
Angga terbangun dan suara tangisnya memanggilku untuk segera naik ke lantai atas. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan Reza dan ibuku selanjutnya, tetapi saat bersama anak-anak itulah aku mencoba berpikir serasional mungkin. Aku mengingat masa perpisahanku dan Reza akhir tahun lalu, sewaktu Salsya datang dan meminta restuku -- jelas, waktu itu Salsya bilang mereka belum menikah. Berarti Reza tidak menjadikan aku yang kedua. Dia tidak menempatkan aku di posisi terhina -- perebut suami orang. Itu berarti hanya ada kemungkinan kedua: mungkin dia menduakan aku. Tetapi...
Seburuk-buruknya Reza, dia cukup paham ajaran agama. Mungkinkah demi Salsya dia sanggup menjadikan ikatan cinta kami menjadi sebuah perzinahan? Karena faktanya, sebelum dan sesudah pembunuhan itu, aku dan Reza sudah seringkali berhubungan suami istri. Bukankah percuma ketaatannya kepada Tuhan jika dia juga berkubang dalam genangan penuh dosa?
Tapi yang dikatakan Aarin tentang permintaan Salsya di akhir hidupnya, itu fakta. Berarti ada kemungkinan kalau pernikahan itu juga fakta. Tapi bisa juga fitnah. Entahlah, yang jelas pikiranku mengembara selama sekian belas menit sambil aku menyusui putra kecilku. Angga.
"Sayang?"
"Em, ya, Bund?"
"Belum selesai miminya?"
"Belum," kataku. "Kenapa?"
"Tidak ada. Bunda cuma mau menggantikanmu. Bunda sudah selesai masak, sudah Bunda hidangkan. Kamu temani suamimu makan, ya?"
Harus gitu? Kalau kami berduaan, dia pasti akan mencari-cari kesempatan.
"Nah, Angga sudah kenyang. Sini, sama Nenek."
__ADS_1
Duuuh... bagaimana ini...?
"Sayang, sana turun. Suamimu menunggu."
Kuhela napas dalam-dalam dan aku segera bangkit. Dengan lunglai, kulangkahkan kakiku hingga sampai juga di ruang makan.
"Sini, Sayang. Duduk sini, kita makan."
Ayo dong, Nara... percaya saja dulu kalau Aarin hanya memfitnah suamimu.
Aku pun mengangguk lalu duduk. Saat itu Reza sudah memegangi piringnya dan hendak mengambil nasi.
Reza tersenyum senang. "Terima kasih, Sayang."
Sayang, Sayang, Sayang. Awas saja kalau kamu benaran menipuku dengan menikahi perempuan itu diam-diam. Kupastikan surat gugatanku benar-benar melayang kali ini.
Selama beberapa saat kami hanya diam dan menyantap makan malam itu dalam kesunyian. Tidak seorang pun mengeluarkan suara. Reza pasti takut kami bertengkar dan makan malam itu bubar. Sebab itu dia memilih diam. Dia sudah paham cara menghadapiku. Tapi heran, kenapa dia tidak paham-paham juga kalau aku menginginkan kejujurannya -- sepahit apa pun itu? Karena rasanya lebih sakit ketika kita mengetahui kebohongan suami kita dari orang lain.
"Mas?"
__ADS_1
"Emm?"
"Kamu tahu, kan, kalau kamu menikah diam-diam itu artinya--"
"Aku tahu, Sayang," potongnya. "Aku tahu kalau aku melanggar sumpah pernikahan kita -- itu berarti akad kita gugur."
Aku mengangguk. "Kamu tidak mau kita berzina, kan?"
"Aku tidak mau, dan itu tidak terjadi. Kamu masih istriku. Mahromku yang halal."
Syukur kalau memang kenyataannya memang seperti itu, Mas. Tapi kebohonganmu selama ini membuatku terlanjur ragu.
"Kenapa? Kamu masih meragukan aku?"
"Em, sangat. Bagaimana kalau kita menikah ulang?"
"Tidak," tandasnya seraya menggeleng. "Hubungan kita ini halal. Masih halal. Tidak perlu ada pernikahan ulang."
Masih dengan keraguan yang sama, kutundukkan sejenak kepalaku, kemudian kutatap mata Reza dalam-dalam. "Tapi aku ragu, Mas. Kurasa itu solusi yang terbaik untuk pernikahan kita."
__ADS_1
"Tidak. Menikah ulang denganmu -- itu berarti sama saja aku mengakui adanya pernikahan antara aku dan Salsya. Aku sangat paham bagaimana jalan pikiranmu. Please, tolong kamu percaya padaku. Kita -- seratus persen masih halal."