Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Penyesalan


__ADS_3

"Sabar," kata Reza, dia langsung memelukku. "Kamu harus tenang, oke? Mungkin Bunda lagi kecapekan, atau mungkin ada masalah. Biar Bunda menenangkan diri dulu."


Ihsan yang saat itu ada di halaman belakang masuk secepat kilat. Dia berlari dan ngos-ngosan dengan lembaran daun pisang dan sebuah pisau di tangannya. Dia panik. "Kenapa?" tanyanya. Lalu ia menaruh semua yang ada di tangannya ke atas meja dan segera menghampiri kami.


"Bunda kenapa?" tanyaku. "Kenapa dia emosi begitu?"


Ihsan menggeleng -- berusaha menyembunyikan sesuatu dariku. "Biar aku yang menemui Bunda," katanya, dan ia turut berlalu.


"Bunda kenapa, Mas?"

__ADS_1


Sama, Reza juga menggeleng. "Aku tidak tahu pasti," katanya. "Tapi akhir-akhir ini... ayahmu sering menelepon. Dia juga whatsapp. Yah, dia marah-marah karena dia baru tahu tentang masalah kita. Mungkin... dia marah karena tidak ada yang memberitahukan tentang keadaan anaknya. Mungkin. Aku tidak tahu."


"Terus? Kenapa Bunda marahnya ke aku?"


Pertanyaan itu terlontar. Untuk sesaat aku tidak peka. Aku tidak tahu apa saja yang dikatakan ayahku padanya. Mungkin ada suatu hal yang menyinggung perasaan ibuku.


"Aku harus menemui Bunda. Aku harus minta maaf," kataku.


"Tapi nenekmu tidak bersalah...."

__ADS_1


"Ya siapa juga yang bilang nenek bersalah, Bund?"


"Em, memang, ayahmu yang berengsek, jadi wajar kalau nenekmu mati-matian menyuruh Bunda bercerai."


Ihsan mengangguk. "Dia memang berengsek," geramnya. "Tapi jangan biarkan kelakuan-kelakuannya itu memengaruhi Bunda. Bunda tidak salah kalau Bunda ikut campur masalah-masalah kami. Malah wajib karena itu demi kebaikan kami. Jadi... Ihsan mohon, jangan pergi. Mereka semua membutuhkan Bunda. Cucu-cucu Bunda butuh Nenek yang berusaha menjaga keutuhan keluarga mereka. Nenek yang menjaga cinta mama dan papa mereka. Kami semua membutuhkan Bunda. Please... jangan sedih lagi, ya?"


Aku tahu, si payah itulah yang bersalah. Juga aku.


Aku merosot ke lantai setelah masuk dan langsung memeluk kaki ibuku erat-erat. Ia tampak kaget. Ia menarikku berdiri, tetapi aku tidak mau. Aku sungguh bersalah karena seringkali mengedepankan egoku, padahal ibuku menyimpan ketakutan seandainya aku mengalami kegagalan rumah tangga seperti yang dialaminya dulu.

__ADS_1


Demi Tuhan, aku menyesal. Sangat-sangat menyesal. Kenapa aku tidak sadar bahwa sikapku kepada Reza, pertengkaran kami, dan perpisahan kami itu membuat hati ibuku begitu terluka? Bahwa aku -- menyuguhkan kembali masa lalu ibuku yang kelam ke hadapannya secara telak. Sungguh aku sangat menyesal.


__ADS_2