
Lagi. Ini kisah yang berulang. Aku dan Reza kembali menjalani hidup berjauhan seperti dulu. Dan kali ini, setelah aku berhasil melewati satu hari tanpa Reza, entah kenapa rasanya hambar. Aku tidak merasa sedih, aku tidak menangis, mungkin karena aku percaya pada suamiku. Tapi aku juga tidak merasakan rindu, aku tidak ingin memintanya pulang. Perasaanku jadi aneh. Hampa. Hambar. Aku bahkan tidak merasakan kebencian. Ada apa dengan hatiku? Mungkin ini yang dinamakan sudah mati rasa. Aku bahkan bisa melewati satu minggu dengan baik. Teramat baik malah.
Setiap hari Reza tidak pernah lupa mengirim pesan untukku. Meski isi pesannya begitu-begitu saja. Pesan jangan lupa makan dan ucapan selamat tidur setiap malam. Aku tidak merasa khawatir padanya yang jauh dariku. Apalagi aku tahu dia di mana, dan makannya pasti terurus dengan baik. Dalam pesannya Reza selalu bilang kalau dia merindukan aku dan anak-anaknya.
Menyadari hatiku yang mulai hambar, justru itu yang membuatku takut. Aku takut kalau aku mati rasa pada lelaki yang aku percaya dia masih suamiku. Tapi kenapa hatiku enggan memintanya kembali?
Aku menyadari sepenuhnya, ini bukan karena rasa gengsi.
Pada suatu waktu, aku membahas soal ini dengan ibuku, bahkan aku menanyakan bagaimana dengannya dulu sewaktu ayahku pergi dari rumah.
"Sama," katanya. "Dan itulah bahayanya. Perpisahan karena ada masalah besar seringkali menciptakan rasa nyaman berteman dengan kesendirian. Nyaman karena dengan begitu tidak ada pertengkaran. Kenapa bisa begitu? Kenapa bisa nyaman? Karena kamu tidak memikirkan suamimu: apa dia sedih, apa dia kesepian. Kamu hanya memikirkan kalau dia pasti makan enak dan bisa tidur nyenyak. Kamu tidak memikirkan dia secara batin dan psikisnya. Kenapa, Sayang? Balas dendam atau memang mau bercerai? Kamu... setiap kali Bunda ajak bicara, selalu menghindar. Nah, sekarang malah kebingungan sendiri dengan keadaanmu."
Ceramahnya kenapa jadi memojokkan begitu? Panjang lagi.
__ADS_1
"Bunda bukannya memarahimu atau menyalahkan dirimu, Sayang. Bunda tidak bermaksud memojokkanmu. Bunda hanya tidak mau kalian bercerai hanya karena masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan. Dia memang bersalah. Tapi dia bukan pengkhianat. Dia bukan tukang selingkuh seperti ayahmu. Hati kecilmu bilang begitu, kan?"
Aku mengangguk, dan hatiku mengakui.
"Setelah ini kamu ke kamar, pandangi anak-anakmu, dan tanya pada hati nuranimu: apa kamu mau mereka juga tumbuh besar dalam keluarga broken home?"
Aku menggeleng.
Oke, selesai. Semua cucian piring kotornya sudah selesai. Saatnya aku kabur. Aku lebih suka ibuku nyerocos sambil memunggungiku.
"Nak...," teriaknya.
Aku berbalik, sambil nyengir. "Apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Kebiasaan kabur begitu!"
Nyengir lagi aja....
"Kapan kamu mau suruh suamimu pulang?"
"Emm... nanti Nara pikirkan lagi. Ada yang mau ditanya lagi, Bund?"
"Ada, bukan pertanyaan. Bunda cuma mau bilang -- jadi janda itu tidak enak!"
Eh?
Aku juga tidak mau, Bunda.....
__ADS_1