
Aarin tidak begitu jahat.
Itu yang ada di dalam benakku. Aku yakin, dia sama sepertiku, ada dorongan dari dalam diri kami untuk membalas rasa sakit hati kami kepada orang yang menurut kami bersalah: orang yang telah merusak masa kecil kami. Memamg dia salah karena dia membalaskan dendamnya pada Reza, orang yang sebenarnya tidak bersalah padanya dan ibunya. Tapi aku tak layak menghakimi Aarin.
Berkaca dengan masa laluku. Aku dulu pun seperti itu, menyakiti anak-anaknya Yanti, padahal mereka tidak mengerti apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa semasa kecilnya dulu. Ibunya yang salah, si Sandra Wijayanti itu. Janda genit yang menyuguhkan tubuhnya pada ayahku yang hidung belang.
Tetapi mengenai peristiwa pembunuhan malam itu, apa itu murni dari kegilaan Salsya sendiri atau dia dihasut -- oleh Aarin? Mungkin. Target penusukan itu sebenarnya aku, dan otomatis juga anak-anakku. Kalau aku dan anak-anakku tewas, tentu saja itu akan membuat Reza mengalami luka kehilangan yang sangat mendalam. Dan, itu pasti setimpal bagi Aarin apabila ia bisa menyaksikan Reza mengalami duka yang bertubi-tubi. Tapi kebenarannya siapa yang tahu? Dan Kayla, bagaimana bisa dia -- kebetulan ada di TKP pada malam itu? Apa Salsya sudah merencanakan hal itu dan Kayla mengetahui rencananya itu? Tapi niat Salsya sebenarnya adalah bertemu Reza, bukan bertemu aku. Dan lagi, bagaimana Kayla bisa punya peralatan lengkap: jubah hitam, topeng, sarung tangan, obat bius. Seolah dia sudah merencanakan dan memang mengikuti Salsya. Tapi di balik itu semua, akulah yang paling bodoh. Sementara mereka semua dengan persiapan senjata masing-masing, lah aku? Tangan kosong, malah bermodal kamera. Sinting!
Dan sekarang, bagaimana dengan perasaan Reza setelah mengetahui latar belakang Aarin? Kenapa dia tidak meneleponku?
Oh, Nara... mungkin dia pikir kamu tidak akan peduli. Tapi setelah kepedulianku tadi pagi, harusnya dia tahu kalau aku peduli padanya. Harusnya dia tahu. Iya, kan? Baiklah, pikirku. Mari melunak dan menghubunginya duluan.
Tut... tut... tut... akhirnya panggilan tersambung.
Tapi hening.
Dengan hati berdebar, aku pun mengucapkan salam, lalu bersahut -- dengan suara serak.
"Kamu kenapa?" tanyaku.
"Tidak apa-apa," sahutnya.
"Cerita, Mas...."
Desaha* berat di ujung telepon menyapu telinga. "Apa yang mesti kuceritakan? Tidak ada apa-apa. Nihil. Aku tadi sudah ke kantor polisi, mengecek rekamanmu waktu itu. Nihil. Kameranya mati setelah jatuh, jadi rekamannya hanya sebatas pas kalian berdua masih di ruang tamu. Bodoh memang, aku sudah pernah melihatnya. Untuk apa aku berusaha meyakinkan diri ada lanjutannya? Pun di ponsel Salsya juga tidak ada apa-apa, bahkan tidak ada kontak dengan Aarin."
__ADS_1
Sudah kuduga. Aarin tidak sebodoh itu. Aku berdeham. "Tidak apa-apa," kataku. "Sekarang kamu di mana?"
"Di pemakaman. Ziarah."
"Oh, oke. Emm...."
"Soal Aarin... kamu sudah dengar dari Ihsan?"
"Ya, Mas. Sudah."
"Ya, kalau tahu ada yang mau dia bicarakan, aku tidak akan berangkat sepagi tadi."
Hening.
"Emm?"
"Ba--"
"Aku minta maaf."
"Hm?"
Ia mendesa* lagi. "Kesalahanku dan keluargaku pada keluarga Aarin dulu -- sudah membuat...."
"Aku mengerti, Mas. Kita hadapi dan kita lewati ini bersama. Aku berharap aku akan terus menjadi istrimu."
__ADS_1
Dia mengaminkan. "Harapan yang sama. Dan itu pasti. Aku tidak akan menyerah meski nanti kamu melayangkan gugatan cerai."
Mungkin aku tidak akan melayangkan gugatan cerai, Mas. Aku lebih ingin kita menikah ulang. Karena nyatanya aku tidak akan pernah rela melepaskanmu.
"Sayang?"
"Emm?"
"Aku mau minta izin."
"Izin apa?"
Dia bergumam lama. "Aku mau ketemu Nicholas," katanya pelan. "Boleh aku ke rumahnya? Maaf, aku tidak mau kamu berpikir kalau aku ke sana sengaja untuk menemui Aulian. Bukan. Aku tidak berniat seperti itu."
Hmm... baru mengerti sekarang atas rasa paranoidku? Aku berdeham pelan. "Iya, boleh. Kan dia sudah bersama ayah kandungnya dan ibunya juga sudah tiada."
"Kalau ke makam Salsya, apa boleh?"
Aku merengut. "Mau apa?" protesku.
"Cuma mau ziarah, Sayang. Mendoakan dia, terus mau tanya-tanya ke penjaga makam, mungkin ada yang pernah datang ke sana, pokoknya aku mau cari petunjuk dalam bentuk apa pun. Demi kamu. Demi bersamamu." Lalu hening sejenak. "Oh, wait, sebentar, Sayang, aku bukan mendatangi makam istriku. Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Tidak apa-apa kalau kamu tidak mengizinkan."
Tenang, Nara. Tenang. "Oke, kamu boleh ke sana. Tapi jangan lama-lama. Cukup berdoa dan jangan cium batu nisannya. Jangan buat aku cemburu. Paham, kan?"
Tut! Sambungan telepon terputus.
__ADS_1