
Tok! Tok!
"Sayang, sudah tidur?"
"Belum, Bund."
"Bunda masuk, ya?"
"Ya." Aku pun beringsut duduk.
Ceklek!
"Lagi ngapain?" tanyanya, lalu ia menyadari mataku yang sembab. "Kamu menangis? Iya?"
__ADS_1
Kuhela napas dalam-dalam, kemudian mengangguk. "Aarin mengirimkan bukti rekaman akad nikah Mas Reza dan Salsya."
"Hah? Apa?" ibuku terkejut. "Bukti apa?"
Ya Tuhan... aku salah. Bisa-bisanya aku nyeplos begitu saja tanpa mempertimbangkan keadaan ibuku: siap atau tidak ia mendengar berita mengejutkan itu.
"Mana? Bunda mau lihat," cerocosnya dengan panik. Kuserahkan ponselku dan ibuku mendengarkan pesan rekaman suara dari Aarin. Tapi ekspresinya kemudian berbeda denganku. Dia kembali rileks. "Hanya ini?" tanyanya. "Rekaman suara? Ini zaman modern, mestinya rekaman video."
"Memang, tapi siapa yang bisa menjamin kalau ini benar pas sewaktu akad, maksud Bunda di acara pernikahan sungguhan, siapa yang bisa menjamin? Ini bisa dimanipulasi, lo, Sayang."
Aku berpikir sejenak. "Maksud Bunda ini memang benar suara Mas Reza, tapi di malam itu, sewaktu Salsya sedang sakaratul maut? Lalu sisanya itu cuma tambahan yang digabungkan dengan rekaman suara Mas Reza? Begitu, Bund?"
Ibuku mengangguk. "Ya, bisa jadi. Coba kamu dengar ulang. Latar suasana di belakangnya itu berbeda, Sayang. Tingkat keheningannya berbeda. Pas suara Reza, itu suara di sekitarnya benar-benar hening kecuali samar-samar tarikan napas sesak. Bisa jadi itu suara Salsya yang sedang sekarat. Pas bagian saksi, itu suara latar belakangnya seperti di acara pernikahan sungguhan. Coba ambil earphone-mu, biar kamu bisa mendengarnya lebih jelas. Atau tantang saja Aarin, minta salinan videonya kalau pernikahan itu memang ada. Mustahil kalau pernikahan zaman sekarang tidak diabadikan dalam bentuk video, ya kan?"
__ADS_1
"Bisa saja, Bund. Mungkin karena pernikahan siri, mungkin Mas Reza tidak mau kalau ada bukti. Dia tidak mau ketahuan."
Ibuku mengangguk pelan, masih dengan sikap santainya yang khas. "Okelah, tapi... kenapa dia tidak merekamnya sekalian kalau di saat akad itu Aarin ada di sana, atau siapa pun yang berniat menjadikan momen itu sebagai senjata untuk menghancurkanmu? Kenapa membuat bukti yang tanggung di zaman modern seperti sekarang? Hmm? Ingat, lo, percaya begitu saja dengan fitnah tanpa mencari tahu kebenarannya -- itu dosa."
"So what? aku harus bagaimana kalau bukti videonya tidak ada? Ini kan jelas suaranya Mas Reza, Bund."
Dia memelukku. "Kalau rekaman ini palsu, atau tidak ada bukti yang menguatkan keasliannya, ada kemungkinan Reza jujur, kan, tentang permintaan Salsya di malam itu? Nah, apa kamu bisa memaklumi hal itu?"
Aku mengangguk. "Aku bisa maklum, tapi aku tidak bisa percaya tanpa adanya bukti, Bund...."
"Bagaimana kalau menikah ulang? Salsya sudah meninggal, kan? Ada atau tidak adanya pernikahan itu, sekarang kamu istri satu-satunya, ya kan, Nak?" suaranya mulai parau.
Kasihan sekali Bunda harus terbeban dengan keadaanku. Maafkan Nara, Bund. "Nara akan pikirkan solusi terbaik untuk Nara dan anak-anak. Bunda tahu sendiri, kan, bagaimana hidup dengan tanda tanya besar tentang kesetiaan suami? Rumah tangga Nara tidak akan sehat dengan pertanyaan yang selalu menggantung itu, Bund. Menikah ulang mungkin akan mengembalikan status dan kehalalan kami, tapi tidak dengan kepercayaan. Apa artinya hubungan tanpa kepercayaan?"
__ADS_1