
Bagaimana?
Tidak sepelik yang kukhawatirkan. Hari-hari berikutnya berjalan dengan baik. Kebahagiaan kami terasa lengkap dan sempurna. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Aku dan kedua anakku pulang ke rumah bibiku dalam keadaan baik dan sehat. Boks bayi yang sudah kami pesan sebelum aku lahiran, sangat terasa cocok dan pas untuk bayi kembar kami. Warna biru dan pink dengan motif bulan dan bintang. Pun urusan Aulian, walau aku tidak tahu bagaimana urusannya, tapi bayi itu sudah diserahkan Reza pada ayah kandungnya, Nicholas. Kudengar, dia juga sudah mengurusi perubahan nama untuk bayi itu. Dia sekarang sudah menyandang nama keluarga Nicholas di belakang namanya. Nama Dinata sudah ditanggalkan, entah Reza suka atau tidak, aku tidak ingin memikirkan hal itu. Tapi aku sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Aku senang, hanya anak-anak yang terlahir dari rahimku dan yang benar-benar mewarisi darahmu yang menyandang namamu. Terima kasih, ya."
Dia tidak menyahut, hanya mengangguk, lalu memelukku dan menciumku. Aku tahu masih berat baginya untuk hal satu ini. Tapi sudahlah, aku sedang tak ingin ribut-ribut dan tidak ingin mengedepankan egoku. Aku berusaha memaklumi hal itu.
Lalu, tentang hubunganku dengan ayahku, masih dalam kategori baik. Dia sempat menemuiku di rumah bibiku sebelum ia pulang ke Palembang. Dia berjanji padaku akan memastikan semua garam yang ia miliki tak akan pernah lagi terlihat di depan mata dan kepalaku, juga orang-orangku. Kecuali dalam keadaan tidak sengaja, misalnya kebetulan berpapasan di jalan. Tapi ia memastikan, ia akan membawa pergi garam-garam itu sebelum ia menimbulkan rasa perih atau pedih di hati kami. Yeah, aku memutuskan untuk memaafkan ayahku, dan mengizinkannya datang bertemu aku dan cucu-cucunya. Ada sebuah pondokan kecil di bawah pohon rindang di belakang rumah bibiku. Ayahku bisa bermain dengan anak-anakku di belakang sana tanpa mengusik ketentraman seisi rumah, terutama ibuku dan Ihsan.
__ADS_1
Meski Ari dan Zia sudah pulang ke Lampung tiga hari setelah aku pulang dari rumah sakit, tapi itu tak mengurangi kebahagiaan di rumah bibiku yang masih ramai. Ihsan dan Aarin juga pulang ke Jakarta di hari yang sama, sekalian mereka mengantarkan Ari, Zia dan anaknya ke pelabuhan. Tapi sebelum mereka pulang, kami sempat berkumpul dan foto-foto keluarga, beramai-ramai, termasuk Alfi dan Mayra dan keempat anak mereka. Keadaan Alfi dan anak-anaknya sudah sangat membaik. Meski dengan bantuan tongkat, Alfi nampak masih punya dua kaki berkat kaki palsu yang ia pakai. Dan hal yang tak kalah membuat hatiku senang ialah keadaan Mayra, dia nampak sangat bahagia sekali. Aku tidak melihat kesedihan sedikit pun di wajahnya. Dia pun sangat senang atas kelahiran bayi kembarku yang ia anggap sebagai keponakannya sendiri.
"Aku senang melihatmu bahagia," kataku waktu itu.
Dia tersenyum. "Ya, Ra. Puji syukur, Tuhan sudah membalas kontan semuanya. Malah beserta bonus-bonusnya. Justru aku merasa sangat sempurna meski... ya kamu tahulah. Tapi tidak apa, itu ketidaksempurnaan yang menyempurnakan."
"Wow! Kamu sudah jago berpuitis, ya, ternyata."
Satu yang tidak kuceritakan padanya, juga pada siapa pun, bahwa kemungkinan yang membunuh Salsya adalah sahabatnya sendiri, Kayla -- dengan motif membalas sakit hati.
__ADS_1
"Nah, sekarang giliran aku yang memaksa. Aku punya pertanyaan."
Dia mengangkat alis. "Apa?"
"Bagaimana dengan malam-malammu?"
Dia ngakak. Respons yang jauh di luar ekspektasiku. "Tidak ada lagi kesepian... tidak ada lagi kesendirian... dan tidak ada lagi kedinginan... yang ada hanyalah... kebahagiaan, kehangatan, kenikmatan, dan kepuasan."
Ouuuuuw... luar biasa. Bahkan kau tahu, Mayra mengaku kalau dia jago memimpin permainan.
__ADS_1
Ckckck! Hebat! Benar-benar luar biasa!
Aku sangat takjub. Ketidaksempurnaan tidak lantas membuat duniamu hancur. Sebagaimana terang terbit setelah gelap, pelangi pun akan menghiasi langit setelah hujan. Maka duniamu akan kembali bercahaya dan akan kembali berwarna. Aku mulai percaya pada keajaiban itu. Tuhan maha baik.