
Demi menghindari keributan, Mayra bersedia mengalah dan kami lekas pergi dari sana. Tidak jauh-jauh, kami hanya menyepi di kantin rumah sakit. Kusuruh para bodyguard itu untuk duduk sembari minum kopi. Kasihan mereka sedari tadi belum menghangatkan badan, bahkan pakaian mereka masih lembab, hampir kering di tubuh masing-masing.
"May... maaf, ya. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Dalam keadaan seperti ini, aku sama sekali tidak bisa menjadi penghibur yang baik."
Mayra mengangguk. "Aku paham, Ra. Kamu ada di sini saja, aku sudah bersyukur." Dia berdeham dengan pelan. "Maaf, ya, soal tadi. Ibunya Mas Alfi...."
"Tidak apa-apa, aku ngerti. Bukan salahmu, kok. Hanya saja... emm... jujur, aku tidak suka kalau kamu diam saja tanpa perlawanan, tidak coba membela diri sedikit pun. Harusnya...."
Mayra tersenyum samar, hambar. "Dia ibunya Mas Alfi, artinya ibuku juga. Iya, kan?"
Aku hanya mengedikkan bahu. Kamu terlalu baik, May.
"Aku sudah terbiasa, Ra. Tidak mungkin aku melawan, aku tidak mau Mas Alfi kecewa padaku."
Huh... desaha* lolos dari bibirku. "Baiklah, aku tidak bisa berkomentar apa-apa lagi kalau begitu. Itu pilihanmu."
"Yah, sekarang kamu sudah tahu semuanya, kan? Kehidupanku yang aslinya seperti ini. Sangat tidak sempurna."
Aku tidak bisa menjawab. Perasaanku sudah terwakilkan oleh tetesan air mata. "Aku sedih, May. Andai bisa protes, atau kalau bisa memaksa Tuhan, aku ingin Dia membuatmu bahagia. Ini...," suaraku tercekat. "Ini tidak adil untukmu."
"Sudahlah, tidak usah dibahas. Seperti ini adanya, tidak bisa dirubah ataupun dipaksakan. Aku terima."
__ADS_1
Hening. Kami diam sejenak.
"Ra," katanya kemudian. "Boleh aku meminta bantuanmu?"
Kuanggukkan kepalaku. "Tentu boleh. Apa?"
Mayra menggenggam tanganku dan berkata, "Aku akan berjaga di sini. Bisa aku menitipkan Tirta ke kamu? Kumohon?"
"Ya," kataku mengangguk.
"Terima kasih." Dia menangis sesenggukan.
"Sudah, jangan menangis."
"Tidak apa-apa, May."
"Maaf, Ra. Kami tidak punya siapa-siapa."
"Ssst... ada aku, ada Mas Reza. Kamu tidak sendiri."
Mayra berusaha menghapus air matanya. "Yeah, aku bersyukur, Tuhan membawa sosok saudari sepertimu untukku melalui Reza. Kamu tahu, kan, aku saja tidak pernah dianggap. Apalagi...," -- ia menggeleng --"Tirta bukan cucu mereka."
__ADS_1
Perih... walaupun ini bukan kisahku, tapi aku juga merasakan sakitnya. Aku mengangguk. "Sudah, ya. Aku ngerti. Emm... boleh aku bertanya satu hal lagi?"
Mayra mengangguk. "Tentu. Memangnya kamu mau tanya apa?"
Aku berdeham. "Hari ini kan lebaran ke tujuh. Mas Alfi harusnya bersamamu, kan?"
Mayra tertegun, lalu sejenak kemudian ia mengangguk. "Yeah," katanya. "Harusnya dia bersamaku."
"Lalu? Kenapa dia...?"
Mayra menggeleng. "Sudah biasa. Aku juga pernah, kan? Waktu kalian liburan di Bali, Mas Alfi berhari-hari bersamaku. Sewaktu kami ikut ke Palembang, ke acara pernikahan kalian...."
"Itu berbeda, May...."
Mayra tersenyum. Bukan, dia tertawa kecil -- tepatnya menertawai dirinya sendiri. "Sesayang-sayangnya suami pada istrinya, dia akan lebih sayang pada anak-anaknya. Anak kandung, mereka menempati posisi teratas dari segalanya. Mas Alfi tidak akan tahan kalau anak-anaknya sudah merengek memintanya datang atau sekadar minta jalan-jalan. Anak-anak akan selalu menjadi prioritas utamanya."
Aku mengangguk karena paham. Yap, AKU PAHAM. Sungguh, aku paham. "Itu terdengar bagus. Tapi sayangnya tidak selalu begitu. Kalau semua ayah seperti itu, aku dan Ihsan tidak akan kehilangan ayahku."
Ya Tuhan... tanpa kusadari, aku menggumam sendiri.
"Aduh, maaf, Ra. Aku tidak bermaksud...."
__ADS_1
Aku tersenyum. "Tidak apa-apa. Tidak usah dibahas lagi."
Masa lalu, biarlah masa lalu. Jangan....