Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Kesepakatan


__ADS_3

Aku benci.


Benci sekali.


Aku benci dengan Nicholas yang meminta kehangatan dari Salsya sebagai timbal balik -- halusnya: sebagai ucapan terima kasih seorang klien pada pengacaranya. Aku benci, benci dan muak berada di depan dua orang itu. Itu mengungkit luka lamaku, padahal aku sedang berusaha menerima dan memaafkan kesalahan-kesalahan ayahku di masa lalu.


Tenang, Nara. Kamu di sini untuk Aulian. Jangan sangkut pautkan hal ini dengan masa lalumu. Aku pun berdeham. "Apa Anda dari awal sudah tahu kalau Salsya mengandung anak Anda?"


"Ya," katanya dengan ragu -- ragu mengakui kebejatannya. "Awalnya saya tahu dari Kayla kalau Salsya hamil. Setelah itu... saya sempat menemui Salsya dan bertanya tentang kehamilannya. Maksud saya... saya ingin memastikan itu anak saya atau bukan. Salsya bilang iya. Dia tidak pernah tidur dengan siapa pun setelah...."


Kutelan ludah dengan susah payah mendengar penuturannya yang meski tak lengkap tapi aku mengerti kelanjutannya. "Kenapa tidak Anda nikahi?"


"Emm... waktu itu... saya masih bersama Kayla, dan kami akan segera menikah. Dan... mereka bersahabat, Salsya tidak ingin menghancurkan persahabatannya dengan Kayla. Saya...."


Bedebah! Darahku mendidih.

__ADS_1


Tenang, Nara. Please, tidak perlu menghakiminya."


"Lagipula, saya rasa kita sama-sama tahu tujuan Salsya bercerai dengan Alvaro. Iya, kan?"


Halus sekali seperti godam. Tapi benar, aku pun tahu kalau tujuan Salsya untuk kembali pada Reza.


"Nak," kata ayahku yang sedari tadi terlihat risih, "kita bahas tentang Aulian saja, ya?"


Kenapa? Sesama orang berengsek ingin saling melindungi aib, begitu?


Tak punya pilihan dan tak ingin mengamuk-amuk, aku pun mengangguk.


Nicholas menjawab dengan anggukan.


"Tentu kamu tahu kalau posisimu dengan mudah bisa mendapatkan hak asuh atas Aulian jika kamu bisa membuktikan kalau bayi itu memang benar anak kandungmu, darah dagingmu. Jadi, sebaiknya kita lakukan tes DNA."

__ADS_1


Sekali lagi lelaki itu mengangguk. "Saya akan melakukannya. Kalau benar dia anak kandung saya, saya ingin mendapatkan hak asuh atas bayi itu."


"Kenapa baru sekarang?" aku menggumam lirih. Aku teringat masa-masa betapa aku dan Reza seringkali bertengkar karena kehamilan Salsya, dimulai sewaktu aku menusuknya dulu, bahkan kami sempat pisah ranjang cukup lama. Seandainya waktu itu Reza tahu kalau anak itu punya ayah yang jelas, Reza tidak perlu sibuk memikirkannya, bahkan Reza tidak perlu seringkali berbohong dan menyakitiku demi keselamatan anak itu. Anak itu juga tidak perlu memakai nama Dinata, karena dia bukan dan tidak memiliki darah Dinata di dalam tubuhnya.


Mungkin kau pikir aku ini suka sekali memikirkan masa lalu, mungkin kau ingin mengatakan masa lalu biarlah berlalu. Tapi satu yang harus kukatakan padamu, bukan kau yang mengalami kisah pahit ini, dan bukan hatimu yang memiliki luka-luka ini. Tapi aku.


"Kenapa?" tanyaku lagi.


Nicholas menunduk dengan mata berkaca. "Saya dinyatakan...," terhenti, dia mengusap matanya. "Saya mengalami kecelakaan, selain cidera kaki, hasil pemeriksaan dokter menyatakan kalau saya tidak akan bisa lagi memiliki keturunan. Sebab itu...."


Speechless.


Harusnya aku bersyukur, harusnya aku menertawai dan sampai terbahak-bahak. Harusnya aku ngakak sampai ngompol di celana. Tapi tidak, aku malah kasihan dan prihatin pada laki-laki yang seharusnya tak perlu mendapatkan belas kasihan itu.


Mungkinkah itu teguran dari Tuhan?

__ADS_1


Entahlah. Tapi itu balasan yang setimpal, kurasa. Aku benci pada siapa pun lelaki yang memanfaatkan ketidakberdayaan seorang wanita. Tak terkecuali pada ayahku sendiri.


Well, karma itu nyata.


__ADS_2