Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Masih Sama


__ADS_3

Dia menciumku, dan ciuman itu -- masih sama. Masih senikmat dulu dan masih menggetarkan jiwaku.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Reza dengan suaranya yang parau. "Katakan, masih sama, kan?"


Aku mengangguk, tak mampu berbohong. "Masih," kataku. Suaraku pun tak kalah parau.


"Masih ada getaran?"


"Masih."


"Masih ada cinta untukku?"


"Em, tidak pernah berkurang sedikit pun."


"Ikhlas kalau kusentuh?"


Deg!


"Aku...."


Sreeeeet... ritsletingku turun perlahan.


"Ikhlas?"

__ADS_1


"Em, aku... ikhlas," kataku dengan anggukan. "Tapi...."


"Halal," kata Reza. "Masih halal dan akan selalu halal. Kamu masih mahromku. Selamanya."


Aku tersenyum -- seakan ini senyuman pertama setelah penyiksaan yang kami lalui sejak kemarin. "Kamu sudah salat isya?"


Dia balas tersenyum, lalu mengangguk. "Sudah," katanya. Kemudian, dengan melapazkan nama Tuhan, dia menggendongku dan membawaku ke tempat tidur. Dalam diam, dia menatapku -- ke dalam mataku. Ada pertanyaan tak terungkap di sana. Namun aku mengerti.


"Aku ikhlas," kataku, lalu aku melepaskan gaun tidurku sepenuhnya. Kuraih tangannya dan menempelkannya di pipiku.


Dengan perlahan, Reza kembali menciumku. Benar, masih sama. Ada getar bahagia yang kurasakan di dalam hati dan jiwaku. Aku merasa ada rasa manis yang menggelitik. Setelah satu ciuman yang agak lama itu, Reza kembali menatapku -- tatapan sarat akan cinta. "Aku merindukan kehangatanmu," katanya.


Aku tahu. Aku pun sama rindunya denganmu.


"I love you, Inara Dinata," ia berbisik pelan. "Mas Reza sayang kamu."


Seperti selama ini, mantra itu tak pernah gagal menghipnotisku. Untuk sesaat, keraguanku seakan melebur, mencair seperti es. Aku luluh. Yeah, aku luluh -- pada suami, sosok lelaki yang merupakan cinta pertamaku. Yang sepenuhnya -- hatiku menyadari, dia satu-satunya cinta sejatiku. Kemudian, dengan mesra Reza mencumbui leherku, sementara tangannya bergerilya di dadaku. Sungguh, kurasakan kehangatan menjalar ke setiap sel dan saraf-sarafku. Meski tak bisa bercinta seperti yang semestinya, berciuman dan bermesraan seperti ini sudah cukup memuaskan. Hangat. Kami berpelukan, saling meraba, dan mencicipi satu sama lain.


"Aku mencintaimu, Mas."


Dia mengangguk. "Aku berharap kita selalu seperti ini, selalu bisa melewati ujian untuk cinta kita. Sebesar apa pun badai yang mesti kita hadapi."


"Aamiin. Aku punya harapan yang sama."

__ADS_1


"Sungguh?"


"Ya."


Ia tersenyum, lalu bangkit dan mengambilkan air di atas nakas, dia menyorongkannya ke depan mulutku dan aku meminumnya.


"Sayang, ada satu hal yang ingin kubahas."


"Apa?" tanyaku, dan aku mulai takut. Keseriusan tampak kokoh di wajahnya.


"Dengar, mungkin ini bongkahan es terakhir kita. Sangat besar. Mungkin sulit untuk dihancurkan, dan meski bisa -- kemungkinan, kita akan tenggelam dan kedinginan."


Hal buruk, lagi. "Katakan, dan jangan berbelit-belit." Emosiku mulai -- kembali naik.


"Tidak, aku mesti menjelaskan ini secara perlahan. Dengar, aku sudah membahas hal ini dengan Bunda dan Ihsan. Kami sepakat, ini mesti disampaikan. Dan, aku mengambil risiko yang besar untuk hal ini."


Aku menggeleng dengan emosi yang mulai tak terkontrol. "Kamu benar-benar sudah menikahi Salsya? Iya, Mas?"


"No," katanya menggeleng.


"Lalu apa?"


"Aku sudah bilang, kita mesti membahas hal ini pelan-pelan. Dengan emosimu yang harus stabil. Wajib stabil. Bisa, kan?"

__ADS_1


__ADS_2