
Sialan!
Reza langsung mengulum senyum saat melihatku keluar dari kamar. Dia sengaja selonjoran di sofa dan persis menghadap ke arah pintu. Melihat pintu terbuka dia langsung beringsut duduk, menyimpan ponselnya ke saku, kemudian berdiri.
"Apa sih...?" rengekku. "Jangan senyum-senyum begitu...."
Menjengkelkan. Aku malu, tahu!
"Sini, Anggi ikut Papa," katanya sembari menghampiri kami."
"No...," sergahku, kupalingkan Anggi darinya. "Gendong Angga saja. Dia masih di boks."
"Oh, oke, Ma." Dia tersenyum semringah dan super renyah serenyah rengginang yang baru digoreng. Reza pun lekas masuk ke kamar.
Aku yang merasa malu karena kelakuannya sebelum subuh tadi -- cepat-cepat turun ke lantai bawah dan menaruh Anggi di matras depan tv. Rasanya aku kepingin kabur supaya bisa menghindari tatapan mata Reza yang bisa membuat jantungku berdetak-detak dengan kencang.
"Ih, lama...," aku pura-pura protes pada Reza yang baru menuruni tangga. Sementara dia masih dengan senyuman yang sama, yang membuatku salah tingkah.
__ADS_1
Dengan lembut, ia menaruh Angga di samping Anggi. "Mama cerewet, ya, Sayang," katanya pada kedua bayi itu.
Fix! Semua orang yang mengira hubungan kami sudah membaik seratus persen, semuanya nampak tersenyum -- yang kurasa sedikit mengandung ledekan yang ditujukan kepadaku.
"Uuuh... senangnya cucu-cucu Nenek, sudah bisa digendong Papa lagi, ya?"
Yeah, itu pertama kali Reza bisa kembali menyentuh anak-anaknya setelah hampir dua bulan terpaksa menjaga jarak dan sekian lama pergi dari rumah. Binar-binar bahagia terukir jelas di wajahnya. Senyumnya tak pernah semerekah itu selama dua bulan terakhir. Dia bahagia sekali bisa memeluk, menggendong, dan mencium mereka lagi.
"Baiklah. Berhubung papanya sudah bisa menjaga anak-anak, jadi silakan. Selamat menikmati waktu dan kebersamaan kalian."
"Jadi, mulai malam ini kalian sudah sekamar lagi, kan?" tanya ibuku.
Aku mencebik. "Bunda kepo!" sahutku.
Demi Tuhan aku hanya bercanda, tetapi tidak bagi ibuku.
"Kepo?" katanya. "Kamu bilang Bunda kepo?"
__ADS_1
Aku tertegun. Kenapa ibuku nampak serius sekali pikirku.
"Terus, kamu mau Bunda cuma diam saja seperti mertua Bunda dulu? Atau mendukung kalian supaya terus-terusan ribut dan memilih cerai seperti yang disuruh nenekmu dulu, begitu?"
Wah, asli, ibuku benar-benar marah. Dalam kelebat yang bersamaan, ribuan tanda tanya menyergapku. Kenapa? Ada apa? Dia bahkan tidak pernah marah padaku setelah aku beranjak dewasa.
"Bund," kataku, kuhampiri dia dan aku berniat meminta maaf. Tapi ia malah menggeleng, menepis tanganku, dan hendak berlalu. Seketika itu juga aku meraih tangannya. "Kenapa? Bunda benaran marah?" tanyaku. "Nara cuma bercanda. Maaf, ya, kalau Nara salah bicara. Nara tidak bermaksud--"
Dia terisak. "Terserah kamu," ujarnya. "Kalau kamu tidak mau Bunda ikut campur, biar Bunda pergi dari sini."
"Lo, kenapa, sih? Bunda tu kenapa?"
Dia melepaskan tanganku darinya. Mengusap air matanya lalu menggeleng. "Maaf--"
"Bund...," aku merosot ke lantai memeluk kakinya, "Nara minta maaf...."
Dia mengelus kepalaku, membuatku mendongak dan melepaskan tanganku dari kakinya. Tapi aku salah, aku lengah. Ia justru berlalu begitu cepat tanpa sempat aku berdiri dan mengejarnya. Aku hanya mampu berteriak memanggil-manggilnya dengan suaraku yang tercekat. Aku menangis.
__ADS_1