"Yap. Sini, kita makan bareng."


Dia ikut duduk, lalu mengotak-atik ponselnya -- menelepon Raheel yang sedang santai di kamarnya. "Sini, makan sate di dapur."


Secepat kilat, Raheel sudah berada di dapur dengan napas terengah. "Mauuuuu...," serunya.


Kami hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan polos remaja belia itu.


"Kamu makan juga, ya," kataku pada Reza. Kubukakan satu porsi sate untuknya, tapi ia justru menaruh irisan lontong-lontongnya ke piringku. "Kamu sudah makan?" tanyaku.


Dia mengangguk. "Sudah," katanya. "Tadi makan bareng Mayra. Aku menemani dia makan. Emm... tidak apa-apa, kan?"


Raline tertawa.


"Hm, iya, Mas. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Mas Reza takut Mbak Nara cemburu, ya?"


"Ish! No, ya!"


"Mbakmu kan memang cemburuan, Heel."


Aku mencebik. "Tergantung, ya," belaku. "Tidak selalu, dan bukan pada semua perempuan."


"Iya, iya," sahut Reza.


"Malu tapi gengsi," celetuk Raline.


"Whatever... cemburu kan tanda cinta."


"Setuju," imbuh Reza.


Dia meraih tanganku, lalu menciumnya sesaat, itu terjadi sekilas, tapi tetap saja aku mendelik. "Jangan di depan anak-anak, Mas...."


Reza menunduk sesaat, aku tahu ia belum nyaman untuk membahas topik tentang musibah yang dialami sahabatnya itu. "Operasinya sudah dilakukan. Puji syukur berhasil."


"Jadi...?" Raheel langsung menutup mulut, sebab Raline menyikutnya dengan sedikit melotot.


Reza mengangguk, mulutnya menganga. Tapi, lagi-lagi tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Kugenggam tangan Reza dan *eremasnya lembut. "Sudah, ya. Kita lanjutkan makannya."


"Tapi, Mas," Raline bersuara, "Tirta tadi nanyain terus. Aku... aku khawatir nanti dia shock pas lihat papanya...."


Reza menggeleng, matanya mulai berkaca lagi. "Mau bagaimana lagi, semua orang harus menerima kenyataan. Termasuk anak-anak Alfi."


"Anak...," Raheel heran. "Anak-anak? Maksudnya?"

__ADS_1


Oh, ya. Mereka tidak ada yang tahu tentang kehidupan Alfi yang sebenarnya. Mereka hanya tahu Mayra istri satu-satunya, dan Tirta anak satu-satunya. Mereka tidak tahu kalau Alfi berpoligami, memiliki dua istri dan tiga orang anak kandung. Bahkan mereka tidak ada yang tahu kalau Tirta hanyalah anak angkat Alfi dan Mayra.


"Termasuk Tirta," kataku.


Raheel manggut-manggut dan melanjutkan makannya, kendati mimik heran masih terukir jelas di wajahnya. Dia si bungsu yang kepo.


"Mas."


Reza mengangkat wajahnya, menoleh ke Raline. "Emm?"


"Sebelumnya Raline minta maaf kalau terkesan ikut campur. Tapi... ini sekadar saran, ya. Emm...."


Aku dan Reza, juga Raheel, menunggu Raline melanjutkan kata-katanya. Dia bungkam agak lama. "Apa?" tanya Reza.


"Menurut Raline... sebentar, begini, emm... Raline punya kenalan, namanya Jaka, dia menjual... kaki palsu."


Aku terdiam, pun Reza. Ini pembahasan sensitif, tidak semua orang mampu membahasnya secara gamblang. Raline pun mengatakan hal itu dengan penuh keraguan. Dia menelan ludah karena ada sedikit rasa takut kalau-kalau ia menyinggung perasaan Reza. Tapi dia Raline, dia akan menyampaikan apa yang ada di pikirannya, terserah orang akan menanggapinya bagaimana setelah dia mengutarakan pendapatnya.


"Barangkali Mas Alfi mau pesan. Raline tidak punya maksud apa-apa, cuma menyarankan, mungkin Mas Alfi tertarik. Coba Mas Reza bicara dengan Mas Alfi."


Aku dan Reza masih terdiam, kami sebenarnya menyimak. Hanya saja kami masih bingung mau merespons seperti apa.


"Menurut Raheel itu ide yang bagus. Kaki palsu yang dijual Mas Jaka kualitasnya oke, lo. Kalau dipakaikan sepatu, nanti terlihat persis kaki sungguhan. Barangkali dengan begitu Tirta jadi tidak akan banyak tanya soal kaki papanya. Sori, sori, maksud Raheel... soal keadaan papanya."


Kurema* tangan Reza sekali lagi. "Aku rasa itu ide yang bagus, Mas. Coba nanti kamu bahas dengan Mas Alfi. Ini masalah sensitif, kalau kamu yang bahas, mungkin Mas Alfi tidak akan tersinggung."


"Oke." Reza mengangguk. "Nanti aku coba, ya. Semoga Alfi setuju. Demi anak-a.... Demi anaknya. Terima kasih, ya, Raline. Nanti Mas kabari kalau Alfi setuju. Mas minta tolong kamu yang pesan nanti ke temanmu itu."


Raline mengangguk. "Siap, Mas."


Tarik napas dalam-dalam, semua kekikukan ini harus disingkirkan secepatnya. Semua rasa sesak ini tidak boleh berlarut, setidaknya saat ini, malam ini.

__ADS_1


"Abang-abang kalian mana? Ajak ke sini, makan bareng."


__ADS_2