
"Aku mencintaimu," bisik Reza tadi malam di antara desaha* hasratnya yang menggebu. Dinginnya air tak mampu membekukannya dalam kehangatan. Dan kalimat itu terus terngiang bahkan ketika aku membuka mata keesokan paginya. Kuakui, itu sedikit menyetrum hatiku kendati bayang-bayang kenangan Salsya juga masih terus terbayang di pikiranku.
Setelah membangunkan aku, Reza mengajakku salat subuh bersamanya seperti biasa. Tapi ada yang tak biasa: saat aku mencium tangannya, dia menyentuh kepalaku dan bertanya, "Kenapa? Ada apa denganmu?" tanyanya. "Aku tahu, ada sesuatu yang mengganjal di benakmu. Iya, kan?"
Aku mengangkat kepala, menegakkan bahu, lalu balik bertanya, "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku tidak kenapa-kenapa, kok. Mungkin itu hanya perasaanmu."
"Kamu mungkin bisa berpura-pura dengan baik, Sayang. Kamu bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi mata dan tubuhmu tidak bisa membohongiku. Tubuhmu tidak bisa menerimaku. Aku tahu itu. Sebagai lelaki, aku tidak merasakan *asratmu saat kita bersentuhan, dan itu baru belakangan ini, ya kan?"
__ADS_1
Aku tak mampu menjawab. Obrolan yang mengejutkan ini -- aku butuh berpikir dulu supaya bisa menanggapinya dengan bijak. Aku tidak ingin ada keributan sedikit pun.
"Dengar, walau kamu berusaha melakukan tugasmu dengan baik sebagai istriku, dan walau aku berusaha mengimbangimu, tapi itu tidak bisa menjadikan hubungan kita terasa sempurna kalau kamu masih menyimpan beban. Jadi, aku mohon, tolong terbuka padaku, ya?"
Aku mengangguk. Ternyata Reza menyadari keadaanku dan aku tak bisa dan tak ingin lagi memungkirinya. Tapi aku mesti menyampaikan itu dengan benar kepadanya supaya ia tidak salah paham, meski aku tak bisa jujur sepenuhnya, dan meski dalam pikiranku: padahal kamu sendiri yang hampir tidak pernah terbuka padaku.
"Mungkin aku sedang merasakan jenuh. Dan... ada rasa lelah di dalam hatiku. Entah karena kecapekan, karena bosan, atau apa, aku tidak tahu. Aku sendiri bingung bagaimana mengatasinya. Mungkin aku butuh... entahlah, aku tidak tahu apa. Bisa tolong aku, Mas? Dan... tolong juga jangan permasalahkan soal ini, apalagi di depan Bunda."
__ADS_1
Saat itu, Reza berusaha memahamiku, tetapi dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda. Bukan karena kesalahannya yang dulu seringkali membohongiku dan diam-diam bertemu Salsya di belakangku, melainkan dari sudut pandang "kejenuhan" -- sesuai arahan yang kuungkapkan padanya, yaitu karena aku kelelahan dan aktivitasku yang membosankan, menghabiskan waktu di rumah seharian dan sudah tiga bulan tak pernah pergi ke mana-mana meski sekadar me time atau quality time bersamanya. Biarlah dia menganggapnya seperti itu, sebab kupikir itu alasan yang lebih baik daripada membuatnya merasa bersalah lagi karena terus menyakitiku dengan perbuatan-perbuatannya di masa lalu yang masih saja -- dan terus menghantuiku.
"Oke, kalau itu masalahnya. Kita harus lebih banyak menghabiskan waktu berdua, sesering mungkin. Ini salahku, aku mengabaikan janjiku. Maaf, ya, Sayang. Padahal dulu aku pernah berjanji, kamu mau bahagia seperti artis idolamu itu, kan?"
Aku menggeleng, aku tahu yang ia maksud janjinya di Bali dulu. "Nope. Idolaku cuma Reza Rahadian, tahu!"
"Ya, ya, terserah. Yang terpenting -- selalu beri kesempatan untuk rumah tangga kita." Lalu dia memelukku. "Maafkan ketidaksempurnaanku. Tapi harus kamu tahu, perasaanku tidak pernah berubah. Aku selalu mencintaimu. Selamanya."
__ADS_1
Aku mengangguk dengan rasa bersalah karena sudah bersikap tidak jujur pada suamiku. Tetapi aku bersyukur, sebab dia ingin mengajakku mengikis gunung es yang membekukan itu, meski dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada hatiku. Terlepas dari semua kesalahannya di masa lalu, sebenarnya Reza merupakan sosok lelaki yang sangat baik.
Hai hati, jujur saja kalau kau semakin mencintainya.