
《 Hai, Aarin. Kamu ingat foto ini, Sayang? Ihsan sangat bahagia ada Mbak dan kamu di sisinya. Andai kamu tahu, Mbak Nara sangat sayang padamu sebagai adik. Bahkan, kalaupun bukan sebagai adik ipar, Mbak akan tetap sayang padamu sebagai keluarga, adik dari mendiang Aruna. Ya, kami semua sudah tahu latar belakangmu yang sebenarnya. Dan sebagai bagian dari keluarga Dinata, Mbak mohon, maafkan semua kesalahan kami di masa lalu. Mas Reza menyesal. Waktu itu dia masih kecil dan belum mengerti masalah orang tuanya. Tolong, Rin, maafkanlah kami. Kami sama sepertimu, hanya korban dari masa lalu. Mbak harap suatu saat kelak, kita bisa menjalin hubungan baik seperti dulu. Kita adalah keluarga. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu. Kapan-kapan berkunjunglah ke sini. Mbak tunggu.
Lalu, aku pun langsung mengirimkan foto kami bertiga sewaktu di Bali dulu. Aku, Ihsan, dan Aarin. Aku berharap Aarin bisa mendamaikan hatinya. Karena bagiku dia bukan seorang penjahat sepenuhnya. Dia hanya gadis biasa yang memiliki luka hati yang terlalu dalam. Dan menurutku, karena dia sudah lama mengenal Ihsan, tidak mungkin dia sengaja mendekati Ihsan hanya untuk membalaskan sakit hatinya kepadaku dan Reza. Mungkin saja dia baru tahu siapa Reza yang sebenarnya setelah dia datang ke Bogor waktu itu, sewaktu Ihsan mengajaknya untuk menjemputku setelah aku melukai bahu Reza dulu. Atau mungkin sewaktu kami berkenalan di Bali, mungkin dia sudah menerka-nerka sewaktu pertama kali dia berkenalan dengan Reza. Karena sangat mustahil kalau dia tahu antara Ihsan dan Reza akan terjalin hubungan ipar sebelum berita pernikahanku dan Reza diumumkan oleh ibuku kepada seluruh keluarga besar kami. Lagipula, Ihsan tidak memberitahukan perihal kedekatan antara aku dan Reza, terlebih kepada Aarin yang notabenenya waktu itu adalah orang luar, bukan anggota keluarga kami. Jadi, menurutku, pertemuan antara Aarin dan Reza itu merupakan kebetulan di mana takdir menggariskan demikian. Yeah, pada intinya aku memaklumi jika di dalam jiwa Aarin tertanam kebencian. Sama, kan, seperti yang kualami selama ini walau latar belakang masalah kami berbeda? Intinya, di sini, di dalam jiwa kami, ada luka yang menganga.
Berikutnya aku mesti mengirimkan pesan pada Kayla. Aku rasa kami tidak akan punya urusan apa-apa lagi dengannya, kecuali tetap berhubungan baik -- itu pun jika ia berkenan.
《 Hai, Calon Pengantin. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas semua bantuanmu selama ini untuk keluarga kecilku. Dan kurasa semua masalahku yang ada hubungannya dengan mendiang Salsya sudah selesai. Semuanya berkat bantuanmu. Terima kasih, Kay. Aku doakan rencana pernikahanmu berjalan lancar. Aku akan minta ke Ihsan untuk mengumumkan kalau kami tidak lagi mencari keberadaanmu. Happy wedding, ya, Kay. Aku doakan semoga kamu bahagia selalu. Aamiin.
Ya Tuhan, lega rasanya. Terlebih, aku sudah bisa berdamai dengan diriku sendiri. Entah aku sudah bisa mengikhlaskan perbuatan suamiku di masa dulu atau belum, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mempermasalahkannya lagi.
__ADS_1
"Lagi ngapain?" tanya Reza yang baru kembali ke kamar.
Ting!
》 Sama-sama, Ra. Terima kasih juga atas doanya. Aamiin.
"Kayla," kataku.
"Hah?" Reza sedikit terkejut. "Kamu sudah berkontak lagi dengan Kayla?"
__ADS_1
Aku mengangguk. "Sudah dari seminggu yang lalu, dan aku sudah tahu semuanya."
"Tahu?" Dia duduk di depanku. "Tahu apa?"
"Tahu kalau kamu tidak pernah menikahi Salsya."
"Serius? Ya Tuhan... syukurlah. Aku lega, sumpah aku lega." Dia baru hendak memelukku. "Eh, tapi...."
Hmm... masih ada yang mengganjal?
__ADS_1