Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Kepulangannya


__ADS_3

Deg!


Seketika aku mematung mendengar ucapan salam menyapaku dari arah belakang. Bukan, bukan karena salamnya, tapi karena aku mengenali suara lelaki yang mengucapkannya. Suamiku, Reza. Ihsan membawanya pulang siang itu. Dan itu praktis membuat hatiku jadi jumpalitan. Aku tidak berani berbalik untuk melihatnya yang berdiri di belakangku.


Ya Tuhan... jantungku ikut berdendang ria. Iramanya seolah menggema.


"Dijawab dong...," sela Ihsan.


Wa'alaikumussalam, kata hatiku kendati mulutku terkunci. Welcome home, Mas. Aku senang dan aku bahagia atas kepulanganmu.


"Sudah dijawab di dalam hati," ibuku ikut menyela. "Harap maklum ya, Nak. Mungkin istrimu sedang sakit tenggorokan. Biar Bunda yang mewakilkan, Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh."


Reza menghampiri dan mencium tangannya.


"Nak, suamimu pulang. Cium tangan."


"Maaf, Bund. Masih musim covid."


"Kan kita semua sudah divaksin."

__ADS_1


"Ya tetap, mesti mandi dan bersih-bersih dulu. Kalau perlu isolasi mandiri dulu empat belas hari."


"Aku itu kena demam berdarah, Sayang. Bukannya terinveksi covid. Hasil tesku juga negatif, kok. Dan DBD-ku juga sudah sembuh."


Aku mengedikkan bahu, masih tanpa menoleh. "No debat. Wajib isolasi mandiri. Jangan dekat-dekat dan jangan masuk kamar, bahaya bagi anak-anak. Sudah, ya. Nara ke kamar dulu." Kututup pintu lemari dapur di depanku, lalu berjalan ke wastafel, mencuci tangan.


"Harap maklum. Masih ada luka di sana. Sabar," nasihat ibuku padanya.


"Ya, Bund. Reza maklum dan akan menuruti kemauannya. Reza bersih-bersih dulu."


"Apa itu berlaku juga untukku?" tanya Ihsan. "Wah, repot, dong. Masa mesti isolasi?"


Aku pun berlalu, tanpa melihat fokus padanya yang ternyata kurindukan.


Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud jahat. Hanya saja, saat ini aku seakan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Rasa sakit dan semua kebohonganmu selama ini seperti pil pahit yang sangat membuatku trauma untuk kembali menelannya. Aku takut kamu masih menyimpan banyak butiran pil pahit untukku.


Tapi tak bisa kupungkiri, aku lega ia sudah keluar dari rumah sakit, berarti ia sudah dinyatakan sembuh dari sakitnya.


Aku yang saat itu langsung masuk ke kamar mendapati anak-anakku tengah terjaga, seolah mereka merasakan kehadiran ayahnya. Tangan dan kaki keduanya bergerak lincah, mereka seolah menunjukkan kepadaku bahwa mereka senang atas kepulangan ayah mereka.

__ADS_1


"Kalian tahu Papa pulang, ya? Kalian kangen Papa? Hmm? Tapi belum boleh dekat-dekat, ya. Mama harus isolasi Papa kalian dulu. Tidak apa-apa, kan? Sabar, ya...." Sabar, karena Mama masih belum siap berdekatan dengan Papa kalian.


Sungguh, aku tidak berniat memisahkan Reza dengan anak-anaknya. Aku hanya antisipasi supaya ia tidak memanfaatkan keberadaan anak-anaknya untuk dekat-dekat denganku. Dan ini benar-benar bermula secara refleks.


Kupejamkan mataku dan merasakan lelehan panas mengalir di pipi. "Maafkan aku, Tuhan. Aku hanya sedang melindungi diriku sendiri. Mungkin caraku salah, tapi aku tidak bermaksud menjadi sosok istri durhaka terhadap suami."


"Kamu tidak durhaka, Sayang. Aku mengerti," suara di balik pintu membuatku tersentak kaget.


Well, dia menguping. "Jangan dekat-dekat...," seruku. "Kamu wajib isolasi mandiri selama empat belas hari."


"Iya, tenang saja. Hanya empat belas hari, kan?"


Euw! Setelah empat belas hari, apa yang akan terjadi? Pertanyaan itu muncul di benakku. Ah, aku terlalu paranoid sehingga sudah memikirkan dan mengkhawatirkan takdir Tuhan ke depannya.


Sudahlah, Nara. Jalani saja apa yang akan digariskan Tuhan untukmu.


Kalau aku jodohnya, apa pun dan siapa pun tidak akan mungkin bisa membuatku terlepas dari ikatan pernikahan kami. Begitu pula sebaliknya. Jika kami tidak berjodoh, bagaimanapun ia menyembunyikan kebusukan dan menghalalkan berbagai cara untuk mempertahankan aku, Tuhan akan menunjukkan jalan kepadaku -- jalan untuk melepaskan diri dari kenistaan yang terbalut cinta. Pasti begitu pikirku.


Tapi aku senang karena kamu sudah pulang. Aku masih sangat sayang padamu....

__ADS_1


__ADS_2