
Berengsek!
Seorang pemuda berdiri di ambang pintu dengan tatapan amarah, diikuti seorang wanita di belakangnya, istri siri ayahku. Suara pemuda itu melengking membuat kedua anakku tersentak kaget, mereka terbangun lalu menangis.
"Saya terlahir dengan cinta," tukasnya lantang. "Mama dan Papa saya menikah meski hanya pernikahan siri."
Aku geram. "Pergi kalian semua!" raungku. Lekas-lekas aku turun dari ranjangku dan menghampiri boks tidur Anggi. Kugendong ia dan menenangkannya dalam pelukanku. Sementara...
Kontan saja, kericuhan terjadi antara Ihsan dan pemuda songong itu. Ihsan mendorongnya keluar, sedangkan ayahku tak bergeming, di saat itulah Sandra Wijayanti menunjukkan kebolehan daya pikatnya. Dia meraih lengan ayahku dan mengajaknya keluar, menggambarkan sosok istri yang penyabar.
Penyabar? Hah! Dia tidak lebih dari seonggok *undal perebut suami orang. Dia pelakor "terhebat" yang pernah kukenal, wanita jalan* yang tak punya belas kasih saat ia merebut ayahku dari kami, dan meski ayahku menduakannya dengan Rhea Rhesmi Yunita, dia tetap tidak mau melepaskan ayahku. Hebat, bukan?
__ADS_1
"Dasar tidak tahu diri!" geram Ihsan dengan tangan masih terkepal. Dia sudah kembali masuk ke ruang rawatku dan memeluk ibuku. Menenangkannya.
Yah, dalam waktu belasan tahun, bahkan dua puluh tahun lebih, emosi ibu kami tidak pernah semeluap itu. Meski melalui hari-hari yang sulit dan menyakitkan, dia tidak pernah semarah ini. Benar, meski luka itu tidak akan pernah sembuh, tapi jika tidak ditaburi dengan garam, luka itu tidak akan merasakan perih yang berlebih.
"Oke, kita anggap tidak terjadi apa-apa," kata ibuku setelah ia mengusap air matanya hingga kering. "Ayo, seperti semula, anak-anak biar Oom dan Nenek yang gendong. Mama dan papanya lanjutkan makan. Oke? Mereka sudah menyusu, kan?"
Aku hanya mampu menganggukkan kepala melihat wanita yang kucintai itu berusaha menutupi segala perasaanya. Gelombang emosi tentang amarah dan kebencian yang menggelegak.
"Jangan bengong," tegurnya. "Kalian lanjut makan."
Hmm... kuhela napas dalam-dalam meski rasa sesaknya semakin menyakitkan. Sesaat kemudian, Reza meraihku dan mendekapku, tangisku malah pecah di dadanya. "Sudah, ya. Mending kita happy-happy. Kita makan sambil suap-suapan." Dia menghapus air mataku, lalu tersenyum. "Ayo, kita makan."
__ADS_1
Aku menggeleng. "Sudah tidak selera, Mas," tolakku. Dan itu justru menghasilkan raut frustasi di wajah suamiku.
"Sayang...," suaranya tertahan, "dengar aku, lihat itu," katanya, tatapannya ke arah ibuku. "Bunda berusaha tegar di depan kita semua, jadi kita juga harus bersikap sama. Kamu tahu, kan, kebahagiaan Bunda itu hanya dengan melihat kita semua bahagia? Jadi... membuat Bunda bahagia itu kuncinya cuma satu, kita semua harus bahagia -- maka Bunda juga akan ikut bahagia. Paham? Please, lakukan demi Bunda."
Aku tahu, tapi perih hatiku juga tidak bisa kuabaikan begitu saja. Ada sedikit rasa kasihan terhadap lelaki yang sudah menorehkan luka di hati kami. Aku tahu betapa dia ingin dekat denganku dan cucu-cucunya. Tapi kenapa dia tidak mau mengerti kalau perempuan-perempuan di sekitarnya, juga anak-anaknya dari perempuan-perempuan itu -- merupakan garam bagi luka-luka kami? Bukannya menjauhkan, dia justru sengaja membawakan garam-garam itu dan menaburkannya di atas luka kami yang menganga.
Sakit, Yah. Sakit!
Ingin rasanya aku kembali menolak kehadirannya seperti dulu. Tapi terlambat. Dia sudah terlanjur -- kembali masuk ke dalam hidupku.
Aku harus bagaimana?
__ADS_1