
"Langsung saja," kata ayahku memecah keheningan, "apa Nicholas menginginkan hak asuh atas anak itu karena Salsya sudah meninggal?"
Kayla mengangguk. "Ya," katanya. "Walau bagaimanapun, dia berhak, bukan?"
Ayahku balas mengangguk. "Ya, secara hukum, dia berhak kalau dia bisa membuktikan hubungan darah di antara mereka sebagai ayah dan anak kandung, sebab anak itu sekarang sebatang kara tanpa wali."
Saat itu, Kayla menghela napas dengan berat. "Begini, Ra," katanya, "hubunganku dan Nicholas sudah berakhir. Pertunangan kami putus, dan rencana pernikahan kami batal. Aku... aku ke sini hanya ingin menyampaikan ini padamu, sebab Nicholas tidak tahu di mana keberadaan Aulian."
"Kamu tidak memberitahunya?"
Dia menelan ludah, aku melihat ekspresinya -- tenggorokannya seperti tercekat, aku tahu dia merasakan sakit. "Awalnya tidak, maksudku... aku tidak mengatakan apa pun padanya. Ya... kamu pasti mengerti, aku masih sakit hati atas perselingkuhan mereka. Aku--"
"Sebentar, Kay. Kita semua tahu kalau Salsya sangat mencintai Mas Reza. Mana mungkin dia--"
Kayla meneteskan air mata sebelum memotong kata-kataku. "Salsya butuh bantuan untuk lepas dari Alvaro, sementara dia tidak punya uang untuk menyewa pengacara. Sebab itu...."
"Oke. Aku mengerti. Berarti bukan...."
"Bukan salah Salsya? Begitu?"
"Maaf, Kay. Bukan begitu maksudku."
"Dia mengkhianatiku," tandasnya -- geram.
"Kamu membencinya?"
__ADS_1
Dia mengangguk pelan dengan mata terpejam. Sungguh, aku bisa merasakan ada luka yang luar biasa sakit di dalam jiwanya. Dia terisak, tapi berusaha tegar. Katanya, "Lebih dari yang bisa kamu lihat. Luar biasa benci. Aku sangat membencinya setelah tahu...," suaranya hilang di antara isakan tangis yang pecah.
"Sori, Kay. Apa kamu...," kata-kata itu terhenti. "Maaf," kataku.
Dia mengusap air mata lalu meraih tasnya. "Aku hanya ingin menyampaikan informasi itu. Bagaimanapun juga, hubungan kami pernah baik. Ini hal terakhir yang bisa kulakukan untuknya. Selebihnya terserah kamu. Kamu mau memberikan Aulian pada Nicholas atau tidak." Lalu ia berdiri. "Aku permisi."
"Kay, tunggu...."
Dia berbalik. "Maaf, kurasa--"
"Kamu tahu sesuatu tentang siapa pembunuh Salsya?"
Sekarang, dia berdiri kaku untuk sesaat, lalu menggeleng. "Kamu dan Reza yang berada di TKP. Harusnya kalian yang lebih tahu siapa pelakunya."
Aku geram, sementara Kayla sudah berjalan cukup jauh, dan entah kenapa kupikir -- aku harus mengejarnya, meski ayahku berusaha keras menahanku. Salah satu dari bodyguard-ku berpikir dan bertindak sigap, daripada mereka semua menahanku, lebih baik ia mengejar Kayla dan membawakannya kepadaku. Benar, kan?
"Apa lagi?" tanya Kayla yang mesti tertahan oleh salah satu bodyguard itu, dia mendadak kesal dengan perlakuan tidak menyenangkan yang ia terima.
Tentu saja, itu tindakan di luar dugaan, bahkan di luar perintahku.
"Lepaskan," kataku. "Biar kami bicara berdua. Tolong, Kay, aku hanya ingin bicara baik-baik. Oke?"
Huh! Dia mengiyakan dan bodyguard-bodyguard-ku serta ayahku sedikit mundur dari kami. "Ini hanya antara kita berdua," kataku. "Aku janji tidak akan mengatakannya pada siapa pun."
"Langsung saja, kamu ingin menanyakan apa aku pelakunya. Iya, kan?
__ADS_1
Aku mengangguk. "Jawab, Kay."
Dia tertawa sumbang. "Kamu berharap aku mengakuinya?"
Sekali lagi aku mengangguk. "Kalau memang iya."
"Nara... Nara. Begini saja, kamu boleh curiga, kamu boleh menanyakan apa pun, tapi aku tidak akan memberikan jawaban. Lagipula dia pantas mati, bukan? Kedua orang tuanya, juga sopir yang tidak bersalah -- mati karena perbuatannya. So, dia juga pantas mati. Dan... kurasa kamu tidak punya bukti untuk menyebutkan namaku pada polisi. Hmm?"
Benar. Itu benar.
"Kalaupun ada, aku tidak akan mengatakan apa pun," kataku. "Dan... kalau memang kamu yang melakukan penusukan itu, aku ingin mengucapkan terima kasih, karena secara tidak langsung kamu sudah menyelamatkan aku dan kandunganku. So, terima kasih banyak, Kay."
Tidak ada jawaban. Kayla justru langsung berbalik tanpa respons dan hendak melangkah.
"Kay," panggilku lagi.
Lagi, langkahnya terhenti, mungkin dipikirnya daripada ditarik bodyguard-ku lagi, lebih baik dia berhenti, lalu ia berkata, "Aku ada penerbangan ke New York sore ini. Aku akan tinggal di sana. Maaf, aku harus pergi."
"Sebentar...."
"Apa lagi?" tanyanya, kali ini tanpa menoleh.
"Apa aku sudah aman? Apa aku bisa melepas bodyguard-bodyguard-ku?"
Dia mengangguk. "Ya. Dan sebenarnya dari awal kamu tidak memerlukan mereka."
__ADS_1