
Aku dan Reza kembali ke kamar setelah menghabiskan dua porsi sate bersama. Dia duduk bersandar di tempat tidur dan masih sibuk dengan ponselnya -- melihat-lihat artikel tentang penggunaan kaki palsu. Malam sudah mulai larut, tapi mata itu tidak sedikit pun mengantuk. Aku khawatir ia benar-benar tidak bisa tidur semalaman.
"Mas, aku ke dapur sebentar, ya," kataku.
"Butuh sesuatu? Biar kuambilkan."
"Tidak usah, Mas. Biar aku sendiri."
"Biar aku saja."
"Tidak apa-apa, cuma ke dapur, kok. Kamu tunggu di sini. Kamu capek, kan?"
Reza mengangguk, dia membiarkan aku ke dapur sendirian. Aku hanya ingin mengambil segelas air putih dan membawanya ke kamar.
"Kamu belum ngantuk?" tanyaku, sekembalinya aku ke kamar dengan segelas penuh air putih.
Dia menggeleng. "Belum." Matanya masih fokus menjelajahi informasi yang ada di google.
Kutaruh gelas di tanganku ke atas nakas di samping Reza, lalu aku duduk di sampingnya, merebahkan kepalaku di bahunya. Di saat itulah Reza menaruh ponselnya.
__ADS_1
"Sayang?"
"Emm? Kenapa?"
"Aku mau tanya...."
"Hmm? Apa?"
Dia berdeham. Tapi tidak langsung bicara, hening hampir satu menit penuh. Aku pun turut diam, tak ingin terkesan menekannya. Lalu...
"Seandainya...."
"Seandainya aku yang mengalami semua ini...."
Deg!
Lagi-lagi rasanya jantungku berhenti berdetak. Persis dugaanku. Tapi aku tidak bergeser, tetap dengan posisi yang sama, dengan kepala bersandar di bahunya. Aku berusaha meredam rasa cemas yang mendadak menyergapku, dan pura-pura pertanyaan itu tidak memengaruhiku. Kuraih tangan Reza dan *eremasnya dengan lembut. "Aku akan tetap di sisimu, Mas. Apa pun yang terjadi."
"Meski aku hanya punya satu kaki?"
__ADS_1
Kuhela napas dalam-dalam. "Apa pun yang terjadi. Meski kamu kehilangan satu kaki atau dua kaki sekaligus, meski kamu lumpuh atau cacat sekalipun." Aku menegakkan bahu dan menatap ke matanya. "Aku akan tetap berada di sisimu. Menemanimu sampai kamu tua. Asal bukan hatimu yang cacat. Syaratku masih sama, satu: kesetiaanmu, hanya itu yang aku mau. Setia dalam artian kalau kamu tidak akan pernah menduakan aku apa pun alasannya. Dan setia dalam artian, kamu setia menyayangi dan mencintai keluarga kecil kita. Tidak kasar dan tidak main tangan. Cukup dengan itu, maka aku akan setia di sisimu. Menua bersamamu."
Reza membeku sesaat, lalu mengangguk dengan pandangan mata menunduk. Tak biasanya ia tidak mampu menatap mataku.
"Percaya, aku bisa melalui cobaan apa pun bersamamu. Kecuali kalau hati, cinta dan perasaanmu yang cacat. Aku tidak akan bersedia untuk bertahan. Kamu paham maksudku?"
Reza hanya mengangguk. "Ya," katanya.
"Em, ini sudah larut. Kita tidur, ya."
"Ya, Sayang."
"Tolong ambilkan air minum itu," pintaku.
Reza langsung mengambilkannya dan menyorongkannya padaku. Aku meminumnya hampir setengah gelas, dan menyuruh Reza untuk ikut minum dan menghabiskannya.
Maaf, Mas. Aku hanya ingin kamu istirahat. Tidur yang lelap, ya.
Tidak tahu berapa lama. Tapi malam itu Reza dan aku tidur dengan lelap. Meski di bawah pengaruh obat tidur yang sengaja kumasukkan ke dalam gelas air putih yang telah kami minum. Dia tidak tahu apa-apa, sampai keesokan paginya -- dia bangun dalam keadaan segar dan jauh lebih baik.
__ADS_1