
Fajar datang dengan bersuara. Kau pasti mendengarnya kalau kau memasang telinga baik-baik, tepat ketika matahari mulai mengintip di langit. Bunyinya seperti kumandang kelahiran: hening, disusul dorongan lembut, diikuti oleh erangan-erangan, dan kehidupan baru pun meluncur dengan deras. Aku menyukai keramahannya, memberikan semangat tersendiri bagiku untuk memulai hari yang baru.
Pagi itu, sewaktu aku membuka mata, Reza masih terlelap dalam tidurnya dengan dengkuran halus. Tiba-tiba aku menyadari, ia terlihat lebih tampan. Tentu saja, belakangan ini begitu banyak masalah yang membenaninya, sekarang semuanya tampak telah usai. Kedamaian di wajah Reza saat ini meyakinkan pemikiranku: semuanya memang sudah usai. Dia bisa tidur dengan lelap dan terlihat sangat santai.
Tidak lama, matanya sedikit terbuka dan bibirnya langsung menyunggingkan senyum. "Pagi, Sayang," sapanya.
"Pagi, Mas."
Seolah masih ingin menikmati waktu, ia tak lekas bangun, malah mengeratkan pelukan.
"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"
"Nyenyak. Terima kasih, ya."
"Terima kasih? Untuk apa?"
"Terima kasih karena semalam kamu sudah memberiku jatah."
Haha. Dia nyengir. "Tumben?" tanyaku.
"Tidak apa-apa. Cuma... rasanya sudah lama sekali kita tidak bermesraan karena masalah-masalah kita belakangan ini."
Aku mengangguk. "Semuanya sudah berlalu, kan?"
"Ya," sahutnya. "Semuanya sudah berlalu." Satu ciuman hangat mendarat mulus di keningku.
__ADS_1
Aku beringsut, sedikit memiringkan tubuhku menghadapnya. "Aku butuh udara segar," bisikku.
"Mau ke mana?"
"Aku rasa, aku punya rencana."
"Oke. Apa pun untukmu, Nyonya."
Oh, yes. Kami mandi, berpakaian, dan melakukan semua aktifitas termasuk ikut sarapan. Dan sesuai rencanaku, aku mengajak suamiku dan adik-adikku, serta Tirta -- pergi piknik, menghibur diri sejenak.
Mula-mula kami pergi ke pasar makanan di pusat kota. Membeli berbagai macam keju, salad pasta, zaitun, dan roti-rotian. Tidak lupa juga berbagai jenis minuman ringan dengan kotak pendingin yang kami sediakan. Kami melaju ke danau Situ Gede yang menawarkan pemandangan indah dengan langitnya yang cerah.
"Nah, kalian semua senang?" tanyaku sewaktu kami duduk di atas tikar.
Mereka semua menjawabku dengan senyuman semringah, mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk berselfie ria dan membuat vlog masing-masing. Sementara aku dan Reza hanya bersantai sambil mengawasi Tirta bermain.
Tentu saja. Mereka bergerilya di dalam perutku. Mereka happy karena mamanya happy. Kami menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk menikmati pemandangan, duduk santai, sambil menikmati makanan dan minuman.
"Kamu benar-benar senang?" tanya Reza.
"Tentu saja, terasa bebas," kataku.
"Ya, beberapa hari belakangan ini sangat buruk."
"Mmm-hmm... dan sekarang, ini salah satu waktu terbaik yang pernah kudapatkan. Aku membutuhkannya. Terima kasih sudah bersedia memenuhi keinginanku."
__ADS_1
Reza tersenyum, dia merebahkan kepalaku di sisi dada kanannya lalu merangkulkan tangannya di tubuhku. "Mari memperbarui janji," katanya.
Kucoba untuk tidak mengernyit mendengar kata-katanya itu. "Memperbarui janji? Maksudnya?"
Seakan menyadari kekeliruan, dia langsung berkata, "Mengucapkannya ulang."
Meski belum mengerti sepenuhnya, aku mengangguk.
"Janji, apa pun yang terjadi, apa pun masalah yang harus kita lalui, kita akan selalu bersama."
Aku mengulangi ucapannya, "Apa pun yang terjadi, apa pun masalah yang harus kita lalui, kita akan selalu bersama."
"Aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu."
"Kita," ucapnya.
"Saling mencintai," sambungku.
"Sampai mati."
"Sampai mati."
Setelahnya, untuk beberapa saat, kami tak bergerak sama sekali. Saling menatap, merasa bahagia sepenuhnya. Hingga berikutnya waktu berjalan penuh kedamaian hingga matahari sore mulai terbenam di balik pepohonan.
__ADS_1
"Aku tidak mau ini berakhir," katanya.
Tentu saja tidak. Aku juga tidak ingin. Kalau saja waktu itu aku tidak salah mengartikan. Mungkin saja -- tidak.