
Tok! Tok!
"Siapa?"
"Aku," sahut Ihsan dari luar kamar.
"Masuk," kataku. Aku tak beranjak dari atas ranjang, hanya duduk bersila dengan sebuah bantal di pangkuanku.
Pintu pun terbuka. "Hai," sapa Ihsan. "Belum tidur?" Ia menutup pintu, lalu menghampiri dan duduk di hadapanku.
"Belum," kataku seraya menggeleng. "Ada apa?"
Dia diam, tapi tatapan matanya telah menjawabku tanpa kata. Pasti tentang Aarin, pikirku.
"Aku minta maaf," katanya.
"Soal?" tanyaku, pura-pura tidak mengerti.
"Soal Aarin. Dia baru cerita--"
__ADS_1
"Waw! Gerak cepat juga, ya, dia? Aku saja belum cerita ke siapa-siapa."
Ihsan mengangguk. Matanya sendu. Malam itu dia seakan tidak bisa berkata apa-apa. "Aku minta maaf."
"Bukan kamu yang salah. Dia juga tidak salah. Itu imajinasinya... dan... manusia memang bebas berimajinasi, ya kan? Tapi... ya... jujur, aku jadi tidak respect lagi pada pacarmu itu."
Ihsan menggeleng. "Hanya sebentar lagi," ujarnya. "Aku akan mengajaknya putus sekembalinya kami ke Jakarta."
Aku menghela napas dalam-dalam. Aku tidak tahu mesti senang atau justru sedih dengan keputusan Ihsan. "Demi aku? Iya?"
Ya ampun... adikku itu bukan sosok lelaki cengeng. Tapi kalau sudah menyangkut aku dan ibuku, dia seolah merasakan sakit lebih dari yang kami rasakan. Dia paling tidak bisa melihat kami disakiti. Apalagi ini dilakukan oleh orang yang sangat ia cintai. Matanya bahkan sampai berkaca dan merah.
Aku menggeleng. Kalau ditanya, mungkin aku akan menjawab bahwa aku senang kalau adikku itu mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Aariin. Kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan Aariin itu merupakan satu bukti mutlak kalau dia tidak menyayangi Ihsan sepenuhnya. Sebab, kalau dia sayang, dia tidak akan melakukan sesuatu yang sekiranya akan menyakiti hati Ihsan. Jadi, ya... terserah Ihsan sajalah. Tapi...
"Tanyakan lagi pada hatimu. Kalau hatimu rela, ya sudah -- silakan lepaskan saja. Kalau tidak, aku tidak masalah, kok. Silakan saja lanjutkkan hubungan kalian."
Ihsan tersenyum masam. "Percuma. Aku maunya menjalin hubungan dengan perempuan yang mau akur dengan keluargaku. Yang peduli pada satu sama lain. Kalau kenyataannya seperti ini, kelihatan sekali, kan, kalau hatinya tidak menyayangi keluargaku?" Dia diam agak lama. "Kalau dia punya perasaan yang sama dalamnya denganku, dia tidak akan berbuat begini."
Sekali lagi, aku menghela napas dalam-dalam. "Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Aku minta maaf, ya. Ini semua karena aku."
__ADS_1
"Kata siapa? Nggaklah. Justru dengan begini hubungan kita semakin erat, kan?"
Uuuh... dia manis sekali... kontan saja aku langsung memeluknya. Menyuruk ke dadanya.
"Yah... bagus ketahuan sekarang. Kalau sudah jadi istri baru ketahuan, bisa ribet. Nanti dia semena-mena, menyuruhku memilih antara istri atau saudari. Pilihan yang tidak masuk akal, kan? Jangan sampai kejadian seperti itu."
Benar. Lebih baik ketahuan sekarang. "Seandainya kamu sudah menikah dan punya istri model begitu, bagaimana?"
"Aku akan tetap memilih saudariku. Karena istri yang baik tidak akan pernah mengadu domba suami dengan iparnya."
Ah, kali ini mataku yang berkaca. "Terima kasih, ya. Kamu dari dulu selalu menjagaku. Hanya perempuan bodoh yang tega menyakiti lelaki sebaik kamu. Kamu benar-benar penyayang."
Ceklek!
Pintu kamarku terbuka dan Reza berdiri di sana. "Oh, ada Oom Ihsan," ujarnya. "Apa aku mengganggu?"
"Tidak," sahut Ihsan, kami melepaskan pelukan satu sama lain. "Obrolan kami sudah selesai. Aku mau balik ke kamar." Lalu ia menggenggam tanganku. "Jangan jadikan hal ini masalah dalam rumah tanggamu," bisiknya.
Aku hanya mengangguk dan membiarkannya berlalu dari kamarku. Tapi sesungguhnya, tiga permintaan di dalam naskah Aariin itu berhasil mengusikku. Apa itu fakta atau hanya sekadar imajinasi Aariin semata?
__ADS_1
Dan sejujurnya, aku mulai curiga: bagaimana faktanya?