Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Nasihat Seorang Ibu


__ADS_3

"Sayang, bantu Bunda masak, yuk?" seru ibuku dari luar kamar.


Sewaktu aku membuka pintu yang sengaja kukunci, Reza tengah berdiri di belakang ibuku dengan senyumnya yang membuatku jengkel.


"Bantu Bunda masak, ya. Biar Papanya yang jaga anak-anak."


Aku mengangguk, sementara Reza langsung melangkah maju hendak mengambil bayi perempuan yang sedang berada di gendonganku. "Sini, Anggi digendong Papa, ya, Sayang," katanya. "Kakak Angga mana?"


Aku tidak menyahut, dan langsung hendak menyusul ibuku yang sudah berjalan dan turun ke lantai bawah lebih dulu. Tetapi...


"I love you, Ma," seru Reza.


Tidak mempan. "Ngomong sama tembok!"

__ADS_1


Cepat-cepat aku menutup pintu dan bergegas ke dapur. Dekat-dekat dengan Reza membuatku takut tak mampu menahan diri.


"Nak," kata ibuku, "kamu bicaranya jangan kasar begitu. Meskipun menurutmu suamimu salah, dia tetap suamimu selagi tuduhanmu belum terbukti. Jangan kasar."


Aku tahu. Tapi sikapku ini refleks. Hatiku sangat sakit hingga sulit untuk bersikap rasional. Kuhela napas dalam-dalam kemudian mengangguk. "Iya, Bund. Nara usahakan."


"Ingat, ya, sebelum tuduhanmu terbukti, kamu masih istrinya. Kamu masih wajib berbakti, mengurusi makannya, mengurusi pakaiannya, dan hal-hal lainnya."


"Halo... kamu dengar tidak?"


Kuanggukkan kepalaku pelan-pelan. "Iya, Bunda...," sahutku. "Ehm, omong-omong, Nara boleh tanya sesuatu, ya. Emm... Bunda benar-benar tidak menyesal dulu pernah memberikan kesempatan kedua untuk ayah?"


"Nak, Bunda kan sudah cerita semuanya padamu. Semua yang pernah kamu tanyakan selalu Bunda jawab," katanya. "Bunda tidak pernah menyesali hal itu, meski Bunda kena tipu dua kali. Sebab kesempatan yang Bunda berikan itu membuat kita memiliki Ihsan."

__ADS_1


Aku mengerti itu. "Bagaimana kalau seandainya di kesempatan kedua itu tidak ada Ihsan? Apa Bunda akan menyesal?"


"Kalau Bunda mengiyakan, kamu tidak akan mau memberikan kesempatan kedua untuk Reza? Iya?"


Dia sungguh bisa membaca pikiranku. "Kalau terbukti Mas Reza benar-benar membohongi Nara soal pernikahannya dengan Salsya, Nara tidak akan mau memberikannya kesempatan kedua. Tidak peduli dia melakukan itu karena terpaksa atau karena kasihan pada Salsya, Nara tidak mau memaafkannya, Bund. Kalau dia menjadikan Nara yang kedua, itu penghinaan. Kalau dia menduakan Nara, itu pengkhianatan. Terpaksa atau tidak, Nara tidak peduli. Nara tidak sudi. Nara tidak akan mengikhlaskannya. Mending cerai, terus Nara cari suami baru. Nara kan masih muda."


"Nak... jangan sembarangan ngomong... tolong dong... jaga bicaramu, Sayang. Ingat lo, kata-kata adalah doa."


Aku nyengir. "Memangnya menurut Bunda, Mas Reza jujur? Dia tidak pernah menikahi Salsya?"


Ibuku diam sejenak, dan menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyiapkan bumbu pepes ikan patin. "Bunda sudah pernah cerita, awalnya ayahmu menyangkal keras pernikahan sirinya dengan Yanti. Bunda minta dia bersumpah di bawah Al-Qur'an, dia tidak mau. Begitu juga Yanti, dia tidak mau bersumpah di bawah Al-Qur'an. Bahkan Yanti beralibi, katanya dia menikah dengan lelaki lain, bukan dengan ayahmu. Bunda minta bukti pernikahannya, dia menolak dengan dalih itu pernikahan siri, tidak ada surat menyurat dan tidak ada bukti foto. Tapi Reza berbeda, Bunda bisa melihatnya, dia bersumpah dengan sungguh-sungguh. Dia sama sekali tidak ragu, apalagi takut. Berbeda dengan ayahmu dulu yang butuh waktu berhari-hari, ujung-ujungnya dia mengucapkan sumpah palsu. Itu pun karena dia takut dengan ancaman Bunda yang ingin mendatangi pelakor itu. Insting Bunda mengatakan kalau Reza jujur, dia memang tidak pernah menikahi Salsya. Bunda tidak tahu benar atau salah. Tapi ini perasaan seorang Ibu. Sebagai seorang istri, kamu pasti lebih mengenali suamimu."


Aku bukannya tidak merasakan kejujurannya walau hanya sedikit. Tapi... dia terlalu sering membohongiku, meski selama ini aku selalu bisa memaafkannya. Tapi kalau tentang pernikahan, apa pun alasannya, aku tidak akan mau menerima. Rasa takut dan ragu lebih mendominasi daripada rasa percayaku. Nara takut tertipu, Bund....

__ADS_1


__ADS_2