
"Apa aku boleh tidur di sini?" Reza bertanya setelah kedua bayi kami kembali pulas di dalam boks mereka.
Aku mengangguk. "Em," gumamku, tanpa menoleh. Sengaja aku berlama-lama di tepian boks tidur Anggi.
"Sayang?"
"Apa?"
"Aku kangen. Boleh aku memelukmu?"
Ya Tuhan, sesak sekali dadaku. Sesak yang tidak kumengerti berupa rasa apa. Pedih, sedih, atau justru sesak yang terlahir dari rasa haru dan bahagia? Aku tidak mengerti. Genangan di pelupuk mataku pun muncul lagi -- yang aku juga tidak mengerti, apa itu. Dan...
Tanpa menunggu aku mengiyakan, tangan Reza sudah melingkari tubuhku. Ia mendekapku erat-erat, seakan menyampaikan: betapa dia takut kehilangan aku.
"Maaf, aku... aku mesti ke dapur. Aku lupa belum minum susu. Aku... mau turun dulu," kataku. "Sebentar."
Pelukan Reza melonggar, dan aku pun lekas pergi. "Jangan lama-lama, ya," pesannya -- dengan suaranya yang parau.
Aku pun mengangguk. Sungguh, saat ini aku masih berada di situasi yang masih sangat dilema. Sudah seringkali dibohongi oleh suami membuatku sangat paranoid -- kendati Salsya sudah tiada. Aku takut, jika ada kenyataan pahit yang belum terungkap -- atau yang kutakutkan itu benar-benar terjadi, tapi aku belum mengetahui kebenarannya.
Sialnya, ibuku masih berada di dapur dan ia menyadari keadaanku -- yang aku sendiri tidak tahu apa namanya. Mungkin lebih cocok kukatakan dalam keadaan dilema akut.
__ADS_1
"Masih belum tenang?" tanyanya.
"Mungkin tidak akan pernah tenang lagi."
"Sayang...."
"Sulit, Bund. Nara ragu."
"Lalu, apa yang diinginkan oleh hati kecilmu?"
"Daripada tidak jelas begini, rasanya Nara ingin bercerai. Dan... kalaupun Nara tidak sanggup berpisah -- mungkin sebaiknya kami menikah ulang. Nara benar-benar ragu."
Sementara aku menyiapkan susu, ibuku tengah menulis catatan stok bahan masakan yang hendak ia beli esok hari. "Sayang," panggilnya setelah melipat catatan tulisannya, "kamu mau menikah ulang?"
Ibuku mengangguk. "Nanti coba Bunda bicarakan, ya. Mungkin... kalau Bunda yang ngomong, Reza bisa mengerti dan memahami keraguanmu."
Aku balas mengangguk. "Nara boleh tanya satu hal?"
"Apa itu?" sahutnya santai.
"Dulu... apa Bunda pernah di posisi seperti yang Nara rasakan saat ini?"
__ADS_1
"Maksudmu berada di tengah-tengah keraguan sewaktu menghadapi ayahmu dulu?"
Lagi, aku mengangguk.
"Pernah," katanya. "Setelah Bunda memberikan kesempatan kedua pada ayahmu. Itu pada minggu-minggu awal Bunda mengandung Ihsan. Penyangkalan ayahmu terhadap pernikahan sirinya dengan Sandra Wijayanti, sumpah ayahmu, juga janjinya untuk tidak berhubungan lagi dengan wanita itu -- yang ternyata tidak berbanding lurus dengan kenyataan."
Aku belum paham. "Maksudnya?"
"Awal-awal Bunda dan ayahmu berbaikan, Bunda berusaha untuk menata hati dan kepercayaan Bunda terhadap ayahmu. Tapi, di masa itu Bunda juga memprotektif diri Bunda sendiri, Bunda selalu waspada, saking traumanya dengan rasa sakit itu -- Bunda sampai mempersiapkan hati -- andai ayahmu membohongi Bunda lagi, Bunda tanamkan pada hati Bunda -- Bunda harus siap, supaya hati Bunda tidak sesakit seperti sakit yang sebelumnya, sewaktu pertama kali mengetahui kalau ayahmu selingkuh." Lalu ia tertawa kecil. "Belepotan, ya, kalimat Bunda. Tapi kamu mengerti, kan, apa maksud Bunda?"
Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Bunda berusaha menata hati, tapi Bunda juga menyiapkan hati Bunda supaya kebal. It's mean... Bunda juga menahan hati Bunda, kasarnya... Bunda mencoba untuk tidak lagi memakai perasaan, supaya ketika Bunda tahu kalau ayah selingkuh lagi, Bunda tidak lagi merasakan sakit. Begitu, kan?"
Ia mengangguk untuk ke sekian kali. "Iya," katanya. "Kamu bisa menangkap maksud Bunda."
"Nah, itu Bunda masih berperan sebagai istri, kan?"
Mengangguk lagi. "Masih. Masih melayaninya, bahkan melayaninya di ranjang. Itu dilema sekali, berusaha memperbaiki, tapi hati merasa itu adalah hal yang rasanya sangat mustahil untuk dipercaya."
Lalu air matanya menetes. Aku tahu, ada cerita pahit. Pasti. "Apa yang terjadi selanjutnya, Bund? Di masa itu?"
Ibuku menghela napas dalam-dalam, hal yang kuketahui sejak usiaku dua belas tahun: ada luka -- bagian cerita yang belum kuketahui.
__ADS_1
"Please... ceritakan, Bund? Ceritakan semuanya padaku tanpa terkecuali."