Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3

Hot Couple: Cerita Cinta Inara Season 3
Happy 30 Tahun


__ADS_3

Setelah sesi saling sindir itu dibubarkan ibuku dan ia menyuruhku ke kamar, aku pun lekas-lekas angkat kaki dari ruang makan. Kebetulan saat itu bayiku, Angga, ia menangis lapar dan aku pun langsung menyusuinya sebelum tangisnya itu membangunkan sang adik. Susah, tahu, kalau mesti menyusui keduanya bersamaan kalau tidak ada yang bantu menahan posisi salah satunya. Lebih baik menyusui mereka bergiliran meski durasi waktunya pasti lebih lama dan seringkali membuatku mengantuk -- persis malam itu.


"Sayang...," panggil Reza seiring ketukannya di pintu. "Sudah hampir jam sembilan. Kamu belum tidur, kan?"


Ya ampun... aku ngantuk. "Sebentar," sahutku sambil berdiri dan berjalan ke pintu.


"Kamu ngantuk?" tanyanya begitu melihatku membuka pintu sambil menutup mulut karena menguap lebar.


Kuanggukkan kepala dan menyandar ke kusen pintu. "Em," gumamku, "aku Ketiduran."


"Ya sudah, kamu tidur saja lagi, ya," kata Reza dengan sedikit rasa kecewa yang tersirat jelas di kedua mata hitamnya yang kelam.


Hmm... kasihan, mana tega aku memupus harapannya. Aku sendiri yang sudah menjanjikannya untuk merayakan ulang tahunnya bersamaku. "Tidak apa-apa," kataku. "Kita rayakan dulu ulang tahunmu."


"Serius?"


"Em, ayo. Eh, kuenya mana?"


"Sudah kutaruh di atas."


"Di atas?"


"Yap, di roof top."


"Hah? Kamu mau mengajakku ke roof top?"


"Em, tidak apa-apa kalau tidak mau."

__ADS_1


Iiih... jurus ngambek, kali ini pasti sengaja mau membuatku merasa tidak enak. "Sebentar," kataku, "aku mau mencari Bunda dulu mau titip anak-anak. Kamu duluan saja."


Dan... untung saja ibuku itu sosok nenek siaga. Ia bersedia tidur di kamarku untuk menunggui cucu-cucunya, sementara aku berduaan dengan menantu kesayangannya.


Di atas sana, Reza membuatku sedikit tercengang. Dia sudah menyiapkan dua potong selimut tebal dan menaruhnya di bean bag untuk kami masing-masing.


"Kamu mau kita tidur di sini?"


"Bukan... sekadar mengobrol santai."


"Terus, selimut itu?"


"Kan di atas sini dingin."


"Ya kalau begitu jangan--"


"Ssst...," desisnya. "Sepasang kelinci yang meringkuk di bawah taburan bintang..."


"Tidak apa-apa, dan tidak mesti membahas apa-apa. Asal ada kamu di sini, itu sudah cukup untukku. Aku senang bisa bersamamu, Sayang."


Tapi itu tidak cukup untukku, Mas. Aku kangen....


"Emm... oh ya, aku tidak usah tiup lilin, biar kita bisa makan kuenya bersama. Kamu takut terkontaminasi virus, kan?"


Huffft... kupaksakan bibirku tersenyum. "Ya maaf, demi anak-anak kita juga, kan?"


"Makan dari bekas gigitanmu boleh, kan?"

__ADS_1


"Eh? Kenapa... begitu?"


"Nothing," sahutnya. "Tidak bisa menciummu, makan dari bekas gigitanmu itu juga sudah cukup untukku."


"Ya ampun...," kugelengkan kepalaku beberapa kali. "Kamu sehat, Mas? Waras? Gombalnya kok nggak ketulungan...."


Dia tidak menyahut, hanya langsung memintaku memotongkan kue untuknya. Jadi... baiklah, kupotongkan kuenya agak besar dan menaruh lilin di potongan kue itu, lalu menyuruhnya meniup lilin. "Make a wish dulu."


"Aku ingin selalu bersama keluargaku, Tuhan. Jagakanlah dan utuhkanlah selalu keluarga kami. Please... tolong bantu aku."


Aamiin... kamu membuat hatiku serasa dicubit, tahu!


"Yang ini sudah terkontaminasi napasku," gumamnya. "Jadi kamu mesti potong lagi, untukmu, kamu makan, dan sisanya suapi aku. Ya? Aku mohon kamu bersedia."


Kasihan, dia berceloteh panjang dengan suaranya yang mulai serak.


"Please... aku mohon, Mas, malam ini jangan ada air mata. Aku mau malam ini kamu happy. Selamat ulang tahun ke-tiga puluh. Dan semoga tahun-tahun selanjutnya kita selalu bisa merayakannya bersama. Aamiin. Nara sayang Mas Reza."


Oh Tuhan... ingin sekali aku memeluknya. Dan berharap empat belas hari itu cepat berlalu.


"Oke, oke. Tidak ada air mata." Dia pun langsung mengusap bulir mening dari sudut matanya. "Nah... sekarang potong kuenya. Suapi aku."


Ah, manjanya dia. "Okoleh, asal kamu jangan memintaku untuk menari, ya. Jangan minta kado, dan jangan minta mesra-mesraan."


"Tapi setiap tanggal satu boleh, kan? Demi Tuhan, aku memegang teguh janji pernikahan kita. Dan kamu mesti memegang teguh janjimu juga."


Fix, aku bingung. Apa dia tidak mengerti kalau aku tidak menginginkan adanya nafkah batin di antara kami selama dia belum mendapatkan bukti itu?

__ADS_1


"Aku cuma minta kita bersama. Aku tidak akan menyentuhmu."


Tapi aku takut tidak tahan dan malah aku yang menyentuhmu. Bagaimana?


__ADS_2