Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Happy Ending


__ADS_3

Aku pun mendekat, menutup keran, dan langsung memeluknya.


"Aku tidak tahu mesti berbuat apa lagi," isaknya. "Kenapa? Hmm? Apa gara-gara semalam? Masih tentang akun itu? Aku sudah membuatkan akun baru untuk Aulian dan menghapus akun lama Salsya. Untuk apa? Supaya tidak ada lagi namaku di email itu. Tapi kamu... aku sudah tidak mengerti lagi. Ada apa lagi denganmu? Apa aku melakukan kesalahan lagi sampai kamu... kamu menolakku? Apa lagi yang mesti kulakukan? Aku lelah. Jujur aku lelah."


Ya Tuhan... panjang sekali keluhannya. Dia membuatku semakin merasa bersalah. Tapi aku tidak boleh menanggapinya seemosi tadi.


Aku mendongak, lalu tersenyum. "Sudah bercelotehnya? Aku punya sesuatu untukmu."


Dia tidak menyahut, bahkan nyaris tak bereaksi.


"Jangan ngambek lagi. Mending kamu tutup mata, ya? Please...."


Dia tidak mau menurut, terpaksa aku yang menutup matanya dengan satu tanganku, lalu tangan yang lain mengeluarkan testpack.


"Buka mata setelah hitungan ketiga, oke? Satu... dua... tiga."


Reza terbelalak dan langsung merebut testpack itu dari tanganku. "Apa ini maksudnya? Kamu hamil?" tanyanya tak percaya.

__ADS_1


"Ya," aku meraih tangannya dan menempelkannya di perutku yang masih datar, "ada kehidupan lagi di sini. Darah dagingmu."


Reza tersenyum sedikit, ia masih nampak kaget. "Bukannya kemarin kamu bilang...."


"Aku sudah hamil duluan sebelum minum pil itu. Tapi kamu senang, kan?"


Dia mengangguk, lalu memelukku dengan hangat dan mencium keningku dengan lembut. "Bukan senang lagi, aku bahagia. Terima kasih, Sayang."


"Em, sama-sama. Kamu hebat. Tokcer."


"Sayang...," protesnya karena aku cekikikan.


"Whatever... itu namanya Alhamdulilah. Tokcer yang berkah."


"Hu'um, Alhamdulillah. Aku senang karena kamu senang atas kehamilanku."


"Pasti. Aku ingin punya banyak anak darimu. Darah dagingku. Tentu saja aku senang atas kehamilanmu. Terima kasih, Sayang."

__ADS_1


"Sama-sama. Emm... omong-omong, aku minta maaf soal yang tadi," kataku, Reza ingin menyela tapi aku menutup mulutnya. "Kamu salah paham. Aku tidak bermaksud menolakmu. Aku mual karena aku hamil. Aku tidak tahan bau kamu yang asem. Serius... asem banget, tahu!"


Reza mengangguk-angguk sambil tertawa. "Aku juga minta maaf, Sayang. Maaf sudah berpikiran yang tidak-tidak tentangmu. Maaf juga sudah membuatmu sampai mual."


"Ya, lupakan. Aku ingin kamu tahu, apa pun tentang masa lalu antara kamu dan Salsya, itu tidak akan lagi memengaruhi hubungan kita. Aku mencintaimu. Sangat... cinta. I love you...."


Reza mencondongkan tubuhnya, memelukku erat-erat. "I love you too, Sayang. Terima kasih. Aku senang sekali kamu hamil lagi. Aku akan punya anak lagi. Nambah lagi, siapa tahu kembar lagi." Dia tertawa bersama harapannya. "Terima kasih, ya, Sayang.:


"Mmm-hmm... sama-sama. Tapi omong-omong... kamu sudah tidak bau. Apa kamu butuh...? Aku bersedia."


Dia menggeleng, lalu melirik ke kotak sampah. Ada dua kaleng kosong susu murni di dalam sana. "Aku sudah mengatasinya," ujar Reza -- dengan sedikit malu. "Kamu ganti pakaian, terus berbaring saja. Oke? Aku akan memanjakanmu."


Ah, senangnya. Bahagia itu sederhana, mencintai dan dicintai olehnya, dilengkapi pula dengan kehadiran anak-anak kami. Entah kenapa, aku yakin setelah ini kehidupan kami akan selalu bahagia. Aamiin....


Terima kasih, Tuhan. Engkau Maha Baik.


"Omong-omong aku kedinginan. Please...?"

__ADS_1


Reza tersenyum, bahagia sekali. "Well, apa pun untukmu, Sayang."


Uuuuuh... detik berikutnya aku sudah berpindah ke dalam gendongan tangannya yang kekar.


__ADS_2