
Jam sepuluh pagi, Reza sudah pulang dari pemakaman. Aku pun sudah siap untuk ikut pergi ke rumah sakit. Pun Tirta, sudah didandani oleh Raheel. Zia dan Ari juga akan pergi ke rumah sakit. Sementara anaknya dititipkan pada ibuku. Di rumah sakit, aku tidak ikut masuk ke dalam ruang rawat Alfi. Entahlah, hanya tidak ingin saja. Tapi alasan terkuatku, aku tidak berani dan tidak tega melihat keadaan Alfi, aku takut aku tidak sanggup melihat kaki yang sudah buntung itu meski tersembunyi di balik selimut.
Tak lama, kedua orang tua Alfi datang. Aku tidak tahu bagaimana, tapi belum lima menit setelah kehadiran mereka di ruang rawat Alfi, Mayra tiba-tiba keluar dari ruang rawat itu. Sendiri, sambil menangis.
Dia berhenti sejenak di depan pintu begitu menyadari keberadaanku di sana.
"May, kenapa...?"
Mayra tidak menyahut. Dia menggeleng lemah, seperti orang linglung. Lalu tiba-tiba meledak dalam tangis. Kuhampiri dia dan kudekap sejenak.
"Kita ke kantin, yuk? Biar kutemani, ya?"
Mayra mengangguk setuju, dan kami segera menuju kantin, diikuti bodyguard-ku yang tanpa diminta mereka sudah mengerti dengan tugasnya. Reza yang baru hendak keluar berdiri saja di pintu dan membiarkan kami pergi. Sesampainya kami di kantin, untuk sesaat, aku membiarkan Mayra menumpahkan air mata yang sudah tak mampu ia tahan. Dia menangis cukup lama.
"Ibu mertuaku mau membawa Mas Alfi pulang ke rumahnya. Apa salah kalau aku menolak?"
__ADS_1
Dia sudah mulai tenang, dan sudah menghabiskan setengah gelas cappucino dingin miliknya.
Di saat bersamaan, aku menelan ludah getir. "Maaf, May," kataku. "Aku tidak tahu yang kukatakan ini benar atau salah. Tapi aku setuju kalau kamu menolak. Aku tidak menyalahkan keputusanmu. Jika aku jadi kamu, aku juga tidak akan mau, aku juga akan menolak. Kecuali mereka yang ikut tinggal di rumahmu. Tidak mungkin kamu menolaknya, kan? May, jarang bertemu saja, ibu mertuamu suka menindasmu, apalagi kalau seatap. Sementara kamu... kamu nanti cuma bisa diam. Aku tidak rela, May, kalau kamu diperlakukan seperti itu. Katakanlah nasihatku ini salah, tapi aku tidak mau kamu semakin menderita dengan keberadaan mereka. Mungkin pendapatku ini memang salah, tapi menurutku, kalau kamu tinggal di rumahmu sendiri, kamu lebih berhak dan tidak pantas diperlakukan dengan kasar, karena kamu tidak hidup menumpang di rumah orang. Orang yang ikut tinggal di rumahmu yang harus bersikap sopan padamu."
"Kamu benar. Kurasa."
Jelas. Karena aku mengatakan ini dari sudut pandang seorang menantu yang teraniaya. Toh, aku ini bukanlah malaikat. Aku juga tidak ingin jadi sosok munafik dalam menanggapi hal ini. Aku akan mengatakan apa yang menurutku benar, tak peduli jika itu salah di mata orang lain.
"Aku turut prihatin dengan kondisi Mas Alfi," gumamku.
Saat itu aku terdiam, aku belum bisa menangkap maksud Mayra yang sebenarnya, inti -- kenapa dia bisa menganggap itulah yang terbaik. Tapi dia tidak buka suara hingga dua menit penuh. Terpaksa aku yang bertanya, "Kamu bisa menerima kondisi Alfi? Dan... anak-anaknya... kamu...."
Lagi, dia tersenyum, ada ketulusan di sana. "Dia suamiku, aku tidak akan meninggalkannya meski dia sudah tidak sempurna. Dia menerima ketidaksempurnaanku selama ini, sekarang aku pun akan berbuat sama. Aku juga bersedia menjadi ibu sambung untuk anak-anaknya."
Aku lega. Aku senang mendengar penuturannya. "Aku tahu kamu akan selalu bersamanya. Aku mendukungmu."
__ADS_1
Mayra mengedikkan bahu, saat itulah dia membuatku terkejut dengan penuturannya.
"Kuambil hikmahnya, mungkin ini suatu kebaikan Tuhan atas kesabaranku selama ini."
Praktis, dahiku mengernyit dengan seribu tanda tanya, mungkin sejuta. "Sori, maksudmu? Emm... aku tidak mengerti hikmah menurut versimu itu seperti apa dalam hal ini?" pertanyaanku agak-agak belepotan, tapi aku percaya Mayra mengerti maksudku dan kebingunganku.
Dia menatapku. Sisi penulisku atau sebenarnya pemikiran jahat di dalam jiwaku -- justru melihat senyum kemenangan di matanya.
"Di sini," katanya, ia menaruh telapak tangannya di dada, "ada rasa lega, yang aku sendiri tidak tahu benar atau salah, entah jahat atau tidak. Tapi aku senang, karena mulai detik ini -- aku, statusku adalah istri Alfi Wijaya satu-satunya. Iya, kan? Dan setelah ini... kurasa mana mungkin Mas Alfi akan menikah lagi. Sekalipun orang tuanya memaksa. Aku berharap tidak akan ada lagi perempuan yang mau dipaksa menikah dengan Mas Alfi, karena... karena keadaan Mas Alfi yang sekarang. Dan... aku tidak akan merasakan lagi perihnya hidup dimadu. Dia akan selalu bersamaku setiap hari, setiap malam. Malam-malam panjang yang kulalui sendirian itu tidak akan ada lagi, Ra. Aku tidak perlu lagi membayangkan suamiku hangat di dalam selimut bersama wanita lain sementara aku sendirian. Aku... mungkin aku jahat. Tapi aku sedang tidak ingin membohongi diri sendiri."
Agak ngenes. Aku bingung, itu jawaban seorang wanita yang putus asa atau justru...
Entahlah.
Tapi yang pasti jantungku jadi berdetak tak karuan. Perasaan asing yang aneh mengaduk-aduk perutku. Aku tidak tahu mesti kasihan, atau justru ikut senang dengan penuturan Mayra. Tapi jujur, itu lebih baik -- setidaknya dia mau terbuka padaku. Mungkin itu bisa membuatnya merasa lebih baik. Meski terkesan dan terdengar jahat. Tapi itulah apa adanya -- suara hati yang terluka.
__ADS_1