Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Over Protektif


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, kami semua segera pulang ke rumah bibiku, lekas bersiap-siap ke panti. Acara tahlilan itu diselenggarakan pada malam jumat, satu minggu setelah lebaran idulfitri, tepatnya malam ketujuh kematian Salsya. Sesuai rencana, acara tahlilan itu diadakan di panti asuhan. Semua keluargaku turut hadir, menyempatkan datang ke acara yang kami khususkan untuk Salsya, satu-satunya yang bisa kami berikan: doa.


Sebenarnya aku tak benar-benar fokus pada acara itu. Entah kenapa, rasanya merinding. Seolah ada yang tengah mengawasiku. Entah kebetulan atau apa, malam itu Zia membawa bayinya yang tiba-tiba menangis di tengah-tengah acara.


"Mungkin masih lapar, Dek. Susuin, gih."


"Em, mungkin. Temani aku," katanya.


"Yo, wis. Ayo," kataku. Kuajak dia ke ruang bayi.


Sesampainya di sana...


Langkah kakiku langsung terhenti ketika aku menyadari keberadaan seseorang berdiri di samping tempat tidur Aulian.


"Kay?"


Aku gemetar dan mulai khawatir. Masalahnya, setiap kali aku bertemu gadis itu, suasana di antara kami selalu tidak enak, selalu dalam keadaan tegang. Dan andai saja aku tidak dalam keadaan hamil besar, aku tidak akan mengkhawatirkan keberadaan Kayla di dekatku. Untuk saat ini -- mau tidak mau, aku harus mengamankan diriku sendiri. Waspada dan berjaga-jaga.


Tetapi...


"Hai," sapa Kayla.


What? Tidak salah? Dia menyapaku?


"Apa kabar?"

__ADS_1


"Aku... baik. Ka... bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik." Dia tersenyum.


Aneh. Ada angin apa dia bisa bersikap baik seperti itu?


"Mbak, aku duduk, ya. Aku mau menyusui anakku."


Aku mengangguk pada Zia.


"Aku ke sini mau menemui Aulian," tutur Kayla. "Apa dia akan seterusnya tinggal di sini?"


Walau ragu, aku menggeleng. "Mas Reza berencana mengadopsinya," kataku. Aku masih tetap berdiri di depan pintu. Andai yang kutemui itu bukan Kayla, aku pasti sudah menghampirinya.


Aku berdeham. "Puji syukur, kandunganku baik. Anak-anakku sehat."


"Syukurlah."


Lalu hening. Kami sama-sama tidak tahu mesti membicarakan apa, kami bukan teman, bahkan bisa dibilang kami musuh. Tapi... kok bisa mendadak baik? Ada apa? Dia kesambet? Atau amnesia? pertanyaan itu memberondong otakku.


"Sayang," Reza dengan napas ngos-ngosan menghampiriku.


Aku menoleh. "Kenapa?"


Sesaat kemudian Reza baru menyadari keberadaan Kayla, juga Zia yang sedang menyusui. Dia langsung berpaling dan keluar dari ruang bayi, dan aku menyusulnya, tapi aku hanya berdiri di ambang pintu agar tak meninggalkan Zia dan bayinya bersama dengan Kayla. Entah kenapa, aku merasakan atmosfer yang menyeramkan. Aura Kayla -- dari dulu hingga sekarang, membuatku tak pernah nyaman berada di dekatnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyaku pada Reza.


"Kamu tu... kebiasaan ngilang," suaranya kembali datar.


"Aku menemani Zia, Mas. Anaknya nangis-nangis tadi mau menyusu."


"Apa pun itu, ya. Jangan jauh-jauh dariku," singitnya. "Kamu tu--"


Kayla menghampiri kami. "Aku mau pulang. Maaf, tidak bisa ikut pengajiannya sampai selesai."


Aku dan Reza hanya mengangguk, membiarkan gadis itu melangkah pergi. "Kamu tidak apa-apa, kan? Dia...."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku dan Kayla tidak bertengkar. Tidak tahu tu, kok tiba-tiba dia bisa ramah, ya? Aneh."


Reza menarik napas lega. "Mungkin dia sudah dapat hidayah," sahutnya santai. "Apa pun itu, syukur dia tidak kasar padamu tadi."


Aku mengangguk, dan nyaris bengong -- maksudku aku masih berkutat dengan pikiranku sendiri.


"Acara sudah hampir selesai tadi, kita langsung pulang, ya. Biar nanti karyawan-karyawan resto yang beberes."


Aku mengangguk lagi. "Kamu tunggu di sini, aku mau melihat Aulian dulu sambil menunggu Zia juga."


"Pelan-pelan, jangan menggendong bayi. Dengarkan aku, ya."


Hmm... oper protektif sekali.

__ADS_1


__ADS_2