Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Mendadak Bahagia


__ADS_3

Gara-gara momen di pagi itu aku mendadak ekstra bahagia di sepanjang pagi. Aku terbayang-bayang bagaimana -- aku dengan jemari yang kaku mengelus kepala suamiku dengan sayang dan memintanya bangun. "Aku mau memelukmu," kataku.


Dia mendongak, menatapku sambil tersenyum. "Serius? Benaran mau peluk? Bukan--"


"Bukan. Aku tidak akan mengusirmu. Dan ini serius, aku mau memelukmu. Sini."


Dia pun menegakkan bahu dan bertopang lutut, hingga kami bisa saling memeluk erat. Merengkuh satu sama lain dengan kuat. "Terima kasih, Sayang," ucapnya.


"Em," gumamku, "sama-sama. Aku sangat menyayangimu."


Tapi itu tidaklah cukup. Dengan gelombang emosi yang kuat di dalam benakku, aku melonggarkan pelukan, mengulurkan tangan dan menangkup wajahnya. Lalu...


Aku mencium bibirnya -- merasakan rasa manis yang masih -- dan akan selalu sama.


"Aku mau kita menikah ulang," pintaku.

__ADS_1


Tetapi Reza menggeleng. "Aku akan menikah ulang denganmu hanya kalau akad kita sudah terputus. Hanya di saat kalau aku -- dipaksa bercerai denganmu."


"Tapi, Mas...."


Ia menggeleng lagi, dan dengan lembut ia menaruh kedua tangannya di bahuku. "Aku tahu kamu ragu. Tapi aku akan berjuang mati-matian untuk mematahkan semua keraguanmu. Apa yang kamu khawatirkan tentang haram, akan kutunjukkan kalau itu halal. Dan kalau kamu melayangkan gugatan cerai, maka hakim pun akan kulawan demi memperjuangkanmu, istriku. Kamu tahu, menikah ulang itu hanya menunjukkan bahwa aku menyerah dan memilih jalan yang mudah. Aku tidak ingin seperti itu. Kamu ingin melihatku memperjuangkanmu lagi, kan? Maka ini caraku. Aku hanya akan berhenti kalau ketuk palu sang hakim sudah memaksaku berhenti. Aku akan berjuang, Sayang. Berjuang untuk menunjukkan -- bahwa -- aku tidak pernah melanggar sumpah pernikahan kita. Aku tidak akan mengambil jalan pintas yang kamu tawarkan. No. Tidak akan. Aku pastikan, kamu akan melihat perjuanganku dalam mempertahankan rumah tangga kita. Walau sampai ke meja hijau sekalipun. Pegang janjiku."


"Iya, Mas. Tapi...."


Gilirannya, dia menangkup wajahku, menatapku sejenak lalu menciumku. "Aku tahu," bisiknya pelan di telinga. "Aku tahu keraguan itu menyiksa. Dan aku tahu aku tidak akan bisa meyakinkanmu hanya dengan kata-kata. Tapi ini," ia menurunkan ritsletingku, menelusupkan tangannya dan menangkup dadaku, "ini bukan dosa," katanya dengan jemari yang bergerilya di balik gaun tidurku. "Ini bukan dosa." Dia turun, membenamkan wajahnya di dadaku dan mulai mencumbu.


"Mas...," desisku ketika merasakan *sapannya "Jangan...."


Itu -- kalimat yang cocok menggambarkan keadaan dan kegalauanku. Aku mau, tapi ragu. Menikmati, tapi tak sepenuh hati.


Tapi aku diam saja. Tanganku pun diam saja. Malah bisa dibilang aku menahannya untuk tetap di sana -- menempel padaku. Hingga dia naik -- berpindah ke leherku.

__ADS_1


"Eummmmm... stooop... Mas...."


Naif. Kalau benar-benar ingin menolak, aku tak mungkin tahu-tahu terbaring di bawah pengaruh cumbuannya, dan dia malah bisa menindihku dan menguasai tubuhku dengan bebas. Faktanya, aku menikmati setiap sentuhannya. Aku menyadari saat tangan Reza turun, dengan pelan ia menyibak gaunku, dan di saat jemari itu membelai lembut dari luar kain merah itu dan kemudian menyusup -- dia sukses membuat hasratku menyala.


Aku mau... aku mau... aku menginginkanmu...


Ingin aku meneriakkannya, tapi aku malu kendati saraf-sarafku sebenarnya menegang karena di saat bersamaan Reza turun dan berada di antara kedua pahaku. Ia membuat area pahaku polos dalam sekejap. Lalu...


Dia nakal. Bibirnya nakal. Lidahnya apalagi. Dia... dia...


"Ouw... uh... eummm, Mas... aku eummm... ja... jangaaan... kamu menyiksaku...."


Argh!


Dia berhenti. Sambil mengulum senyum ia menarik turun gaunku -- menutup kembali apa yang sudah ia lingkap di bawah sana, kemudian menarikku duduk.

__ADS_1


"Maaf sudah berbuat kurang ajar," tuturnya. "Aku hanya ingin menunjukkan -- sekaligus meyakinkanmu kalau itu halal. Dan kita bisa benar-benar melakukannya di saat kamu berkenan. Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu dengan cara paksa. I love you. Aku sayang kamu."


Dia mengecup keningku, kemudian berlalu -- meninggalkanku dalam hasrat yang tertahan.


__ADS_2