
September, tiga minggu kemudian...
Siapa, sih, di dunia ini yang ingin kebahagiaannya terhenti?
Sama sepertimu, dan kalian semua -- aku juga tidak. Sebab itu, sewaktu Aarin mengunggah video pernikahan settingan yang kemarin ia kirimkan padaku dan mempublish ceritanya dengan cover foto Reza dan Salsya dalam bentuk animasi kartun, aku biasa saja -- berusaha biasa saja. Kendati hampir semua keluargaku menghubungi, bertanya dan bersimpati -- terutama para sepupuku yang mengenal Aarin, aku berusaha menguatkan diriku agar tidak terpengaruh sedikit pun pada kegilaan Aarin membalaskan sakit hatinya pada suamiku, dan juga pada kami: keluarga barunya. Aku pun memilih untuk memaklumi dan memaafkan Aarin meski dia tidak ada niat untuk berbaikan dengan kami.
Pada hari pertama kami mengetahui perihal tindakan Aarin itu dan tanggapan heboh dari keluargaku, orang-orang di dalam rumah pun ikut mencemaskan keadaanku. "Tenang saja," kataku. "Aku baik-baik saja. Kalian semua tidak perlu khawatir."
__ADS_1
"Sudah kebal, ya?" tanya Ihsan dalam candaan khasnya.
Kuanggukkan kepala dengan yakin. "Kan aku sudah tahu apa isi video itu dan isi naskah itu. Jadi aku tidak shock lagi. Tidak perlu ditanggapi juga, kan? Lagipula, cepat atau lambat kehebohan itu pasti bakal meredup sendiri, ya kan?"
"Bagus," kata ibuku, lalu dia melirik ke Reza. "Mamanya anak-anak sudah semakin dewasa."
Tapi bukan. Bukan karena aku sudah semakin dewasa, tapi karena aku sudah tahu lebih dulu tentang video dan cerita itu, itu cerita yang mengada-ada, dan diunggah oleh orang yang aku tahu siapa dia dan apa tujuannya. Tetapi... masalah yang mampu mengusikku justru datang beberapa hari berikutnya.
__ADS_1
》 Hai. Sori kalau kemarin-kemarin aku sempat memblokir akunmu. Bukan kenapa-kenapa, aku hanya ingin menutup lembaran lamaku karena sebentar lagi aku akan menikah. Aku sekarang sudah di New York lagi. Jadi percuma kalian mencariku di Jakarta. Tapi, begitu aku melihat postingan Aarin, kurasa aku harus bantu meyakinkanmu kalau pernikahan itu tidak pernah ada. Itu video editan. Dan suara Reza di dalam video itu, itu sudah lama sekali. Sebelum pernikahan kalian.
Aku tercengang. Rupanya-rupanya masih ada hal yang tidak kuketahui. Penuturan Kayla memang berguna kalau dia juga menyatakan bahwa pernikahan itu memang tidak pernah ada. Tapi tentang waktu -- kapan kejadian itu, kenapa berbeda dengan pengakuan Reza? Siapa yang benar?
Dari sejuta pemikiran, ada beberapa kesimpulan yang menurutku benar. Pertama, tidak ada yang melihat dan tidak ada yang tahu persis bagaimana kejadian malam itu. Apa yang diketahui Aarin, mungkin saja itu hanya tebak-tebak buah manggis yang kebetulan memang itu yang terjadi. Terutama mengenai ikrar cinta, kemungkinan Aarin tidak bermaksud dan memang tidak menyebut ikrar itu berupa kalimat ijab, pasti maksudnya hanya berupa kalimat pernyataan cinta seperti "aku mencintaimu" atau "I love you." Tetapi, karena Reza takut jika aku sampai mengetahui hal itu dari orang lain, maka dia terpaksa jujur kepadaku -- jujur lebih dulu, dia pasti takut kalau aku mengetahui kebenaran itu dari orang lain bahwa dia mengucapkan kalimat ijab itu pada saat Salsya sekarat. Benar. Aku berusaha meyakini bahwa Reza terjebak dalam rasa takutnya sendiri sehingha ia memutuskan untuk jujur. Padahal... tidak ada seorang pun yang mengetahui pelafalan kalimat ijabnya malam itu. Itu -- kesimpulanku untuk sementara.
Mungkin saja, bukan? Mungkin seperti itulah kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1