
Empat hari menjelang ulang tahunku yang ke-26, kami mendapatkan kabar kalau Reza tengah dirawat di rumah sakit. Kata Erik sudah tiga hari Reza mendapat perawatan intensif karena terjangkit demam berdarah.
"Pak Reza meminta saya untuk tidak mengabari siapa pun, tapi saya tidak tega," kata Erik. "Saya tidak bisa dua puluh empat jam menjaganya karena ada banyak pekerjaan di resto. Jadi... maaf, saya harap Bu Nara berkenan menjenguknya."
Dengan angkuh, aku berdiri saja sambil memandang ke luar jendela meski telingaku mendengar penuturan Erik, dan... hatiku tersentuh. Aku kasihan pada seseorang yang kuacuhkan keberadaannya karena egoku yang saat ini berada di tingkat paling tinggi.
Setelah menyampaikan maksud kedatangannya dan memberikan informasi tentang keadaan Reza dan di mana ia dirawat, tanpa banyak basa-basi -- Erik pun pamit undur diri.
"Jadi, bagaimana?" tanya ibuku. Ia tengah berjibaku dengan nampan minuman di atas meja.
Aku menggeleng. "Aku tidak akan ke sana," ujarku, tanpa mengalihkan pandangan.
"Masih mau mengedepankan ego, Nak?"
"Entahlah, Bund."
"Memangnya kamu tidak kasihan?"
Aku diam.
"Nak, jujur, rasa kasihan itu ada, kan?"
__ADS_1
"Em," aku mengangguk, "ada, Bund."
"Lalu? Kenapa kamu tidak--"
"Hati Nara menolak, Bund. Masih berat."
"Emm... oke...." Ia berdeham. "Bagaimana dengan perasaanmu? Masih cinta? Masih sayang?"
Sekali lagi, aku menggeleng. "Tidak tahu. Mungkin masih, mungkin juga tidak."
"Kamu ingin bercerai?"
Aku menunduk. Untuk pertanyaan satu ini aku tidak bisa mengiyakan. Meski sejuta kali pertanyaan itu dilontarkan, aku tak akan bisa mengiyakan.
"Apa semata-mata karena anak-anak?"
"Bukan," kataku seraya menggeleng lagi.
"Apa karena khawatir pada pandangan keluarga dan masyarakat? Tidak ingin digunjingkan karena menyandang status janda?"
Kuhela napas dalam-dalam, lalu kukatakan, "Nara tidak ingin bercerai, karena hati Nara tidak menginginkan itu. Kecuali jika sumpah pernikahan kami memang sudah dilanggar oleh Mas Reza, Nara ikhlas, atau jika Mas Reza yang ingin menceraikan Nara, Nara ikhlas. Tapi kalau ditanya mau atau tidak, Nara tidak mau."
__ADS_1
Desaha* lega akhirnya lolos dari bibir ibuku. "Itu artinya kamu masih menaruh harapan. Iya, kan?"
"Em, mungkin. Nara sendiri bingung. Nara tidak mau memintanya pulang, Nara tidak mau menemuinya. Tapi...."
Ibuku tersenyum. "Kalau dia pulang, kamu tidak akan mengusirnya, kan?"
Aku diam saja. Aku tahu aku tidak akan mengusirnya. Dan itu pasti. Tapi aku juga tidak ingin ibuku membujuknya untuk pulang.
Intinya, lebih dari sembilan puluh persen persoalan dan tanda tanya di dalam hatiku, jawabannya berujuk pada kata "tidak tahu." Hanya ketika ditanya tentang perceraian -- hatiku bisa menjawab dengan lantang: aku tidak menginginkan perceraian, kecuali bila aku dipaksa menerima perceraian itu, maka aku akan ikhlas menerimanya.
"Bunda ingin ke rumah sakit. Kamu yakin tidak mau ikut?"
"Tidak, Bund. Bunda saja. Dan kalau bisa, nanti malam minta tolong pada Ihsan untuk menemaninya di rumah sakit."
"Oke. Nanti Bunda bilang ke Ihsan, ya." Lalu ia tersenyum. "Bunda tahu kamu masih peduli. Doa dan harapan Bunda masih sama."
Aku tahu, Bund. Rasanya, begitu juga denganku. Aku masih menyimpan harapan pada pernikahan ini. Aku tidak ingin kami bercerai. Untuk ke sekian kali, aku menghela napas dalam-dalam. "Bund, tolong jangan bujuk dia pulang, ya. Emm... maksud Nara, tidak perlu dibujuk, apalagi sampai memohon. Biarkan dia punya usaha sendiri untuk memperbaiki keadaan. Please...."
"Bunda tahu, Sayang. Bunda tidak akan melakukan itu. Tapi, Bunda akan menyampaikan tentang perasaanmu yang sulit dimengerti itu."
Yeah, terserah. Tanpa Bunda jelaskan, kurasa dia pun sudah tahu dan sudah mengerti. Hanya saja, Mas Reza takut jika ia memaksakan diri untuk menemuiku, dia takut kami bertengkar lagi. Aku tahu dia takut aku tertekan dan itu akan memperburuk keadaan di antara kami. Bisa dibilang, kami sama-sama tahu situasi, kami mengerti keadaan satu sama lain. Tapi semua yang sudah terjadi di masa lalu, itu sudah seperti pedal gas dengan rem yang terlanjur blong. Sedikit saja ditekan, kita tidak tahu bagaimana akhirnya, dan bagaimana cara kita akan berhenti? Montirnya hanya Tuhan -- hanya Dia yang mampu memperbaiki apa yang sudah rusak di antara kami: hati, cinta, dan kepercayaan.
__ADS_1