
"Berengsek!"
Untuk ke sekian kali dia merasakan tamparanku. Pasti sakit, tapi jelas tak sesakit seperti sakit hati yang kurasakan. Bagaimana bisa aku tidak emosi mendengar pengakuan Reza soal ijab itu?
"Sayang, dengar aku."
"Nggak!"
"Yang, itu hanya sekadar kalimat--"
"Diam!"
"Hanya kalimat ijab. Tidak ada saksi apalagi penghulu. Itu bukan pernikahan...."
"Pembohong!" hardikku. "Itu hanya alasanmu, kan? Aku sudah tidak percaya lagi. Kamu jahat...."
Aku meringis merasakan sakit sekaligus rasa sesak. Sementara Reza berusaha menenangkan aku. "Jangan begini...," pintanya. "Tolong jangan menyikapi ini dengan emosi. Kita--"
"Kita sudah selesai! Pergi kamu!"
Dengan marah, aku turun dari ranjang dan hendak mengusirnya. Tetapi, aku terhuyung. Kepalaku tiba-tiba terasa berat. Lalu, dengan sigap Reza meraihku dan mendekapku ke dadanya.
__ADS_1
"Jahat," gumamku sambil menahan rasa pusing di kepala. Aku merasa tidak punya tenaga dan pasrah dalam dekapan lelaki yang membuatku amat sangat marah malam itu. Lalu...
Reza memberingkanku ke ranjang. "Tidur," bisiknya. "Apa pun yang terjadi setelah ini, Mas Reza sayang kamu. Selamat tidur, Sayang."
Dalam ketidakberdayaan, aku menyadari -- dia pasti mencampurkan obat tidur ke dalam minumanku. Dan sebelum terlelap, aku masih merasakan kehangatan bibirnya mencium keningku.
Kamu curang, Mas....
Aku pun terlelap, dan baru terbangun keesokan paginya dengan kepalaku yang masih terasa pening. Saat itu, Reza sudah tidak ada di dalam kamarku, dan aku berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.
"Sialan!" gerutuku saat melihat gelas kosong di atas nakas. Reza pasti memberikan obat tidur dengan dosis yang cukup tinggi hingga aku terlelap semalaman. "Dasar bedebah!" Rasanya aku ingin menangis karena teringat pengakuan Reza semalam. Tapi... sesaat kemudian aku tersadar akan keberadaan anak-anakku.
"Eh, wait." Aku merabai dadaku. "Tidak bengkak. malah agak lembek. Berarti ASI-ku...."
Hmm... aku menyadari, dia pasti memompa ASI-ku dan memberikan anak-anaknya ASI dengan sebotol dot.
"Tapi di mana dia?"
Aku baru saja hendak keluar dari kamar begitu menyadari ada selembar kertas terselip di bawah ponselku. Surat dari Reza.
Selamat pagi, Sayang.
__ADS_1
Aku minta maaf, ya, soal semalam. Aku hanya ingin kamu tidur dengan nyenyak. Aku tidak mau kamu sampai sakit. Jadi aku terpaksa memberimu obat tidur.
Dan, maafkan aku atas rasa sakit yang tidak sengaja kutorehkan. Aku lega, aku telah mengakuinya. Sumpah demi apa pun, itulah kebenarannya. Aku sudah berkata sejujur-jujurnya. Tidak ada satu hal pun lagi yang kututupi darimu. Dan sekali lagi kutekankan, tidak ada pernikahan antara aku dan Salsya. Kamu istriku satu-satunya, yang sampai saat ini masih mahromku yang halal.
Sayang, aku berharap rumah tangga kita baik-baik saja. Aku memohon pengertianmu, selayaknya kamu mengerti alasanku memeluk Sasya di saat sakaratul mautnya, aku juga berharap kamu juga mengerti tentang ikrar ijab yang pura-pura itu. Itu bukan ikrar cinta. Aku melakukan itu hanya untuk membantu Salsya ikhlas ketika nyawanya mesti terlepas dari raga. Aku tidak ingin ia merasakan sakit lebih lama akibat jantungnya yang terluka parah.
Tapi aku mengerti, kamu pasti butuh waktu untuk menenangkan diri. Karena itu, aku memilih pergi. Untuk sementara aku tinggal di mes, ya, Sayang. Kamu jangan khawatir, aku tidak pergi jauh. Kalau kamu sudah tenang, segera hubungi aku. Aku akan pulang. Tapi kamu jangan cari aku untuk marah-marah. Tolong, ya... aku tidak ingin kita bertengkar lagi.
Terakhir, aku minta kamu jaga kesehatan. Jangan biarkan beban pikiran itu membuatmu sampai ngedrop. Jangan kurang istirahat. Jangan kurang makan, prioritaskan ASI untuk anak-anak. Dan yang terpenting aku titip anak-anak.
Satu lagi, Yang, jangan gengsi, ya. Kalau kamu rindu, telepon aku. Kalau kamu sudah tidak marah, suruh aku pulang. Aku selalu menantikan kabar baik darimu.
Salam rindu selalu untukmu dan anak-anak. Mas sangat menyangi kalian.
Dengan sepenuh cinta,
Suamimu, Reza Dinata.
Argh! Aku mengeran*.
Sesak, Tuhan... aku harus bagaimana dalam menyikapi keadaan ini?
__ADS_1