
Sudah jam sepuluh lewat ketika kami sampai di rumah bibiku. Tidak ada waktu mengobrol, semua orang sudah kelelahan dengan aktivitas masing-masing di pagi hingga sore, sehingga sepulang dari panti, kami semua segera masuk ke kamar masing-masing.
Setelah memastikan pintu terkunci, Reza lekas-lekas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Pun aku, kutaruh tas tanganku di atas nakas dan melepaskan kerudungku dan menaruhnya ke dalam keranjang pakaian kotor. Aku langsung masuk ke kamar mandi saat Reza keluar. Lalu...
Reza yang sudah bertelanjang dada langsung menarikku ke dalam pelukannya dalam gerakan cepat dan luwes -- persis setelah aku keluar dari kamar mandi dan menutup pintu di belakangku. Dia membuat napasku seakan terhenti. Mulutnya langsung menjelajahi seputar telinga dan leherku, lalu perlahan ke bibirku. Bibir kami bertemu, dia mengulu* bibirku, dan meluncur keluar masuk dengan pelan dan mesra. Rasa panas mulai menjalar, dan suatu kebutuhan mendasar yang ganas bangkit di dalam diriku saat Reza menempelkan tubuhnya di tubuhku, seakan kami sudah lama tidak melakukannya.
Bibirnya terasa sempurna, hangat dan sedikit manis. Dia menyapukan mulutnya kembali ke leherku, menggigit ringan, mengisa* lembut, dan menggesek kulitku dengan bakal janggutnya. Hidungku mengembang, menghirup aroma musk hangat di tubuhnya. Kubiarkan tangannya meluncur turun dari bahu ke pinggang, dengan jemarinya menarik perlahan gaun tidurku hingga terjatuh.
"Malam jumat," bisiknya, seraya menyusurkan telapak tangannya di sekitar pinggangku lalu naik ke bagian atas tubuhku, tangannya berhenti di dadaku dan membelaiku dengan lembut. Aku bisa merasakan panas tubuhnya dan kekuatan yang meluap di dalam dirinya. "Aku merindukanmu."
__ADS_1
Dan kemudian, aku tak pernah mengingat bagaimana persisnya, Reza merebahkan tubuhku di ranjang dan berkutat dengan pakaian *alamku, lalu dengan celananya sendiri. Dan akhirnya kami sama-sama dalam keadaan polos. Kebutuhan mendasar dan tanpa ampun, ketidaksabaran Reza tampak nyata. Dengan geraman jantan, ia merentangkan tubuhku dengan jemarinya. Merasai sentuhannya, aku bergidik, membuka diri baginya. Mata Reza menyala liar.
"Kamu masih suka ini?" bisik Reza, dengan ringan ia menyapukan lidahnya di puncak saharaku. Aku mengiyakan, lalu bibirnya melusuri lagi lekukan telingaku dan menyapukan lidahnya di sekitar telinga bagian dalam. "Bagaimana dengan ini? Hmm?"
Aku tersenyum. "Aku menyukai semua sentuhanmu," kataku.
Kilasan rasa nyeri yang tajam membangkitkan gairahku dengan liar. Secara naluriah, pinggulku tersentak di ranjang, luapan hasratku semakin bertambah, panas, membanjiri perut hingga ke inti. Kemudian ia meletakkan tangannya di atas pahaku, membukanya lebar. Dengan lembut, ia menekankan bibirnya di sana, lalu memainkan lidahnya, lalu menggigit kecil, dan menikmati kemanisannya. Dia benar-benar membuatku bahagia, dicumbu dengan penuh cinta. Oleh suami yang mencintaiku, yang sangat kucintai. Kemudian...
Dia memasukiku. Dalam dan penuh.
__ADS_1
Aku merasakan tanganku mengepal ke dalam seprai. "Eummmmm...."
Ah, andai saja tidak dalam keadaan hamil, ingin sekali rasanya aku bercinta segila-gilanya. Aku merindukan kegilaan suamiku.
Tetapi, apa mau dikata. Hanya permainan lembut.
Well, kupejamkan mataku dengan rapat, merasakan ia keluar masuk, memompa dengan penuh perasaan dalam tempo cukup lama, panas, penuh nafs*, cinta, dan rasa membutuhkan -- hingga selesai, lalu ia roboh terkulai, gemetar di sampingku.
"Terima kasih, Sayang. Mimpi yang indah, ya. Aku mencintaimu."
__ADS_1