
"Permisi...."
Mbok Tin datang membawakan jus dan buah-buahan potong ke pondok baru kami, dan menyerahkan nampan yang ia bawa itu ke tanganku.
"Tolong, ya, Non. Mbok tadi ninggalin kompor, mesti buru-buru ke dapur lagi." Ia tersenyum dan nyaris nyengir, kemudian langsung berlalu.
Aku hanya balas tersenyum dan tak lupa berterima kasih. Pun Reza di atas sana, ia juga tak henti menahan senyumnya. "Ayolah, Sayang. Apa perlu aku turun dan menggendongmu ke atas?"
"Iya, iya. Usahamu luar biasa, ya." Aku pun segera naik.
Itu hanya sebuah pondok kecil yang terdiri dari satu ruangan, dengan dinding setinggi satu meter, dan jendela lipat setinggi setengah meter di atasnya -- mengelilingi segala sisinya. Juga pintu masuknya yang juga berupa pintu lipat. Hebat juga, pikirku, pondok mungil pun ada model instannya dan tinggal di rangkai ulang.
"Bagus, kan?" tanyanya lagi. "Cocok untuk pacaran."
Hah? Aku terkekeh. "Pacaran? Memang ini untuk siapa? Katanya tadi untukku. Kok--"
Deg!
Kutelan ludah dengan susah payah. Rasanya cling, tatapan mata itu membuatku serasa kembali ke masa-masa awal aku jatuh cinta kepadanya.
Duh, biyung... kenapa hatiku mendadak jumpalitan begini begitu Reza memegangi kedua bahuku dan menatap kedua mataku? Dia suamiku, aku sudah punya dua anak darinya, tapi kenapa mendadak aku seperti gadis perawan yang salah tingkah begini?
__ADS_1
"Nara... Mas Reza sayang kamu. Masih, dan akan selalu sayang padamu. Kalau Mas punya salah, apa pun itu, meski kamu mau terus menutupinya, Mas minta maaf. Sekarang please... tanya hatimu, apa kamu bisa menerima Mas lagi, seutuhnya? Hmm? Mas mohon?"
Aduh, kepalaku pusing. Pasokan oksigen ke otakku rasanya terhenti. Tatapan Reza membuatku jadi lupa bernapas.
"Mas... aku...."
Dia merebahkanku. Ya ampun, ini reaksi yang paling aneh yang pernah kurasakan akibat... entah apa. Intinya karena Reza.
Fix! Aku bergetar, dan Reza tersenyum. "Aku mencintaimu."
"Em, aku tahu. Aku juga mencintaimu."
"Emm?"
"Nikmati sentuhanku." Tangannya beraksi.
"Mas...," lenguhku tak tahan.
"Bisa merasakanku?"
"Em, aku bisa." Hasratku benar-benar menyala.
__ADS_1
Reza tersenyum, ia sudah berhasil menarik turun ritsletingku, kemudian menangkup dadaku, lalu menyapu ringan puncaknya dengan ibu jari dan merasakan saat bagian itu mengera* oleh sentuhannya. Lalu, yang membuatku kembali melengu*, ia menundukkan kepala dan mengambilnya dengan mulut, mengisa* lembut, nyaris memuja. Kenikmatan itu hampir memilin jantungku keluar dari dada.
"Terima kasih karena masih mencintaiku. Bisa kita saling melampiaskan perasaan masing-masing?"
Aku mengangguk, dan menurut ketika Reza menarikku duduk. Sambil menatapku, ia menarik turun dressku dan melepaskannya melalui kaki. Lalu, ia beringsut duduk di belakangku dan turut melepaskan pakaiannya. Kemudian...
Kurasakan isapa* keras di belakang pundakku dan sepasang tangan kokoh mulai bergerilya di dadaku. Gerakannya kuat dan kasar, dan aku suka. Dia ingin kami benar-benar saling melepas hasra* tanpa menahan suatu ganjalan di hati -- apa pun itu. Tentu saja, kali ini aku menikmati. Kubimbing satu tangannya ke bawah hingga ia tak sungkan membelaiku. "Siap, kan, Sayang? Bersedia?"
"Ya, Mas. Aku milikmu. Kamu berhak. Dan... aku... aku juga menginginkanmu."
Sekali lagi, ia tersenyum dan kembali merebahkanku. "Mas sayang kamu, Nara."
Dan... kini ia di atasku, menindihku, dan aku bisa merasakan hasra* kami yang siap beradu. Dia... terarah. Lalu...
Dia pun masuk.
"Oh, uh, Mas...!" napasku tersengal bersamaan dengan hasra* menggebu ketika ia berhasil masuk dan menyalurkan kenikmatan itu untukku. Dia dahsyat, dan sangat tampan. Otot-ototnya menyembul menghiasi dada dan lengan, kulitnya bermandikan keringat, dan...
Ini sungguh momen yang manis. Sungguh, aku bersyukur aku bisa kembali merasakannya.
Karena dia, tubuh yang sangat kurindukan.
__ADS_1