
》Rin, aku tidak akan ikut campur dengan hubunganmu dan Ihsan. Tapi tolong, beritahu aku, ceritamu itu berdasarkan kisah nyata atau hanya sebatas imajinasimu saja? Dan satu hal lagi, apa benar di antara Mas Reza dan Salsya -- mereka terikat hubungan pernikahan? Tolong jawab aku, Rin.
Harap-harap cemas. Aarin langsung membalas pesanku. Dan...
Hatiku melesak.
》Asal Mbak janji, jangan bawa-bawa namaku atas apa pun yang akan terjadi di antara Mbak dan Mas Reza.
《Oke, aku janji. Aku tidak akan menyebut-nyebut namamu. Apalagi di depan Mas Reza. Please, katakan yang sejujurnya.
》Oke. Tapi sori, Mbak, aku tidak tahu benar atau salah, dan aku juga tidak punya bukti apa-apa, tapi setahuku iya. Di antara mereka terikat hubungan pernikahan. Dan tentang apa yang terjadi di akhir hayat Salsya, memang begitu kejadiannya.
Ya Tuhan....
Apa aku harus percaya pada pengungkapan Aarin? Kalau aku bertanya pada Reza, belum tentu dia akan jujur. Harus bagaimana aku membuktikan semua ini?
Ting!
Whatsapp dari Aarin kembali masuk.
》Mbak bisa tanya ke Mas Reza. Tapi jangan salahkan aku kalau dia tidak jujur. Dan jangan tanya dari mana aku tahu. Plus, jangan memaksaku. Juga jangan bilang pada Ihsan kalau aku tahu semua ini. Sekalinya Mbak curang padaku, aku tidak akan mengatakan apa pun lagi ke Mbak.
Kuhela napas dalam-dalam. Rasa sesak sudah mumpuni di benakku.
__ADS_1
Sabar, Nara. Apa pun yang terjadi, jangan ribut-ribut di sini. Ini rumah orang, dan aib ini juga harus kamu tutupi dari semua keluargamu. Baiklah, akan kuselesaikan semua ini di Jakarta.
Kutatap lagi layar ponselku dan mengirimkan pesan whatsapp ke ayahku.
《Aku mau pulang ke Jakarta. Kira-kira, apa diperbolehkan? Apa pihak berwajib akan melarang?
Ting!
Balasan whatsapp dari ayahku langsung masuk kurang dari satu menit.
》Boleh, Sayang. Ayah sudah urus jaminan untukmu. Kamu bisa kembali ke Jakarta kapan pun. Tapi belum bisa ke luar negeri, ya.
Aku tahu, dan aku juga sama sekali tidak punya rencana ke luar negeri.
》Sama-sama, Sayang. Apa pun untukmu. Ayah menyayangimu, Nak.
Aku juga sudah mulai sayang, tapi aku enggan mengatakannya. Aku tidak ingin dia tahu kalau dia memiliki sedikit tempat di hatiku.
"Bahas apa tadi dengan Ihsan? Kelihatannya serius sekali?" tanya Reza. Dia baru saja keluar dari kamar mandi.
Aku menggeleng. "Bukan apa-apa. Hanya tentang dia dan Aarin," kataku -- sedikit ketus dan tanpa menoleh sedikit pun.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
"Sakit? Tidak enak badan?"
"Aku tidak apa-apa."
Dia menghampiriku. Lalu duduk di sebelahku. "Perempuan itu kalau bilangnya tidak apa-apa, pasti ada sesuatu yang dipikirkan."
"Aku tidak apa-apa."
"Serius? Kamu bisa cerita padaku kalau--"
"Aku tidak apa-apa! Ngerti?"
Reza tertegun. Nada bicaraku cukup tinggi. Dan untuk sesaat Reza hanya bisa terdiam.
"Maaf," kataku. "Aku tidak bermasud...."
Dia mengangguk. "Istirahat," katanya. "Kamu capek? Mau aku pijit?"
Ya Tuhan, Mas... aku khawatir... bagaimana kalau ternyata di antara kamu dan mendiang Salsya memang sudah terikat hubungan pernikahan? Andai semua itu benar-benar fakta yang terjadi, itu berarti aku bukan muhrimmu lagi. Akad-mu atas diriku sudah luruh. Tuhan... tolong aku. Tunjukkan kebenarannya, Tuhan.
Tak terasa, ternyata mataku sudah berkaca dan air mataku mulai menetes. Lekas-lekas aku menyekanya, berbaring dan menarik selimut.
__ADS_1
Selamat malam, Mas. Apa pun yang terjadi esok, entah aku masih bisa bersamamu atau tidak, yang pasti saat ini aku sangat mencintaimu.