
》 Aku sudah di rumah sakit.
《 Oke. Trims, ya, Oom.
》 Omong-omong, ada uang lemburnya, tidak? Haha
《 Haha. Minta saja ke kakak iparmu.
《 Eh, sori ralat. Minta saja ke pasiennya.
》 Hmm... masih saja. Aku saja sudah bisa berbaikan dengan kakak ipar. Kamu... kok masih saja keras kepala?
《 Hah! Disogok berapa kamu?
》 Aku bisa menilai kejujurannya. Ni, lihat, suamimu kerjanya cuma menonton video kalian terus.
Lalu Ihsan mengirimkan video singkat, seperti yang ia katakan: Reza terbaring di ranjang rawatnya dan terus menatap layar ponsel.
》Kasihan papanya anak-anak. Dia seperti sebatang kara lagi.
Aku kasihan. Tapi maaf, aku tak berkenan mengatakannya. Bukan karena gengsi. Tapi memang aku tidak berkenan.
Ting!
__ADS_1
Pesan dari Aarin. Dia mengirim sebuah rekaman suara. Hatiku langsung cenat-cenut. Aku yakin itu kabar yang tidak bagus. Tapi aku mesti tahu rekaman apa yang Aarin kirimkan ke whatsapp-ku. Yeah, aku mesti tahu. Dan...
Klik!
"Saya terima nikah dan kawinnya Salsya Aulia Putri binti Ahmad Albar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Itu suara Reza, kalimat ijab yang sangat pelan dan samar-samar. Terdengar seperti orang yang berada dalam situasi tertekan dan mengucapkan itu dengan terpaksa.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah...."
"Alhamdulillah...."
Ya Tuhan... hatiku melesak. Rasa sakit itu membuatku tak bisa menahan air mata.
Ting!
》 Bagaimana? Tidak akan penasaran lagi, kan? Tadinya aku mau kirim itu tepat di hari ulang tahun, Mbak. Tapi tidak jadi. Kupikir itu cocok dikirim sekarang. Selamat berakhir masa nifas, Mbak. Aku turut berduka.
Berengsek! Kamu sengaja, Rin. Apa salahku?
《 Thanks.
__ADS_1
Kenapa ini terjadi juga padaku, Tuhan? Apa ini tulah--
Angga dan Anggi menangis.
"Nak... Sayang... kalian lapar? Hmm? Sebentar, Sayang." Oke, rileks... tahan, Nara... kamu ibu yang kuat. Jangan menangis. Susui anakmu dan buang jauh-jauh kesedihanmu.
Kuambil anak-anakku, kususui mereka hingga kenyang dan kembali anteng. Kemudian mengembalikan mereka ke boks tidurnya masing-masing.
"Nah, sekarang aku harus apa? Aku tidak boleh terus-terusan menangis," ujarku pada diri sendiri.
Dan... pikiranku sudah ke mana-mana. Aku berencana menghubungi Rizki untuk meminta bantuan kepadanya perihal gugatan cerai supaya sah secara hukum negara. Yeah, itu langkah pertama, pikirku.
《 Hai, Kak. Selamat malam. Maaf mengganggu. Aku butuh bantuan. Aku ingin menggugat cerai Mas Reza. Kak Rizki bisa bantu aku?
Dengan ragu, dan butuh bermenit-menit bagiku untuk menekan opsi kirim, akhirnya pesan whatsapp itu pun terkirim ke Rizki.
》 Lo? Kenapa? Kamu kan baru lahiran, kok mau cerai? Pikirkan dulu matang-matang, Dik.
《 Sudah terlalu matang, Kak. Kak Rizki mau membantuku, kan?
》 Besok Kakak ke rumahmu. Kita mesti bahas soal ini lebih lanjut.
《 Oke. Aku tunggu di rumah. Terima kasih sebelumnya, Kak.
__ADS_1
Kutaruh ponselku dan aku menghempaskan diri ke tempat tidur. Sambil memejamkan mata, aku berusaha menguatkan diriku sendiri. Yeah, kukira aku sudah mati rasa, tapi ternyata tidak. Aku masih merasakan sakit yang teramat.
Mungkin ini akhir kisah cintaku. Kisah cinta yang berakhir dengan ketuk palu sang hakim. Miris sekali. Apa yang dulu terjadi pada Bunda, kini terjadi juga padaku. Kasihan sekali kamu Nara. Tapi kamu harus kuat, Angga dan Anggi membutuhkanmu. Be strong. Kamu bisa.