Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Nano-Nano!


__ADS_3

Sejak Ihsan ikut tinggal bersama kami di Jakarta, ruang kamar yang berada di sebelah ruang makan meja lesehan itu kami jadikan kamar untuk aku menyusui, sekaligus kamar untuk Angga dan Anggi tidur siang. Dan aku suka sekali kamar itu, sebab dinding di sebelah kolam itu berupa dinding kaca, persis dinding kaca di ruang makan lesehan. Jadi ruang kamar itu memiliki pencahayaan yang bagus ketika tirai hordengnya dibuka. Tidak seperti kamar di sebelah kanan yang akan gelap gulita ketika lampunya di padamkan. Dan, dengan menaruh Angga dan Anggi di kamar itu untuk tidur siang, aku tidak perlu repot-repot naik ke lantai atas ketika mendengar suara tangis mereka saat mereka merasa lapar. Yang pasti, aku juga bisa lebih santai tanpa perlu bolak balik mengecek dan memastikan mereka menangis atau tidak seperti yang kulakukan dulu saat kami baru menempati lagi rumah itu setelah kami pulang ke Jakarta.


Siang menjelang sore itu, setelah menyusui anak-anakku dan menaruh kembali mereka ke dalam boks, aku meregangkan tubuh, membuka pintu dan keluar dari kamar. Saat itu ibuku tengah santai di sofa, ada Reza di dekatnya. Mereka, dua orang yang memiliki hobi tontonan yang berbeda tapi bisa menyatu di ruang keluarga dengan tayangan berita dari salah satu saluran televisi.


"Tumben nonton berita," tegurku.


Ibuku tersenyum simpul. "Tidak apa-apa," sahutnya. "Hitung-hitung menemani menantu Bunda. Teman mainnya pada tidur."


Tak bisa balas menyahut, aku hanya berlalu dengan oh dan menuju lemari es: mengambil rujakku lagi dan duduk di tepi kolam.


Yeah, aku sudah cukup membawa diri dengan baik. Seperti biasa, salat subuh berjamaah dengan Reza, menyiapkan sarapan, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Aku berharap dia tak lantas menyadari bahwa ada rasa sesak di hatiku terhadap apa yang ia lakukan di masa lalu. Aku akan berupaya membuat hatiku bisa menerima dan berhenti terbayang kenangan Salsya bersamanya dalam video itu. Meski -- aku tidak tahu bisa atau tidak nantinya. Ya sudahlah pikirku, makan rujak saja.


"Kamu ini," tegur Reza. "Nanti sakit perut, lo, makan rujak terus."


Aku berusaha tersenyum. "Ya mau bagaimana lagi," kataku. "Aku doyan. Enak. Pedas, manis, asam, asin, dan untungnya tidak ada rasa pahit." Seperti hidupku.


"Sebegitu sukanya?" tanyanya lagi. Kini ia duduk di hadapanku dan mencelupkan kedua kakinya ke dalam air.


Tentu saja, aku mengangguk. "Bagiku, rujak itu sekelas dengan cokelat atau es krim, menyenangkan dan menenangkan."


Reza balas mengangguk. "Yeah," katanya, "kalau aku tidak terbiasa melihatmu merujak, mungkin aku sudah mengira kalau kamu hamil lagi. Kamu seperti orang ngidam."

__ADS_1


"O ya? Memangnya kamu pernah melihat perempuan ngidam rujak? Siapa?"


Dia terdiam, lalu menggeleng.


"Salsya, ya?" tanyaku -- entah iseng atau apa.


Reza mengabaikan dan seakan tidak mendengar pertanyaanku. Dalam kebungkamannya, ia mencuci tangan dan mengambil seiris mangga lalu menyuapkannya padaku.


"Trims. Mau kusuapi juga?"


"Boleh."


"Wait, ini, aaa...."


"Iyalah, apalagi makannya berduaan bareng kamu. Rasanya komplit. Segala rasa ada." Termasuk rasa pahit.


Sepercik air membasahiku. "Dasar gombal...," seru Reza, ia pun cekikikan.


Tak ingin menanggapi kesalahpahamannya, aku mengangkat botol air dingin dan mereguknya. "Pedas," kataku seraya mengibas-ibaskan tangan.


"Sini, biar kubantu."

__ADS_1


Dia menangkup wajahku, tahu-tahu wajahnya mendekat dan ia langsung membagi rasa pedasku dengan lidah dan bibirnya. Cukup lama, hingga akhirnya sesi ciuman itu usai.


"Kenapa tidak membalas ciumanku?" tanyanya.


"Lah, kan aku kepedasan, Mas. Kamu mau menetralisir rasa pedasku, kan?"


"Tapi kurang efektif kalau kamu...," seakan menyadari sesuatu, dia terdiam dan tidak melanjutkan celotehannya.


Menyadari kecanggungan itu, sengaja kujilat lagi bumbu rujak yang menempel di sendok, lalu menciumnya. "Terima kasih," kataku. Dan kami kembali berciuman, dan kali ciuman itu terbalas: kami saling mengulu* dan saling meluma* -- sekali lagi.


Demi Tuhan kali ini rasanya menyakitkan. Dan seandainya bisa aku ingin menolak.


"Ehm, jiwa jombloku merontah-rontah," celetuk Ihsan yang baru saja pulang kerja.


Oh, rupanya senja sudah menyapa.


"Hah! Kita sudah tidak bisa bermesraan sembarangan, Sayang."


Siapa bilang tidak bisa?


"Bisa, kok. Malam ini malam jumat. Tunggu aku di sini, ya. Aku akan menemuimu. I love you, Mas."

__ADS_1


Well, biar kucoba menaklukkan diriku sendiri.


__ADS_2