Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Janji


__ADS_3

"Maafkan Nara...," isakku. "Nara salah. Selama ini Nara tidak peka dengan perasaan Bunda. Maafkan Nara karena Nara selalu membebani pikiran Bunda. Nara berdosa. Nara minta maaf."


Dia mengelus puncak kepalaku. "Bangun, Nak, tidak perlu berlutut begini. Bunda tidak perlu kamu meminta maaf. Bunda hanya ingin kamu berbaikan dengan suamimu. Harmonis lagi seperti dulu. Hanya itu."


Aku mendongak, lalu mengangguk. "Nara janji," ucapku, "Nara akan berbaikan dengan Mas Reza. Nara tidak akan ribut-ribut lagi apalagi meminta cerai. Nara janji, Bund. Janji."


"Bunda senang. Sekarang berdiri, ya, Sayang."

__ADS_1


Aku kembali mengangguk, detik berikutnya aku langsung berdiri dan kami saling berpelukan -- sambil menangis, aku menumpahkan semua penyesalanku. "Nara tadi hanya bercanda, Bund. Nara tidak masalah kok kalau Bunda ikut campur dengan masalah Nara. Mas Reza juga, pasti."


"Iya, Bund. Reza justru senang, karena itu berarti Bunda peduli pada kami," katanya. Rupa-rupanya ia menyusulku dan meminta Ihsan untuk mengawasi anak-anak kami di lantai bawah.


Ibuku mengangguk, lalu ia mengajak kami duduk di sofa, di mana aku duduk di tengah-tengah di antara mereka.


Aku mengangguk cepat, menegakkan bahu dan duduk fokus menghadapnya, memunggungi Reza yang duduk di sebelahku.

__ADS_1


"Bunda bukannya mau ikut campur," katanya memulai wejangannya. "Tapi seperti kata Reza tadi, ini bentuk kepedulian orang tua terhadap anak. Kalian tahu, dulu... Bunda itu dicap 'terikat tapi tak bertali' gara-gara ayah kalian meninggalkan tapi tak menalak. Sementara kedua orang tuanya tidak punya kepedulian terhadap rumah tangga kami. Boro-boro membawa anaknya menemui Bunda untuk memperjelas hubungan kami, mereka tidak pernah terlihat batang hidungnya sekali pun dalam beberapa bulan pertama itu. Sedangkan orang tua Bunda, nenekmu, di awal-awal kepergian ayahmu -- sebelum dia ketahuan selingkuh dengan Rhea, nenekmu bilang bahwa tidak pantas kalau dia yang membawa Bunda menemui keluarga besan sebab kami ini pihak perempuan, dan posisinya ayahmu yang pergi meninggalkan kita. Mereka -- keluarga ayahmu yang semestinya datang. Apalagi nenekmu sudah berstatus janda. Ayahnya Bunda sudah meninggal lama. Bunda juga tidak punya saudara kandung laki-laki. Rasanya itu... seperti sama sekali tidak dihargai. Memang sih, Bunda tidak berharap untuk rujuk. Tapi minimal -- temui Bunda. Sebagaimana mereka melamar dan meminta Bunda baik-baik, mestinya pulangkan juga Bunda baik-baik. Saling meminta maaf antar keluarga. Kan enak. Tapi... nothing. Bahkan kamu dan Ihsan pun diabaikan. Bunda tahu, Nak, rasanya menjadi anak-menantu yang diabaikan. Bunda tidak mau kalian merasakan hal yang sama. Makanya Bunda sepeduli ini terhadap kalian. Kegagalan itu merupakan mimpi buruk. Bunda tidak mau rumah tangga kalian gagal seperti yang Bunda alami. Bunda tidak mau. Tidak ada orang tua yang menginginkan hal ini kecuali sudah sangat terpaksa, mau tidak mau menerima. Tapi saat ini, Bunda -- masih dalam keadaan wajib menengahi. Bukannya Bunda mau kepo apalagi merecoki. Tidak sama sekali."


Tersindir, tapi nyatanya aku memang salah. "Nara paham, Bunda. Nara akan berusaha untuk tidak membuat Bunda khawatir lagi. Terima kasih karena Bunda peduli pada kami. Nara janji, kami akan berusaha mempertahankan rumah tangga kami. Ya kan, Mas?"


"Ya," sahut Reza. "Bunda tidak perlu khawatir. Reza janji, Reza akan selalu bertahan dan mempertahankan Nara. Walaupun Nara keras kepala, keras hati, pokoknya Reza tetap akan bertahan mendampingin Nara." Dia memasang senyum manis. Tapi tetap menyebalkan karena menyebutku keras kepala dan keras hati. Euw!


Dan sayangnya, itu tak lantas membuat ibuku langsung tenang. Masih ada beban di dalam benaknya. Aku tahu itu.

__ADS_1


__ADS_2