Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Kecelakaan Tragis


__ADS_3

Tum!


Kasak-kusuk, kasak-kusuk!


Kecelakaan lalu lintas terjadi. Mobil yang tadi menyerempet kami mengalami rem blong. Di depan sana, ia meyeruduk motor yang sedang ditumpangi oleh pasangan suami istri yang berboncengan. Mereka terseret bersama motornya di bawah kolong mobil itu. Seorang pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan pun tak luput dari terjangan mobil yang tak terkendali itu. Ia terpental dan kepalanya membentur aspal jalanan yang basah. Kepalanya rengkah. Sebelum terhempas ke jalan, tubuhnya membentur pengendara motor lainnya, seorang bapak dengan anaknya yang sedang berboncengan. Motor itu terjatuh, namun bapak pengendara motor itu berhasil merangkak dan menepi. Malang bagi bocah yang dibonceng itu, tubuhnya terguling ke jalan kemudian terlindas sebuah sedan dari arah belakang. Peristiwa itu berlangsung sangat cepat.


Naasnya, sedan yang baru saja melindas bocah itu ikut kehilangan kendali dan akhirnya banting setir dan terbalik.


Ho! Napasku terengah. Aku tak henti menjerit dan berteriak ketakutan. Pandanganku gelap, mataku nanar. Mobil itu keluar dari jalan dan berhenti. Kecelakaan beruntun telah usai. Masa mulai heboh menghampiri semua korban. Mereka berhamburan mendekati dua mobil yang ringsek. Ada yang berteriak-teriak memberikan instruksi, ada yang menangis, ada yang menutup mulutnya, tercekat. Seketika suasana jalanan menjadi riuh rendah. Kemacetan parah pun terjadi. Orang-orang berbagi peran untuk menolong para korban, satu sisi di mobil pertama, di kolong mobilnya ada motor, dan mobil satunya...


"Alfi?"


Dalam kesadaran yang tak fokus, kendati rasa takut dan ngeri menguasai, aku tersentak saat Reza menggumamkan nama sahabatnya itu.

__ADS_1


Alfi dan keluarganya.


Ya Tuhan. Aku menangis dan menjerit histeris. Jantungku berdetak tak beraturan.


Ini kenyataan. Untuk pertama kalinya aku melihat -- banyak orang yang mati secara tragis di depan mata kepalaku. Aku benar-benar shock.


"Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana!"


Aku menggeleng kuat. "Aku ikut!"


Tidak peduli dengan hujan yang lebat, Reza langsung keluar untuk memberikan pertolongan pada keluarga sahabatnya. Sementara aku gusar di dalam mobil, aku tidak bisa berdiam diri. Aku pun keluar, diikuti seorang bodyguard yang menungguiku di luar mobil.


"Jangan keluar, Bu...," serunya. "Hujan, licin...."

__ADS_1


Aku tak peduli.


Dan, sesampainya di sana...


Sang Babysitter, tewas di tempat.


Penumpang lainnya, Alfi dan Dinda terluka parah, juga kedua anaknya, mereka mengalami luka yang cukup parah.


Dan...


Puji syukur, Ehan, bayi laki-laki delapan bulan itu selamat -- terlindung dalam dekapan babysitter-nya. Ketika aku sampai, Reza sudah mengambil Ehan dari tangan seseorang yang melepaskan bayi itu dari bebysitter yang meninggal. Menyadari keberadaanku, Reza memberikan bayi itu kepadaku dan menyuruhku segera kembali ke mobil.


Terlalu banyak korban yang harus dievakuasi, tidak memungkinkan hanya mengandalkan ambulans. Reza memohon-mohon meminta pertolongan orang-orang untuk membantunya membawa keluarga Alfi ke rumah sakit, entah menyalahi aturan atau tidak, ia tidak peduli. Yang ia tahu, ia ingin semua keluarga Alfi cepat-cepat dibawa ke rumah sakit. Sementara aku cepat-cepat ke mobil sambil mendekap Ehan. Di mobil, aku segera meraih tas dan membukanya, mengambil handuk kering untuk mengelap tubuh Ehan yang basah. Kubuka semua pakaiannya, mengelapnya dan mengusapnya dengan minyak telon, lalu membungkusnya kembali dengan handuk.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Reza datang bersama dua orang bodyguard dan membawa kedua anak Alfi, satu duduk di depan memangku Bella, satunya duduk di sampingku, memangku Claudya. Sementara dua bodyguard lagi mengurusi Alfi dan Dinda. Tak peduli apa pun lagi, Reza langsung mengebut mobilnya melaju ke rumah sakit.


__ADS_2