
》 Sayang, aku taruh kue di depan pintu kamar. Tiup lilin, ya. Aku mau lihat dan mau mengaminkan ketika kamu make a wish. Aku mohon.
Lima belas menit kemudian...
》 Sayang, aku masih di depan pintu. Aku akan jaga jarak, kok.
Lima menit berlalu...
》 Kamu sudah mau tidur? Atau lagi menyusui anak-anak?
Lima menit berikutnya...
》 Sayang, please, respons aku. Jangan cuma dibaca.
Lima menit berikutnya -- lagi.
》 Sayang, aku tidak ingin ada penyesalan. Meski dalam keadaan seperti ini, paling tidak momen ulang tahunmu tetap kita lalui bersama meski kita harus menjaga jarak.
__ADS_1
Lima menit berikutnya -- sekali lagi.
》 Aku tunggu di depan pintu. Jam berapa pun kamu mau keluar untuk make a wish, meniup lilin dan potong kue. Kalau aku ketiduran, tolong bangunkan aku. Aku tunggu, ya. Aku sayang kamu.
Terserah padamu, batinku. Kutaruh ponselku dan aku memilih tidur, hingga...
Dua jam kemudian, aku terbangun ketika Angga menangis ingin menyusu. Setelah menyusuinya, kuambil ponselku dan mendapati pesan whatsapp dari ibuku.
》 Nak, Bunda tadi mengecek ke atas. Kasihan, lo, suamimu masih menunggumu di depan pintu. Ini sudah larut. Temuilah sebentar biar dia cepat juga istirahatnya. Kamu jangan keterlaluan. Dia baru keluar dari rumah sakit. Kalau dia sakit lagi, nanti kamu sendiri yang merasa bersalah.
Ya Tuhan, sudah jam sebelas lewat dan dia masih menunggu? Aku bahkan tak menggubrisnya ketika kue itu ada di meja dapur dengan lilinnya yang menyala pada jam makan malam tadi. Tapi dia keukeuh ingin aku merayakan ulang tahun itu bersamanya.
"Mas," panggilku sambil menepuk-nepuknya dengan pelan. Dia pun terbangun, mengucek matanya yang masih mengantuk lalu tersenyum. Kue yang tadinya ada di depan pintu sudah kupindahkan ke dekat sofa. "Hanya sebentar saja, kan?"
Dia mengangguk. "Ya," katanya. "Mungkin ini hanya hal sepele, tapi ini berarti bagiku, karena ini ulang tahunmu. Aku ingin merayakannya setiap tahun."
Aamiin. Aku pun mengharapkan hal yang sama. Seandainya bisa.
__ADS_1
"Make a wish dulu, Sayang."
Aku mengangguk, meraih dan menggenggam tangannya lalu memejamkan mata. Entahlah, aku bukannya tidak ingin menengadahkan kedua telapak tangan. Aku hanya ingin dia merasakan harapan yang ingin kuutarakan.
"Aku berharap Tuhan menunjukkan kebenaran itu kepadaku, supaya aku kembali mempercayaimu yang sering membohongiku. Aamiin...." Aku berdeham. "Ini bukan hanya sekadar tentang kepercayaan," kataku, "tapi aku menginginkan bukti untuk menghapus semua keraguanku. Semuanya."
Dan lilin pun tertiup.
"Aku bingung, bagaimana cara membuktikannya?"
Aku pun mengeluarkan ponselku lalu memutar rekaman suara yang dikirimkan Aarin kemarin malam. "Ini suaramu, kan?"
Reza menggeleng. "Tapi itu--"
"Buktikan kalau ini kejadiannya memang pada malam itu, bukan pada hari H pernikahan kalian. Cari rekaman aslinya kalau memang yang ini sudah dimanipulasi." Reza ingin menyela tapi aku tidak memberinya kesempatan bicara. "Dengarkan aku dulu, oke? Ada beberapa hal yang mesti kamu pahami. Pertama, aku tidak butuh kamu memaksa Aarin untuk mengaku. Pengakuan di bawah tekanan dan karena paksaan tidak bisa menjamin kejujuran. Kedua, aku tidak butuh penjelasan seorang pakar mengenai keaslian rekaman itu. Aku ingin rekaman yang asli, dengan tanggal dan waktu yang sesuai pada hari di malam pembunuhan itu. Tanpa ada pengeditan sedikit pun. Dan ketiga, aku beri kamu waktu tiga bulan. Kalau dalam tiga bulan kamu tidak bisa membuktikan kebenaran itu, aku akan melayangkan gugatan cerai. Dan terakhir, dalam masa keraguanku selama tiga bulan ke depan, tidak ada nafkah lahir batin di antara kita. Bahkan aku akan makan dengan uangku sendiri. Bisa pahami semua itu? Harus. Oke, selamat malam."
Kututup kue itu dan kembali ke kamar dengan sesak. Aku tidak yakin apa aku benar-benar akan melayangkan gugatan cerai jika bukti itu tak bisa kutemukan dalam tempo waktu tiga bulan. Dan sekalipun -- jika aku ingin tetap bersamanya, mesti ada pernikahan ulang di antara kami. Tidak ada pernikahan ulang, maka lebih baik kami tidak usah hidup bersama.
__ADS_1
Ini -- keputusan terakhirku. Keputusan terakhir.